Oleh: Heni Ruslaeni (Aktivis Muslimah)
Ada pemandangan yang selalu berulang setiap Rabiulawal. Masjid dan majelis taklim ramai. Selawat menggema dari berbagai penjuru. Kisah Rasulullah SAW kembali dibacakan. Spanduk peringatan Maulid terpasang. Umat berkumpul dalam suasana penuh kecintaan kepada manusia pilihan Allah SWT. Tahun ini, suasana tersebut kembali hadir dalam skala nasional. Kementerian Agama menggelar rangkaian Blissful Mawlid 1448 H dengan salah satu agenda utamanya, Gema Selawat Kebangsaan. Targetnya bukan angka kecil 1.781.945 peserta dari berbagai penjuru Indonesia. Angka tersebut bahkan dipilih sebagai simbol yang terinspirasi dari tanggal kemerdekaan Indonesia, 17 Agustus 1945. Tentu, memperbanyak selawat dan menumbuhkan kecintaan kepada Rasulullah SAW merupakan amal yang mulia.
Namun, justru ketika selawat menggema begitu luas, ada satu pertanyaan yang layak kita renungkan, setelah selawat dilantunkan, apa yang berubah dalam kehidupan umat? Sebab, mencintai Rasulullah SAW bukan hanya mengingat nama beliau. Bukan pula sekadar menangis ketika mendengar kisah perjuangannya. Cinta kepada Rasulullah SAW memiliki konsekuensi mengikuti risalah yang beliau bawa. Ukuran cinta bukan hanya apa yang keluar dari lisan, tetapi juga apa yang lahir dalam sikap dan kehidupan. Di tengah gema selawat, masih ada keluarga yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Ada orang tua yang pusing memikirkan biaya pendidikan anak. Ada masyarakat yang harus berjuang menghadapi mahalnya kebutuhan hidup. Ketimpangan ekonomi masih menjadi persoalan. Berbagai problem sosial dan kerusakan moral juga belum selesai.
Selawat semestinya melahirkan kesadaran. Kesadaran bahwa umat Islam tidak hanya membutuhkan ketenangan hati, tetapi juga membutuhkan perubahan kehidupan yang nyata. Sebab, untuk apa kita begitu mencintai Rasulullah SAW jika perjuangan beliau hanya berhenti sebagai cerita yang kita dengarkan setahun sekali? Rasulullah SAW tidak datang ke tengah masyarakat jahiliah hanya untuk mengajarkan beberapa nasihat moral. Beliau membawa wahyu Allah SWT. Beliau membina manusia dengan akidah Islam, membentuk kepribadian umat, menghadapi berbagai pemikiran yang menyimpang, membangun masyarakat, dan mengatur kehidupan berdasarkan Islam.
Di sinilah Maulid seharusnya menjadi pintu untuk melihat Rasulullah SAW secara lebih utuh. Bukan hanya sebagai sosok yang kita cintai, tetapi sebagai Rasul yang risalahnya wajib kita ikuti. Ketika korupsi terjadi, sering kali solusinya hanya berbicara tentang moral individu, kemiskinan masyarakat didorong untuk meningkatkan keterampilan dan bekerja lebih keras. Ketika generasi muda mengalami berbagai persoalan moral, keluarga diminta memperkuat pendidikan agama. Semua itu memang diperlukan.
Sistem kehidupan hari ini bertumpu pada sekularisme dan kapitalisme. Sekularisme memisahkan agama dari pengaturan kehidupan publik, sedangkan kapitalisme menjadikan kepentingan materi dan keuntungan sebagai salah satu motor utama dalam pengelolaan ekonomi dan kehidupan. Akibatnya, agama sering ditempatkan pada wilayah ritual dan moral personal, sementara pengaturan ekonomi, politik, hukum, dan kehidupan masyarakat diserahkan kepada aturan buatan manusia.
Islam tidak hanya berbicara tentang ibadah, tetapi juga memiliki aturan tentang keluarga, pendidikan, ekonomi, hukum, kehidupan sosial, hingga pemerintahan. Karena itu, ketika kehidupan umat terus menghadapi persoalan, tidak cukup hanya bertanya, “Siapa orang yang salah”? tetapi memiliki kepedulian terhadap kondisi masyarakat. Dakwah kemudian berinteraksi dengan masyarakat. Pemikiran jahiliah dikritik. Praktik kehidupan yang bertentangan dengan Islam diluruskan. Umat diajak memahami Islam sebagai risalah yang harus menjadi pedoman kehidupan. Perjalanan tersebut kemudian berlanjut hingga Rasulullah SAW memperoleh kekuasaan di Madinah dan membangun masyarakat yang diatur dengan Islam.
Dengan demikian, perubahan yang dilakukan Rasulullah SAW bukan perubahan yang lahir dari slogan semata. Ada pembinaan individu, perubahan pemikiran, interaksi dengan masyarakat. Dan ada pengaturan kehidupan berdasarkan wahyu Allah SWT. Inilah bagian dari sirah yang sering kali luput ketika kita berbicara tentang keteladanan Rasulullah SAW. Kita rajin membicarakan kelembutan beliau, tetapi jarang membahas ketegasan beliau dalam menyampaikan kebenaran. Kita mengagumi kasih sayang beliau, tetapi terkadang lupa bahwa beliau juga menghadapi pemikiran dan sistem jahiliah dengan dakwah yang tegas. Kita mengenang perjuangan beliau, tetapi tidak selalu bertanya bagaimana perjuangan itu dilakukan. Padahal, di situlah terdapat pelajaran perubahan bagi umat.
Karena itu, persoalan kita bukan memilih antara selawat atau perubahan. Bukan pula memilih antara ibadah dan perjuangan. Keduanya tidak perlu dipertentangkan. Justru kecintaan kepada Rasulullah SAW seharusnya mendorong seorang Muslim untuk semakin taat kepada Allah SWT dan semakin serius mempelajari Islam. Kecintaan mendorong kita mengenal Rasulullah SAW membawa kita mempelajari risalahnya dalam memahami Islam secara utuh supaya mendorong kita berusaha menjalankan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Allah SWT berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah kamu ke dalam Islam secara keseluruhan…”
(QS. Al-Baqarah: 208)
Maka, persoalan umat tidak cukup diselesaikan dengan mengubah perilaku sebagian individu, sementara aturan kehidupan yang melingkupinya tetap sama. Perubahan mendasar membutuhkan perubahan cara pandang. Dari cara pandang yang memisahkan agama dari kehidupan menuju cara pandang yang menjadikan wahyu Allah sebagai pedoman. Dari orientasi material semata menuju kehidupan yang menjadikan halal dan haram sebagai standar. Dari kepentingan pribadi menuju kemaslahatan umat.
Islam kaffah bukan sekadar ungkapan yang indah. Ia menuntut kesediaan untuk mempelajari bagaimana Islam mengatur kehidupan secara menyeluruh. Dalam Islam, Khilafah dipahami sebagai institusi kepemimpinan umum bagi umat Islam yang bertugas menerapkan syariat dan mengurus kemaslahatan rakyat. Semua harus dikaji dengan ilmu, dalil syariat, pemahaman terhadap fikih siyasah, serta kajian sejarah yang bertanggung jawab. Perjuangan menuju perubahan tidak boleh dilakukan dengan kekerasan atau tindakan yang membahayakan orang lain.
Jalan dakwah harus ditempuh dengan ilmu, kesadaran, yang sesuai dengan tuntunan Islam. Sebab, Rasulullah SAW sendiri menunjukkan bahwa perubahan membutuhkan proses pembinaan dan kesadaran umat. Maka, jika hari ini kita mengaku mencintai Rasulullah saw, sudah selayaknya kita bertanya, sudahkah kita mengenal risalah yang beliau bawa? Dan memahami cara bagaimana beliau mengubah masyarakat? Sudahkah kita berusaha menjadikan Islam sebagai pedoman dalam kehidupan?
Ketika panggung dibongkar dan pengeras suara dimatikan, semestinya ada sesuatu yang tetap hidup dalam diri kita kesadaran untuk mengikuti Rasulullah SAW. Jika selama Rabiulawal kita memperbanyak selawat, mari lanjutkan dengan memperbanyak belajar. Jika kita mengaku mencintai Rasulullah SAW, mari buktikan dengan ketaatan, kagum dengan perjuangan beliau, mari pelajari bagaimana beliau membangun perubahan. Dan jika kita prihatin melihat kondisi umat, cari solusi berdasarkan Islam, dengan ilmu dan kesungguhan. Sebab, Rasulullah SAW bukan hanya tokoh yang dikenang setiap Rabiulawal. Beliau adalah utusan Allah SWT yang membawa risalah untuk seluruh manusia. Allah SWT berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk menjadi rahmat bagi seluruh alam.”(QS. Al-Anbiya: 107)
Biarkan kecintaan kepada Rasulullah SAW tumbuh menjadi ketaatan yang melahirkan kesadaran, sirah beliau menjadi pelajaran, dan risalah Islam menjadi jalan yang terus kita pelajari dan perjuangkan dengan cara yang benar. Karena mencintai Rasulullah SAW bukan hanya tentang menyebut namanya dengan penuh haru. Cinta itu harus membuat kita mau mengikuti jalannya, memahami risalahnya, dan berusaha menghadirkan ajaran Islam dalam kehidupan. Jangan hanya merayakan maulid tetapi jadikan maulid sebagai momentum untuk kembali kepada risalah Rasulullah SAW. Wallahu a’lam bish-shawab.








Komentar