(Koran SINAR PAGI)-, Jawa Tengah masih menjadi magnet investasi asing, hal ini dibuktikan setelah perusahaan asal Australia, Pure Battery Technologies (PBT), berkomitmen menanamkan modal sekitar US$350 juta di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Industropolis Batang.
Investasi yang bergerak di sektor fasilitas produksi bahan prekursor katoda aktif atau precursor cathode active material (PCAM) ini diproyeksikan mampu menyerap sekitar 1.000 tenaga kerja pada masa konstruksinya. Rencananya, pabrik tersebut akan dibangun mulai tahun 2027.
Chairman PBT, Stephen Wilmot, mengatakan, perusahaannya saat ini tengah mengerjakan tahap rekayasa (engineering) sebagai persiapan pembangunan pabrik.
“Kami berharap dapat mulai melakukan pembangunan tahun depan,” ucapnya saat beraudiensi dengan Gubernur Jawa Tengah, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., di Kota Semarang pada Senin, 3 Agustus 2026.
Setelah beroperasi, pabrik tersebut diperkirakan membutuhkan sekitar 200 pekerja tetap. Jumlah itu belum termasuk tenaga kerja pada sektor pendukung, seperti logistik, angkutan, dan pengiriman.
Wilmot menegaskan, PBT akan memprioritaskan tenaga kerja lokal. Perusahaannya juga akan memberikan pendidikan dan pelatihan agar masyarakat setempat mempunyai keterampilan yang dibutuhkan industri baterai.
“Kami tidak ingin mendatangkan tenaga kerja dari negara lain. Kami ingin melatih masyarakat lokal agar dapat bekerja di pabrik kami,” ucapnya.
Menurutnya, proyek di Jateng menjadi investasi terbesar yang pernah dilakukan PBT. Skala pabrik tersebut diperkirakan empat kali lipat lebih besar dibandingkan fasilitas pemurnian milik perusahaan di Jerman.
Pabrik itu diproyeksikan menghasilkan pendapatan sekitar US$900 juta per tahun. Namun, realisasinya akan bergantung pada perkembangan harga nikel.
PBT berencana menggunakan bahan baku nikel dari Indonesia untuk membangun rantai nilai industri baterai secara menyeluruh. Material yang dihasilkan dapat digunakan untuk baterai bus, mobil, maupun sistem penyimpanan energi pada jaringan listrik.
“Kami ingin membangun seluruh rantai nilai kendaraan listrik, termasuk pengelolaan baterai yang telah mencapai akhir masa pakainya. Kami ingin melakukan daur ulang untuk memastikan tidak muncul persoalan lingkungan,” ucap Wilmot.
Ia mengatakan, PBT sebenarnya dapat membangun pabrik di wilayah yang berdekatan dengan tambang nikel. Namun, perusahaannya memilih Jateng karena letaknya strategis, didukung populasi besar, serta dinilai mempunyai masa depan kuat sebagai pusat industri manufaktur.
“Kami telah menghabiskan banyak waktu untuk mengambil keputusan datang ke Jawa Tengah. Ini merupakan investasi yang sangat penting bagi perusahaan kami,” ungkapnya.
Sementara itu, Gubernur Jateng, Komjen Pol (P) Drs. Ahmad Luthfi, S.H., S.St.M.K., mengatakan, investasi tersebut sejalan dengan arah pengembangan energi terbarukan di Jateng. Ia berharap, hasil produksi pabrik tidak hanya ditujukan untuk ekspor, tetapi juga untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik.
“Kalau bisa, energi terbarukan, seperti solar panel, pemanfaatannya tidak hanya berorientasi ekspor, tetapi juga digunakan di dalam negeri, khususnya di Provinsi Jawa Tengah,” ucapnya.
Menurutnya, pasar energi terbarukan dan kendaraan listrik di Jateng sangat potensial. Apalagi, provinsi ini memiliki sekitar 38 juta penduduk yang tersebar di 35 kabupaten/kota.
Tak hanya itu, Pemprov Jateng juga terus mendorong pemanfaatan panel surya pada gedung pemerintahan serta menjajaki penggunaannya di kawasan waduk dan danau. Nantinya, moda transportasi umum juga diarahkan beralih menggunakan kendaraan listrik.
“Kalau bisa, kebutuhan itu tidak hanya ditarik keluar, tetapi industri-industri kita juga mendapatkan pasokannya dari sana, sehingga dapat menggerakkan industri di dalam negeri,” ucap Gubernur.








Komentar