oleh

Renungan Jumat: “3 Godaan Setelah Manusia Beramal dan Tingkatan Ikhlas”

Penulis: Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr, Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / LTN MWC NU Katapang).

Dalam Kitab Nashoihul Ibad, Bab 2 Maqolah 24, karya Al-Imaam Al-‘Allaamah Asy-Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi al-Bantani at-Tanari asy-Syafi’I mengungkapkan:

أَصْلُ جَمِيعِ الْخَطَايَا حُبُّ الدُّنْيَا

“Sumber segala dosa adalah cinta dunia”

Cinta dunia dapat diartikan  kecenderungan berlebihan terhadap harta, jabatan, dan kesenangan duniawi, sehingga melalaikan kewajiban ibadah atau melanggar aturan agama dan hilangnya tujuan Akhirat (Ridho Alloh Subhanahu wa Ta’ala).

Ketika manusia akan atau setelah beramal soleh, godaan untuk membatalkan atau menggugurkan alam tersebut, kadang selalu muncul. Misalnya dengan mujahilah, ujub atau Self-License.

Dalam bahasa Arab, istilah “Mujahilah” (مُجَاهِلَة) yang berarti menganggap remeh atau mengabaikan dosa kecil, padahal hal itu akan menjadi awal terjerumus kepada perbuatan dosa besar. Kondisi tersebut atau godaan berbuat buruk yang seolah-olah dianggap dosa kecil, sering dialami setelah berbuat baik yang besar.

Selanjutnya, ujub munculnya perasaan bangga atau sombong atas kebaikan / amal yang telah dilaksanakan, sehingga membuat seseorang merasa lebih baik dari orang lain dan cenderung merendahkan orang lain.

Sedangkan hal lainnya, dalam istilah psikologi, menganggap berbuat jelek wajar setelah melakukan kebaikan yang besar disebut “Self-License” atau “Lisensi Diri”.

Self-License merupakan fenomena psikologi, ketika seseorang merasa memiliki “lisensi” atau izin untuk melakukan sesuatu yang buruk atau tidak baik setelah melakukan sesuatu kebaikan yang besar. Hal itu dapat membuat seseorang merasa bahwa dirinya telah “membeli” hak untuk melakukan kesalahan.

Contohnya, seseorang yang telah melakukan kebaikan besar, mungkin merasa bahwa mereka dapat “mengimbangi” kesalahan kecil yang mereka lakukan setelahnya.

Hal lain yang perlu diketahui setelah beramal ialah syarat-syarat diterimanya amal. Seperti keikhlasan, Syekh Muhammad Nawawi Al Bantani di dalam kitabnya Nashâihul ‘Ibâd membagi keikhlasan ke dalam 3 (tiga) tingkatan.

“Tingkatan ikhlas yang paling tinggi adalah membersihkan perbuatan dari perhatian makhluk (manusia) di mana tidak ada yang diinginkan atau diniatkan dengan ibadahnya selain menuruti perintah Allah dan melakukan hak penghambaan, bukan mencari perhatian manusia berupa kecintaan, pujian, harta dan sebagainya.”

Kalau disimpulkan pada tingkatan pertama mereka yang tidak mengharap balasan Dunia dan Akhirat dari setiap amalnya. Sedangkan tingkatan kedua, mereka masih mengharapkan balasan di Akhiratnya dan tingkatan ke tiga, mereka yang selalu mengharapkan balasan langsung di Dunia sampai di Akhiratnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *