oleh

Koran Masih Menjadi Prioritas Bahan Bacaan Warga Negara Maju di China dan Jepang

Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat)

Di tengah gempuran media sosial, podcast, dan berita digital, banyak yang mengira koran sudah ditinggalkan. Tapi di dua negara maju di Asia Timur, China dan Jepang, koran justru masih punya tempat penting sebagai bahan bacaan utama. Bukan berarti digital tidak berkembang, tapi koran cetak bertahan karena alasan budaya, demografi, dan kepercayaan.

Skala Konsumsi yang Masih menjadi Prioritas

Saat penulis bertanya kepada seorang Kepala Sekolah yang sedang berkunjung ke China dan Pekerja Migran Indonesia yang ada di Jepang. Apakah koran masih disediakan sebagai bahan bacaan di perusahan atau pabrik, hotel dan lembaga pendidikan. Keduanya menjawab sama bahwa koran masih ada di ruang tamu berbagai lokasi tersebut.

Media Cetak berbahasa Indonesia, bahasa derah dan bahasa asing

Kenapa Media Cetak Masih Diprioritaskan?…

Budaya dan Kepercayaan:

Di Jepang, koran nasional seperti Yomiuri, Asahi, dan Nikkei sudah jadi bagian dari rutinitas pagi selama puluhan tahun. Tingkat penetrasi berlangganan tinggi dan ada “prestise budaya” yang melekat pada koran besar. Yomiuri saja masih punya sirkulasi hampir 6 juta dan mempertahankan kebijakan paket bundel cetak + digital untuk menjaga sirkulasi.

Di China, koran juga berfungsi sebagai kanal informasi resmi. Ditambah jaringan wartawan Jepang di China sudah ada sejak 1964, membuat liputan China selalu jadi fokus utama di halaman depan koran Jepang.

Demografi:

Populasi menua di Jepang membuat koran cetak tetap relevan. Generasi ini lebih nyaman membaca kertas dan sudah berlangganan puluhan tahun. Itu sebabnya pasar Jepang digambarkan sebagai “matang tapi berubah dinamis”, dengan segmen harian massal dulu pernah lebih dari 1 koran per rumah tangga setiap distribusinya.

Kepercayaan terhadap Media Cetak:

Data Reuters Institute 2025 menunjukkan di Jepang, tingkat kepercayaan pada berita yang sumber utamanya TV dan koran cetak tetap stabil sejak 2021. Sebaliknya, kepercayaan pada berita dari media sosial justru turun dan jumlah yang “tidak percaya” sudah melampaui yang “percaya”. Saat khawatir ada disinformasi, “sumber berita tepercaya” jadi pilihan kedua setelah mesin pencari. Ini membuat orang tetap kembali ke koran.

Tantangan Digitalisasi

Kedua negara itu tidak anti-digital. Seperti di Jepang punya internet penetration 86% dan Nikkei sudah punya 1,21 juta pelanggan digital, hampir menyamai basis pelanggan cetaknya 1,25 juta.

Kondisi Bahan Bacaan di China dan Jepang menunjukkan 3 hal:

  1. Koran belum mati, tapi berubah fungsi. Dari sumber berita massal menjadi sumber yang tepercaya, analitis, dan tersegmentasi.
  2. Demografi menentukan. Negara dengan populasi menua dan budaya membaca kuat akan lebih lama mempertahankan koran.
  3. Kepercayaan adalah aset. Di era hoaks dan influencer, orang justru kembali ke merek media yang sudah lama mereka kenal.

Surat kabar dengan jumlah cetak atau sirkulasi terbanyak di Jepang adalah The Yomiuri Shimbun dengan oplah mencapai sekitar 7 hingga 8 juta eksemplar per hari. Bahkan pernah melampaui 10 juta eksemplar pada masa puncaknya yang juga tercatat sebagai koran berbayar dengan sirkulasi terbesar di Dunia. Sementara di China, surat kabar dengan jumlah sirkulasi cetak tertinggi adalah Reference News (Cankao Xiaoxi) yang dikelola pemerintah dengan oplah sekitar 3 juta eksemplar per hari, bersaing ketat dengan People’s Daily (Renmin Ribao) yang hampir sama jumlah cetakkannya.

Koran di China dan Jepang bukan lagi soal “satu-satunya sumber berita”. Tapi ia masih prioritas karena memadukan skala, tradisi, dan kredibilitas yang belum sepenuhnya tergantikan digital. China mengandalkannya untuk jangkauan luas hingga pedesaan, sementara Jepang menjaganya sebagai budaya dan standar kepercayaan.

Selama ada kebutuhan akan informasi yang terverifikasi, mendalam, dan punya bobot, koran akan tetap punya kursi untuk menemani di meja sarapan masyarakat negara maju.

(Artikel ini dirangkum dari berbagai sumber referensi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *