(Koran SINAR PAGI)-, Di tengah kekhidmatan Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama di Pondok Pesantren Bahrul Ulum, Tambakberas, Jombang, hadir sebuah sudut sederhana namun menyejukkan hati. Warkop Wong Bodho menyambut ribuan peserta dengan kopi, wedang jahe, dan aneka gorengan yang dibagikan secara gratis, berlangsung 27–31 Agustus 2026 di kawasan Terminal Jombang.
Spanduk besar di lokasi menegaskan semangat pelayanan: “Khormat lan Khidmah” penghormatan sekaligus pengabdian. Tertulis pula pesan luhur: “Menjaga Marwah, Memperkokoh Khidmat untuk Kemaslahatan Bangsa”, serta semboyan Wong Bodho: “Nderek Kyai Sampai Mati”.
Para peserta dari berbagai daerah berdatangan, duduk berdampingan tanpa sekat pangkat maupun kedudukan. Kehadiran warkop ini bukan sekadar tempat istirahat, melainkan perwujudan nyata gotong royong dan persaudaraan yang tulus di tengah padatnya rangkaian acara.
Salah satu pengurus yang berada langsung di lokasi, Eko Rastio atau yang akrab disapa Cak Adap, ditemui di sela-sela kesibukannya. Beliau tidak sekadar mengatur, namun terjun langsung melayani para pengunjung dengan penuh keikhlasan, mewakili Yayasan Berkah Wombudur dan lingkungan NU kultural. Bagi mereka, melayani di sini adalah ikhtiar meraih keberkahan di momen yang penuh berkah ini.

Wong Bodho didirikan oleh Muhammad Sukhoiri, yang akrab disapa Guskoiri. Beliau juga mendirikan Wong Bodho Pondok Buri dan dikenal sebagai Panglima Laskar Sabilila Jawa Timur. Selama 25 tahun, komunitas ini senantiasa bergerak dalam kegiatan sosial tanpa banyak gembar-gembor.
Sebanyak lima belas orang bekerja secara gotong royong, mulai dari persiapan bahan hingga pelayanan langsung kepada peserta. Seluruh kegiatan dibiayai murni dari swadaya anggota dan sahabat, tanpa bantuan pemerintah. Semua lahir dari keikhlasan hati yang ingin berbagi.
“Motivasinya sederhana saja, kami yakin bahwa di NU itu ada kata berkah. Kami hanya ingin mencari dan meminta berkah,” ujar Cak Adap di sela-sela kesibukannya melayani pengunjung kepada Jurnalis Berita-jabar.com.
Tradisi melayani seperti ini serta rutin berziarah bersama ke makam para Wali bukan kali pertama yang dijalankan Wong Bodho.
Salah satu peserta menyampaikan apresiasinya: “Adanya tempat seperti ini sungguh melegakan hati. Ini wujud nyata semangat persaudaraan dalam NU, di mana kita saling melayani tanpa pamrih.” Pelayanan tulus di balik secangkir kopi hangat pun memiliki nilai ibadah yang tak ternilai.
Di akhir perbincangan, Cak Adap berharap siapa pun yang kelak memimpin NU senantiasa mengutamakan pelayanan kepada umat. “Pemimpin harus melayani umat, jangan dilayani,” tegasnya.
Semoga Muktamar ini melahirkan kepemimpinan yang bermanfaat dan membawa keberkahan bagi seluruh umat. Aamiin.
(Sumber: Berita-jabar.com)













Komentar