oleh

Thariqah  Istiqomah Ning Dr. Uswatun Hasanah, M.Pd., Raih Gelar Doktor Bidang Pendidikan Agama Islam

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, “Bukan hanya tentang sebuah gelar, tetapi tentang proses panjang, perjuangan, keberkahan ilmu, dan keberanian untuk terus berkembang”. Ungkapan itu selaras dengan apa yang dijalani dan diraih oleh Pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto. Uswatun Hasanah Koordinator Wilayah Nawaning Nusantara Jawa Timur Jam’iyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Muballighoh, yang memiliki nama panggilan populernya Ning Uswah Syauqi.

 

Pada bulan ini, Uswatun Hasanah telah berhasil menempuh proses ujian akhir promosi doktor bidang  pendidikan agama islam dari Universitas KH. Abdul  Chalim Mojokerto. Dengan judul disertasi “Pembelajaran Fikih melalui Tarbiyah Jinsiyah Nawaning Nusantara sebagai Upaya Preventif  Kekerasan Seksual di Pondok Pesantren” pada 21 Agustus 2026 / 8 Robiul Awal 1448 Hijriah.

Sebagai tokoh penulis dan pesantren, setelah lulus jenjang pendidikan tertinggi sebagai akademisi. Dirinya mengungkapkan tentunya berbahagia dengan proses panjang yang tidak instan. Dengan riyadlah intelektual dan spiritual.

 

“Awal niat mengambil kuliah sejujurnya adalah men-challange kegabutan, tetapi ketika proses panjang itu dilalui dengan hal-hal positif, seperti mendengarkan keterangan dari para Profesor dan Doktor, menulis, mengasah nalar, menggali banyak pengetahuan dari para dosen yang kebanyakan adalah para kyai dari pesantren. Melalui proses itu menghadirkan berbagai kenikmatan yang luar biasa, kesejukan yang tiada tara, hingga datang saat ujian yang dilewati dengan 5 tahap: kualifikasi, proposal, komprehensif, tertutup, dan terbuka. Yang awalnya iseng, berubah menjadi nikmat belajar, proses diskusi yang mengasyikkan, terasa begitu manis sekali. Ujian terbuka di bulan kemerdekaan ini tidak hanya merasakan kemerdekaan dari rangkaian proses kuliah, tapi merasa merdeka dari niat-niat yang kurang tepat saat mencari ilmu. Saya bisa mengambil kesimpulan, apa pun niat yang lahir secara alami dari hati kita, selama bukan niat dzolim, jika prosesnya dilakukan dengan kebaikan-kebaikan. Allah sendiri yang akan meluruskan niat kita menuju pada keridloan Allah dan Rasul-Nya,” ungkapnya kepada media cetak dan online Koran SINAR PAGI melalui sambungan telephone pribadinya, setelah meraih gelar doktor yang berbarengan dengan peringatan bulan kemerdekaan tahun ini.

Sebagai santri yang memiliki rutinitas belajar di pesantren dan sebagai mahasiswa di perguruan tinggi. Momen yang menjadi penguat untuk istiqomah dalam kedua proses tersebut.

Uswatun Hasanah menyatakan ⁠penguat istiqomah adalah dipaksa, dihadapi apa pun dan bagaimana pun prosesnya, sebab puncak keberhasilan bukan pada hasilnya, puncak keberhasilan ada pada prosesnya. Terkadang rasa lelah, burnout dan ingin banyak rebahan atau scroll medsos selalu menggoda, tapi kembali lagi semakin kita bermalas-malasan akan semakin banyak tanggungan. Istiqomah yang awalnya dipaksa akan menjadi suatu karomah (keistimewaan) ketika kita sabar terhadap proses tersebut.

Setelah berhasil dalam capaian gelar akademik Doktor Bidang Pendidikan Agama, niat hingga langkah dalam dirinya ke depan ialah ingin lebih manfaat dan maslahat, jangan sampai ilmu yang diperoleh dan gelar yang disematkan adalah untuk menundukkan manusia lainnya, tetapi bagaimana caranya ilmu yang didapat adalah untuk menundukkan diri sendiri di hadapan Allah dan Rasul-Nya.

“Harus lebih sadar kapasitas tidak palugada (apa yang lu mau gua ada) di luar ilmu yang bukan bidangnya, tidak reaktif terhadap hal apa pun, namun tidak juga tone deaf, menguatkan proses berpikir dan menelaah permasalahan sebelum memutuskan kebijakan. Lebih terbuka terhadap pendapat orang lain yang menjadi bagian dari khazanah keilmuan,”ucapnya.

Terlebih lagi harapan saya ingin membukukan hasil disertasinya agar lebih mudah diakses untuk orang lain dengan bahasa yang lebih mudah dipahami.

Ketika sambutan di akhir sidang ujian terbuka saya menyampaikan suatu hal “harapan saya, karya disertasi yang kurang sempurna ini, bisa menjadi sumbangsih keilmuan untuk pendidikan di Indonesia, ujian ini menjadi berkah, dan kelulusan ini menambahkan rasa takwa kepada Allah SWT,”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *