oleh

Kemerdekaan yang Membuat Kita Belajar Tidak Menindas

Penulis: Hj. Ashfa Khoirun Nisa`, S.Pd.I., M.S.I.,  (Rektor Institut Agama Islam An-Nawawi Purworejo)

Saya masih di Uzbekistan ketika menulis ini. Ada satu hal yang terus teringat: keramahan orangorangnya. Cara mereka menyambut (salam sapa duluan), berbicara (soft spoken), dan memperlakukan orang lain terasa begitu lembut.

Saya kemudian teringat bahwa Uzbekistan pernah berada di bawah kekuasaan Uni Soviet selama puluhan tahun. Apakah pengalaman panjang itu ikut membentuk cara mereka memperlakukan sesama? Saya tidak tahu. Sejarah sebuah bangsa tentu jauh lebih kompleks dari itu. Apa yang terjadi pada manusia setelah ia pernah mengalami penindasan? Apakah ia akan belajar menindas orang lain ketika memiliki kesempatan? Atau justru belajar bahwa tidak ada manusia yang ingin diperlakukan dengan kasar?

Pendiri, Ketua Yayasan dan Rektor IAI An Nawawi bersama Imam Bukhari International Scientific Research Center yang diwakili oleh Director Prof. Shovosil Ziyodov dan Deputy Director Assoc. Prof. Dr. Otabek Mukhammadiev.

Pertanyaan itu kemudian membawa saya pada makna kemerdekaan. Selama ini kita sering memahami kemerdekaan sebagai terbebas dari penjajahan bangsa lain. Dan tentu saja, itu adalah kemerdekaan yang sangat berharga. Tetapi setelah sebuah bangsa merdeka, pekerjaan kita belum selesai.

Sebab penjajahan bisa berubah bentuk. Ia bisa hadir dalam bentuk membungkam orang yang berbeda pendapat. Merendahkan orang yang dianggap lebih lemah. Mempermalukan seseorang di depan orang lain. Menggunakan kekuasaan untuk membuat orang takut. Atau bahkan sesuatu yang sering kita anggap sepele: bullying. Lebih penting lagi adalah memastikan kita tidak menjadi penindas bagi orang lain.

Bullying, merendahkan orang lain, membungkam pendapat, mempermalukan yang lebih lemah, atau menggunakan kekuasaan untuk membuat seseorang takut, semuanya adalah bentuk kecil dari ketidakmerdekaan. Seorang anak yang setiap hari takut diejek mungkin tidak sedang dijajah sebuah negara. Tetapi ia sedang kehilangan rasa merdeka.

Maka bagi saya, kemerdekaan bukan hanya tentang bebas dari siapa yang menjajah kita. Kemerdekaan juga tentang tidak menjajah kehidupan orang lain. Mungkin kita tidak bisa mengubah dunia hari ini. Tetapi kita bisa mulai dari hal sederhana: berbicara dengan lebih lembut, menghargai perbedaan, menghentikan bullying, dan membuat orang di sekitar kita merasa aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Karena bangsa yang benar-benar merdeka bukan hanya bangsa yang bebas. Tetapi bangsa yang tidak gemar menindas. Dirgahayu Republik Indonesia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *