oleh

FK MGMP PPKn Jabar Ungkapkan Pesantren Ekologi Wujudkan Generasi Pelajar Service Learning bagi Alam

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, ارْحَمُوا مَنْ فِي الأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ

 “Sayangilah siapa saja yang di bumi maka yang di langit akan menyayangi kalian.” [HR Bukhari]

Pesantren Ekologi Ramadan adalah sebuah program keagamaan khusus di bulan suci yang mengintegrasikan pendidikan spiritual Islam dengan kesadaran menjaga ekosistem. Programnya resmi dicanangkan oleh Dinas Pendidikan Jawa Barat untuk tahun 1447 H / 2026 M. Kegiatan tersebut menitikberatkan pada pemahaman bahwa menjaga alam merupakan bagian dari manifestasi iman kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Pelaksanaan program bertujuan untuk merespons berbagai isu lingkungan aktual yang sedang dihadapi masyarakat. Dengan mengusung tema “Internalisasi Nilai Gapura Pancawaluya Guna Mewujudkan Manusia Waluya Rahmatan Lil Alamin”, para siswa diharapkan tidak hanya cerdas secara religi, tetapi juga memiliki empati kosmik terhadap sesama makhluk hidup. Dengan fokus utamanya adalah membentuk pribadi yang harmonis dengan Tuhan dan lingkungan sekitar.

Ketua Forum Komunikasi Musyawarah Guru Mata Pelajaran (FK MGMP) PPKn / Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan SMA Provinsi Jawa Barat, Dr. Ida Rohayani, M.Pd., sebagai guru PPKn / Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan di SMAN 3 Bandung menyampaikan bahwa program yang dilaksanakan oleh sekolah akan membentuk pelajar yang Service Learning (pembelajaran berbasis pelayanan) untuk masa depan alam.

“Sebagai guru pendidikan Pancasila, memprediksi melalui program Pesantren Ekologi yang dilaksanakan oleh sekolah di Jawa Barat akan berpengaruh positif dan jangka panjang kepada alam. Sebab para siswa nantinya akan ikut berperan menjaga atau melestarikan lingkungan. Mereka berupaya hidup dengan kebiasaan menghemat energi dan berprilaku ramah lingkungan. Para pelajar akan produktif berkontribusi dalam perbaikan lingkungannya atau membuat lingkungan baru yang lebih dekat dengan alam” jelasnya saat interaktif bersama Koran SINAR PAGI dan Radio Republik Indonesia melalui sambungan telephone pribadinya (24/2/2026)

Misalnya mereka di rumahnya membuat vertikal garden atau metode budidaya tanaman secara vertikal (tegak lurus) yang memanfaatkan bidang dinding, pagar, atau struktur bertingkat. Serta warung hidup atau pemanfaatan lahan pekarangan rumah untuk ditanami berbagai tanaman hias, sayuran, bumbu dapur, atau buah-buahan yang hasilnya dapat dipanen langsung untuk memenuhi kebutuhan konsumsi sehari-hari secara mandiri. Konsep itu bertujuan untuk menghemat pengeluaran dapur, menyediakan makanan lebih sehat, dan mengoptimalkan fungsi lahan. Keahlian seperti itu diharapkan tumbuh pada para siswa, setelah mereka mengikuti pembelajaran bertema pesantren ekologi.

Menurutnya pesantren ekologi selaras dengan program kurikulum cinta dari Kementrian Agama atau nilai-nilai yang ada pada Pancasila, sila ke 1 sampai ke 5.

“Ketuhanan Yang Maha Esa. Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Persatuan Indonesia. Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan Perwakilan. Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Melalui kepeduliaan siswa terhadap lingkungannya berbasis gotong royong nilai-nilai Pancasila akan tumbuh” ucapnya

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *