(Koran SINAR PAGI)-, Sebuah perjalanan spiritual yang sarat makna resmi dimulai pada Rabu (26/8/2026) pukul 01.00 WIB dini hari. Dari Lapangan Upakarti, Kompleks Pemerintah Kabupaten Bandung, berangkatlah sekitar 250 utusan yang membawa harapan dan doa dari segenap masyarakat Kabupaten Bandung. Rombongan ini akan menelusuri jejak para Wali dan Ulama di Jawa Barat hingga Jawa Tengah sebuah perjalanan bukan hanya melintasi jarak, melainkan kembali menyentuh akar spiritual yang telah menghidupkan iman di negeri ini sejak ratusan tahun silam.
Prosesi pelepasan khidmat berlangsung di Masjid Al-Fathu, Soreang, dan dipimpin langsung oleh Bupati Bandung, Dadang Supriatna. Di sini langkah-langkah untuk mengubah, bukan hanya sebagai perwakilan daerah, melainkan sebagai anak-anak yang pulang menelusuri jejak luhur para pendahulu. Perjalanan ini menjadi bukti bahwa pembangunan daerah tidak hanya tumbuh dari beton dan aspal, melainkan dihilangkan dari hati yang tak pernah lupa kepada Sang Pencipta dan para pewaris ilmu-Nya.

Momen pelepasan dibuka dengan doa bersama yang dipimpin oleh Ketua Tanfidziah Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Bandung, KH. Agus Ahmad Qustulany. Di tengah kenyamanan dini hari yang penuh kekhusyukan, tangan-tangan terangkat memohon kepada Allah SWT meminta keselamatan di setiap langkah, kelancaran di setiap perhentian, serta keberkahan yang menyertai rombongan hingga mereka pulang kembali membawa kedamaian dan kebersihan hati.
Dukungan penuh yang diberikan Bupati Bandung, Dadang Supriatna menjadi cahaya yang akhirnya perjalanan ini. Beliau memandang pembinaan kehidupan keagamaan bukan sebagai urusan sampingan, melainkan pilar utama yang menopang kokohnya sebuah peradaban.
“Ketika hati masyarakat terhubung dengan jejak para ulama dan wali, disitulah persatuan dan kemajuan daerah tumbuh dengan sendirinya,” ucapnya sebelum memberangkatkan para peziarah.
Mewakili seluruh peserta, KH. Imron Rosadi, Sekretaris PCNU Kabupaten Bandung, menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam.
“Alhamdulillah, segala kemudahan datang dari izin Allah SWT, dan melalui perantaraan dukungan Bapak Bupati Bandung Dadang Supriatna, perjalanan ini dapat berjalan. Semoga beliau dibalas dengan kebaikan yang berlipat ganda dan keberkahan yang menyertai setiap langkahnya,” ucapnya merasa bahagia dan bersyukur.

Bagi setiap peserta yang berangkat, ziarah ini adalah cermin bagi kehidupan. Di hadapan makam para ulama dan wali, mereka menyadari kemuliaan bukanlah dari harta, jabatan, maupun kedudukan. Kemuliaan lahir dari ketakwaan, dari pengabdian tanpa pamrih, dan dari kesabaran dalam menyebarkan cahaya kebaikan yang telah dicontohkan para ulama terdahulunya.
Di setiap makam yang dikunjungi, dalam setiap doa yang dipanjatkan, nama Bupati Bandung Dadang Supriatna juga ikut terselip di dalamnya. Doa ini bukan sekedar formalitas, melainkan ikatan batin yang tulus rakyat mendoakan pemimpinnya agar senantiasa dikaruniai kesehatan, kebijaksanaan, dan kekuatan lahir batin dalam mengemban amanah memimpin daerah tercinta.
“Kami mendoakan Bapak Bupati Bandung Dadang Supriatna dari hati yang paling dalam. Semoga beliau selalu sehat, kuat, dan mendapat petunjuk Allah SWT dalam memimpin Kabupaten Bandung ke arah yang lebih baik,” tegas KH. Imron Rosadi.
Sebelum matahari terbit, para peziarah sampai di kawasan Makam Sunan Gunung Jati, Desa Astana, Kecamatan Gunungjati, Kabupaten Cirebon tepatnya di Masjid Syarif Abdurachman, bangunan yang kini bukan sekadar pelengkap kawasan, melainkan penyejuk hati bagi setiap peziarah yang datang. Dinamai sesuai nama asli Sunan Gunung Jati, masjid ini menjadi tempat jamaah menata niat dan menyempurnakan ibadah sebelum melangkah menuju makam ulama di daerah tersebut.
Masjid ini lahir atas prakarsa Jenderal TNI Dudung Abdurachman saat menjabat sebagai Kepala Staf Angkatan Darat (KASAD), dan diresmikan langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia KH. Ma’ruf Amin pada Jumat, 25 Agustus 2023. Kehadirannya menjawab kebutuhan nyata para peziarah, memberikan ruang ibadah yang layak, nyaman, dan penuh ketenangan di lingkungan yang sakral ini.
Kini, siapa pun yang datang menziarahi makam Sunan Gunung Jati dapat memanfaatkan masjid ini untuk melaksanakan salat, baik sebelum maupun sesudah ziarah. Lebih dari sekadar tempat ibadah, masjid ini menjadi ruang menenangkan jiwa, tempat para jamaah membersihkan hati dan mempersiapkan batin sebelum berdiri di hadapan makam salah satu Wali Songo penyebar Islam di tanah Jawa.
Di antara rombongan peziarah dari Pemerintah Kabupaten Bandung, mereka menyempatkan diri melaksanakan salat Subuh berjamaah di Masjid Syarif Abdurachman sebelum melanjutkan ziarah. Mengawali perjalanan rohani dengan ketaatan adalah cara terbaik menyambut keberkahan di tempat yang mulia ini. Suasana ibadah berlangsung khidmat dan penuh kekhusyukan.
Salah satu peserta ziarah dari rombongan Pemkab Bandung, Ajengan Agus, selaku Wakil Ketua Tanfiziyah MWCNU Cikancung, menyampaikan apresiasi dan rasa syukurnya pada Rabu (26/8/2026).
Menurut beliau, keberadaan masjid ini sangat membantu para peziarah yang datang dari jauh, terutama dalam menata hati dan melaksanakan ibadah dengan tenang.
“Kami melaksanakan salat Subuh berjamaah terlebih dahulu sebelum ziarah. Masjid ini sangat nyaman dan memudahkan kami beribadah dengan khusyuk, sebelum melanjutkan langkah menziarahi Makam Sunan Gunung Jati,” ungkap Ajengan Agus menjelaskan fungsi keberadaan di masjidnya.
Bagi jamaah yang datang dari luar daerah, fasilitas ini terasa sungguh anugerah. Tidak lagi kesulitan mencari tempat ibadah yang layak, kini tersedia ruang yang luas, bersih, dan damai. Keberadaan Masjid Syarif Abdurachman membuat perjalanan ziarah menjadi lebih tertib, bermakna, dan menyentuh hati.
Semoga Masjid Syarif Abdurachman terus menjadi tempat berkah yang tak terputus. Semoga ia senantiasa memudahkan langkah para peziarah, menjadi jembatan iman, dan mengingatkan kita untuk selalu memuliakan rumah Allah serta meneladani akhlak luhur Sunan Gunung Jati. Aamiin














Komentar