Penulis: Dwi Arifin
(Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Kecamatan Katapang Kabupaten Bandung)
Majalah Jaya Baya sebagai majalah berbahasa Jawa yang masih eksis hingga saat ini dapat menjadi penyambung, khususnya warga asli Jawa yang ada di Perantauan. Supaya sebagai penutur bahasa Jawa tetap tumbuh di manapun berada atau lebih dikenal dengan pepatah “orang Jawa jangan sampai hilang Jawanya” (minimal bahasa yang telah dipahami dan digunakan setiap hari di tempat kelahirannya atau sebagai ciri khas daerahnya tidak hilang).
Sedangkan Majalah Risalah NU terbitan Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdatul Ulama dapat menjadi penyambung sanad keilmuan bagi para jamiyah, jamaah, kultural hingga struktural Nahdlatul Ulama yang ada di daerah lain.
Ke dua Majalah atau media cetak tersebut, memiliki hubungan erat yang tidak dapat dipisahkan. Sebab Nahdlatul Ulama sebagai organisasi Islam terbesar bersumber atau didirikan oleh orang Jawa, khususnya yang ada di pulau Jawa bagian Timur dan sekarang menyebar ke berbagai daerah di Indonesia dari Sabang sampai Meruake, bahkan ke negara-negara lain. Maka agar sanad keilmuan tidak terputus melalui Majalah Risalah NU dapat menjadi penghubung ke semua orang-orang yang ingin mendalami atau mengikuti Nahdlatul Ulama. Mengikuti ajaran Nabi Muhammad dengan berpegang teguh kepada ulama yang ada di Indonesia.
Sebagai mana pepatah yang masyur di dalam ilmu thariqah dan ilmu hakikat:
Laula Murobbi Lamma arofna robbi, wa laulal ulama lamma arofnal ambiya
“Umpama tidak ada yang mendidikku tentu kita tidak tahu Tuhanku itu siapa, dan umpama tidak ada ulama tentu kita tidak tahu para Nabi”
Majalah Risalah NU juga dapat menjadi solusi, apabila kita sibuk dengan berbagai aktifitas, tidak sempat mengaji langsung bersama Nahdlatul Ulama. Maka Majalah Risalah NU dapat menjadi alternatif atau solusi untuk menjadi sumber tambahan ilmu keagamaan. Sebab Majalah tersebut sudah merangkum dari berbagai kajian Nahdlatul Ulama dan memakai bahasa yang mudah dipahami oleh berbagai pihak atau lapisan masyarakat. Sehingga dapat dengan mudah dikonsumsi atau menjadi rujukan pembacanya.
Sedangkan Majalah Jaya Baya dapat menjadi pendukung atau referensi tambahan untuk lebih memahami ajaran Nahdlatul Ulama. Karena dalam isi dakwahnya Nahdlatul Ulama, kadang menyisipkan atau didominasi dengan bahasa Jawa. Khusus warga Sunda tidak perlu khawatir atau kesulitan memahami bahasa Jawa, sebab bahasa krama inggil dalam bahasa Jawa, banyak yang mirip dengan bahasa Sunda Halus. Ke dua bahasa tersebut, dahulu sering menjadi pembeda dalam berkomunikasi keseharian antara rakyat biasa di masyarakat dan bahasa komunikasi di lingkungan kerajaan. Serta menjadi pembeda antara kelompok orang yang berilmu atau tokoh masyarakat dengan rakyatnya.








Komentar
28 komentar