oleh

Wisuda Unla ke-49, Irjen Pol. (P) Dr. Drs. A. Kamil Razak, S.H., M.H., Ungkapkan Hanya Bermodal Ijazah, Hidupmu Takkan Cukup

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)–, Universitas Langlangbuana (Unla) menegaskan komitmennya menghadapi perubahan dunia pendidikan tinggi dan pasar kerja yang semakin kompetitif. Di tengah percepatan teknologi, kecerdasan buatan (AI), transformasi digital, hingga persaingan global, perguruan tinggi dituntut tidak sekadar mencetak lulusan bergelar, tetapi juga memiliki kompetensi dan mampu memberikan solusi bagi persoalan masyarakat.

Pesan tersebut disampaikan Rektor Universitas Langlangbuana, Irjen Pol. (P) Dr. Drs. A. Kamil Razak, S.H., M.H., dalam sambutan pada Sidang Terbuka Senat dalam rangka Wisuda Unla ke-49 Gelombang II Tahun Akademik 2025/2026 di Bandung Convention Centre (BCC), Jl. Soekarno-Hatta No.354, Kota Bandung, Rabu 26 Agustus 2026.

Dalam wisuda tersebut, Unla mewisuda 596 lulusan, tberdiri atas 502 lulusan Program Sarjana (S1): Fakultas Hukum: 92 orang, Fakultas Ekonomi & Bisnis: 152 orang, FISIP: 119 orang, FKIP: 66 orang, Fakultas Teknik: 73 orang, dan 94 lulusan Program Magister (S2).

Rektor Unla Kamil Razak mengatakan, perubahan lingkungan pendidikan tinggi berlangsung semakin cepat. Perguruan tinggi kini harus berhadapan dengan persaingan yang semakin ketat, sementara masyarakat semakin kritis dalam menentukan pilihan kampus.
“Perkembangan teknologi, kecerdasan buatan, transformasi digital, perubahan karakter dunia kerja, serta semakin terbukanya kompetisi global menuntut lulusan perguruan tinggi tidak hanya memiliki penguasaan ilmu pengetahuan,” kata Kamil.

Menurut dia, lulusan juga harus mempunyai kemampuan beradaptasi, berkolaborasi, berpikir kritis, menciptakan inovasi, serta menghadirkan solusi atas persoalan nyata di tengah masyarakat.

Tak Puas Hanya dengan Akreditasi Unggul

Kamil menyebut perubahan tersebut menjadi momentum bagi Unla untuk melakukan pembenahan dan mempercepat transformasi kelembagaan. Sejumlah program studi Unla, menurut Kamil, telah meraih predikat Akreditasi Unggul, di antaranya Program Studi Hukum, Ilmu Kesejahteraan Sosial, Ilmu Pemerintahan, Akuntansi, dan Ilmu Komunikasi. Namun, capaian akreditasi tersebut tidak ingin dijadikan sebagai garis akhir. “Akreditasi Unggul bukanlah tujuan akhir. Akreditasi harus menjadi bagian dari budaya mutu,” tegasnya.

Menurut Kamil, budaya mutu harus tercermin dalam seluruh proses penyelenggaraan pendidikan, mulai dari pembelajaran, penelitian, pelayanan mahasiswa, tata kelola, kompetensi dosen dan tenaga kependidikan, hingga kualitas lulusan. Selain itu, Kamil menilai perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi tempat transfer ilmu pengetahuan dari dosen kepada mahasiswa. Kampus harus menjadi ruang yang mampu melahirkan pengetahuan baru, penelitian berkualitas, inovasi, gagasan, dan solusi bagi berbagai persoalan masyarakat.
“Universitas harus mampu menjadi ruang lahirnya ilmu pengetahuan baru, penelitian yang bermutu, inovasi, gagasan, dan solusi terhadap berbagai persoalan yang dihadapi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujarnya.

Karena itu, Unla terus mendorong dosen dan mahasiswa untuk meningkatkan aktivitas penelitian, publikasi ilmiah, inovasi, serta karya akademik yang memberikan dampak nyata.

Penguatan pengabdian kepada masyarakat juga menjadi bagian dari agenda tersebut. Pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat diarahkan agar tidak berjalan sendiri-sendiri, melainkan saling memperkuat sebagai bagian dari pelaksanaan Tridharma Perguruan Tinggi.
Transformasi kelembagaan juga diarahkan pada pengembangan sarana pendidikan. Unla merencanakan pembangunan Kampus II di kawasan Cimekar, yang diproyeksikan terutama untuk pengembangan program studi di lingkungan Fakultas Teknik serta Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan.
“Kami berharap kehadiran Kampus II nantinya tidak sekadar menambah bangunan fisik, tetapi benar-benar menciptakan ekosistem akademik baru yang nyaman bagi mahasiswa, dosen, dan tenaga kependidikan dalam melaksanakan proses pendidikan dan pembelajaran,” katanya.

Bukan Sekadar Ijazah, Lulusan Dituntut Punya Kompetensi

Di tengah tuntutan dunia kerja yang semakin dinamis, Unla juga memperkuat kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).
Kurikulum tersebut dirancang dengan orientasi pada capaian pembelajaran dan kompetensi lulusan. Dalam penyusunannya Unla melibatkan pengguna lulusan, alumni, dunia usaha, dunia industri, dunia kerja, asosiasi profesi, serta pemangku kepentingan lainnya.
Kamil menegaskan, orientasi pendidikan Unla tidak lagi cukup, jika hanya menghasilkan lulusan yang memiliki ijazah.
“Kami ingin lulusan Universitas Langlangbuana tidak hanya mengatakan, ‘Saya memiliki ijazah,’ tetapi juga mampu menunjukkan, ‘Saya memiliki kompetensi,’” ujarnya.

Untuk memperkuat daya saing tersebut, Unla juga mendorong lulusan memperoleh sertifikat kompetensi melalui Lembaga Sertifikasi Profesi Pihak Pertama (LSP-P1) Unla, sesuai bidang ilmu, keterampilan, dan kompetensi masing-masing. Sertifikasi tersebut diharapkan menjadi nilai tambah ketika lulusan memasuki dunia kerja sekaligus memberikan pengakuan bahwa kompetensi mereka telah diuji berdasarkan standar yang berlaku.

Kamil juga menuturkan, guna menjembatani kompetensi akademik dengan kebutuhan nyata dunia kerja, Universitas Langlangbuana (Unla) memperluas kemitraan strategis nasional maupun internasional bersama pemerintah, perguruan tinggi, hingga dunia usaha dan industri (DUDI). Melalui riset bersama, pertukaran akademis, serta kesempatan magang bagi mahasiswa, kolaborasi ini menjadi langkah nyata Unla dalam memperkuat pengalaman profesional dan kesiapan para lulusannya.

Di hadapan ratusan wisudawan, Kamil mengingatkan bahwa wisuda bukanlah titik akhir pendidikan. Gelar akademik yang diperoleh harus diterjemahkan menjadi karya, integritas, profesionalisme, dan pengabdian.
“Wisuda bukanlah akhir dari perjalanan. Justru hari ini merupakan awal dari tanggung jawab yang jauh lebih besar,” katanya.
Ia meminta para alumni menjaga nama baik almamater melalui sikap, karya, prestasi, dan pengabdian.
“Bawalah ilmu menjadi karya. Jadikan kompetensi sebagai jalan pengabdian. Jadikan karakter sebagai fondasi kehidupan. Dan jadikan setiap keberhasilan sebagai kesempatan untuk memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat, bangsa, dan negara,” ujar Kamil.

Dengan agenda penguatan mutu, transformasi menuju Research University, pengembangan Kampus II, kurikulum berbasis OBE, sertifikasi kompetensi, serta perluasan kemitraan, Unla menempatkan daya saing lulusan sebagai salah satu fokus utama pengembangan institusi.

Sementara itu, Ketua Pembina Yayasan Pendidikan Tribakti Langlangbuana (YPTBL), Komjen Pol (Purn) Drs. H. Nana S. Permana, mengungkapkan pentingnya integritas bagi para lulusan perguruan tinggi dalam menghadapi persaingan dunia kerja yang semakin ketat. Ia mengingatkan bahwa kecerdasan akademik semata tidak akan berdaya tanpa ditopang oleh karakter yang kuat dan kejujuran.

Menurutnya, bangsa Indonesia saat ini sangat membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya unggul secara kuantitas, melainkan juga memiliki kualitas moral yang mumpuni.
“Dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat akan menguji bukan hanya seberapa tinggi nilai akademik yang Saudara miliki, tetapi juga seberapa kuat karakter, integritas, dan kemampuan Saudara dalam menghadapi perubahan zaman. Kepintaran tanpa integritas akan kehilangan makna, sedangkan integritas yang dipadukan dengan kompetensi akan melahirkan pemimpin yang dipercaya, profesional yang dihormati, dan warga negara yang mampu memberi manfaat bagi bangsa,” tegas Nana S. Permana saat menyampaikan sambutan pada Wisuda Unla.

Lebih lanjut, Nana berpesan agar para alumni Unla tidak tergoda menghalalkan segala cara demi meraih kesuksesan instan, melainkan gigih berjuang dan sabar meniti karier melalui proses yang konsisten.

Dalam kesempatan itu, Unla memberikan penghargaan kepada lulusan terbaik ber-IPK tertinggi di setiap fakultas. Lulusan terbaik berpredikat Dengan Pujian dipimpin oleh Sofia Nazmatul Alqibtiah dari Program Studi Pendidikan Ekonomi, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, yang berhasil meraih IPK sempurna 4,00, disusul Rahmayanti (Prodi Ilmu Pemerintahan, FISIP) dengan IPK 3,99, serta Basana Fanuel Simanjuntak (Ilmu Hukum, FH) yang membukukan IPK 3,97.

Capaian gemilang ini juga diraih oleh Yesa Selfia dari Prodi Akuntansi, Fakultas Ekonomi dan Bisnis dengan IPK 3,92, serta Winda Nur Septya (Prodi Teknik Industri, FT) yang mengantongi IPK 3,87. Sementara itu pada Jenjang Studi Magister, Boyke Darmajaya sukses mengukir prestasi dengan IPK sempurna 4,00 berpredikat Dengan Pujian dari Program Studi S2 Ilmu Hukum.

Kepala LLDIKTI IV: Teknologi Pisau Bermata Dua, Lulusan Harus Jadi Inovator AI-Collaborator

Kepala LLDIKTI Wilayah IV Jawa Barat dan Banten, Dr. Lukman, S.T., M.Hum., dalam sambutannya menegaskan pada 596 wisudawan Unla bahwa pesatnya perkembangan teknologi dan AI bagaikan pisau bermata dua di era Revolusi Industri 4.0. Ia menekankan urgensi kesiapan mental serta penguasaan keterampilan esensial agar generasi muda mampu merespons disrupsi digital menuju Indonesia Emas 2045.

Menghadapi era Society 5.0, Lukman menuturkan lulusan perguruan tinggi tidak boleh tergantikan oleh mesin, melainkan wajib bertransformasi menjadi AI-Collaborator. “Kemajuan teknologi bagaikan pisau bermata dua. Bukan digantikan, tapi diberdayakan. Jadilah lulusan yang J.A.G.O: Jejaring, Adaptif, Gesit, serta Orisinal dan Otentik,” ujarnya seraya mengingatkan bahwa pemrosesan algoritma tetap membutuhkan sentuhan empati, etika, dan kreativitas manusia.

Ia juga mendorong lahirnya Entrepreneur 5.0 yang bertumpu pada data-driven mindset, kemampuan complex problem solving, dan kecerdasan emosional untuk bersaing di tingkat global. Melalui pendekatan agile mindset, para alumni diminta tidak takut berinisiatif, menjadikan kegagalan sebagai bahan evaluasi, serta terus berfokus mencari peluang di tengah ketidakpastian.
Sebagai bekal utama di dunia kerja, Lukman menitipkan filosofi Agile Integrity sebagai kompas moral yang mendasari setiap langkah lulusan. “Majulah tanpa menyingkirkan, naiklah tanpa menjatuhkan, jadilah benar tanpa menyalahkan, dan jadilah baik tanpa menjelekkan. Keberhasilanmu karena kerja keras dan doa orang tua serta bimbingan dosen dan guru,” katanya.

Acara Sidang Terbuka Senat Unla ini dihadiri oleh wisudawan beserta keluarga, Ketua LLDIKTI Wilayah IV, Perwakilan Pemprov Jabar dan perwakilan pimpinan daerah, perwakilan Polda Jawa Barat, Kodam III Siliwangi, para pejabat TNI dan Polri atau yang mewakili, Pimpinan Perguruan Tinggi mitra, jajaran perwakilan mitra DUDIKA, pengurus Yayasan Pendidikan Tri Bhakti Langlangbuana, Guru Besar dan Anggota Senat Unla, pejabat struktural di lingkungan Unla, dosen dan tendik, Pimpinan dan Pengurus Ikawula, Pengurus IKA Unla, pengurus BEM/DPM Unla, dan tamu kehormatan Unla.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *