(Koran SINAR PAGI)-, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Kecamatan Katapang bekerja sama dengan Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / MWC NU Kecamatan Katapang untuk menjalankan program rutin ngaji berbagai kitab.
Kitab yang rutin dikaji yaitu Nashoihul Ibad, Uqudul Lujen, Tafsir Yasin, Fathul Qorib dan Mabadi Awaliyah bersama pemateri Ketua LBM MWC NU Katapang, Ustadz Purkon S.Hi.,
Kajian berlangsung setiap hari rabu / malam kamis bada isya di masjid Annur Hidayah Kp Wates, Desa Banyusari dan terbuka untuk jamaah serta jam’iyah Nahdlatul Ulama atau santri lainnya yang ingin mempelajari kitabnya.
Pada malam rabu yang lalu, Ustadz Purkon S.Hi., ketika membahas kitab Nashoihul Ibad, karya Syekh Nawawi al-Bantani, terdapat nasihat dari ulama sufi Syekh Abu Bakar As-Syibli mengenai dua perkara yang menjadi kunci ketentraman hati (ketenangan bersama Allah) dan kasih sayang Allah.
“Jika hatimu ingin merasa tenang dan tentram dengan Allah, maka janganlah engkau turuti kesenangan hawa nafsumu”
“Jika engkau ingin dikasihi Alloh, maka kasihilah makhluk Alloh”
Dalam penjelasan nasihat ke II itu, dicontohkan melalui kisah tentang seorang yang menolong kucing ketika keadaan kedinginan dengan menyelimutkan kain ke binantang tersebut.
Menurutnya perihal nasihat ke I, nafsu yang ada dalam diri sudah semestinya dikendalikan, jangan sampai manusia yang dikendalikan oleh hawa nasfsunya.
Selanjutnya perihal kisah menolong kucing tersebut, memiliki makna jangan sampai menganggap amalan itu kecil, sehingga membuat tidak beramal. Selanjutnya setelah beramal, jangan sampai ketika membandingkan amalan kita dengan orang lain, seolah-olah karena amalannya lebih besar, otomatis lebih diterima.
“Penilaian amal itu yang paling utama bukan, besar atau kecilnya. Tetapi tentang keikhlasannya,”ungkapnya
Untuk mencapai keikhlasan, menurut referensi kitab Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari yang membahas secara mendalam tentang ikhlas lillah (karena Allah) dan billah (dengan pertolongan Allah).
Ibnu Athaillah menegaskan bahwa ikhlas adalah inti atau “ruh” dari setiap ibadah. Hakikat Ikhlas Lillah dan Billah ialah Ikhlas Lillah itu berlepas dari ketergantungan pada selain Allah, menghapus sifat Sum’ah, riya’ dan ujub, dengan fokus menjadikan Allah sebagai tujuannya. Sedangkan Ikhlas Billah ialah menyadari bahwa amal ibadah dapat terlaksana semata-mata, karena pertolongan dari Allah, bukan merasa dari upaya diri sendiri.
(Dirangkum oleh: Dwi Arifin, Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / LTN MWC NU Katapang)








Komentar