Oleh : N. Kurniasari (Aktivis Muslimah)
Dilansir dari tribunjabar.id (05/02), Mengingat di wilayah Kabupaten Bandung tercatat ada sekitar 123.063 perempuan yang berstatus janda. Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan, dan Perlindungan Anak (BP2KB3A) berupaya melalui 3 program yang berfokus pada peningkatan kualitas hidup yaitu : (1) program pengarusutamaan gender dan pemberdayaan Perempuan, (2) program perlindungan Perempuan, serta (3) program peningkatan kualitas hidup perempuan.
BP2KB3A Kabupaten Bandung mencatat ada sekitar 56.604 janda yang usianya produktif. Sedangkan sisanya atau 66.459 janda merupakan janda lanjut usia dengan usia di atas 60 tahun. Usia produktif itu yang menjadi sasaran untuk mengikuti pembinaan dengan dibentuk kelompok Pemberdayaan Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) tempat perempuan baik janda atau masih berstatus bersuami namun suaminya tidak bisa bekerja lantaran sakit akan dibina.
Program Pekka diklaim efektif untuk pemberdayaan perempuan. BP2KB3A Kabupaten Bandung juga melakukan pemberdayaan perempuan lainnya melalui berbagai pembinaan organisasi-organisasi perempuan. Ini dilakukan secara gencar setiap tahunnya.
Jika ditelusuri program apapun untuk meningkatkan kesejahteraan perempuan tak akan berhasil jika paradigmanya masih kapitalisme. Karena kapitalis menganggap bahwa kesejahteraan akan terwujud jika perempuan didorong keluar dari ranah keluarga untuk menjadi tulang punggungnya.
Sistem sekulerisme kapitalisme hari ini menjadikan peran perempuan di rumah dianggap tidak produktif, karena tidak bisa menghasilkan uang. Di sisi lain, sistem sekulerisme kapitalisme meniscayakan kehidupan yang sulit bagi sebagian besar masyarakat, karena notabenenya sumber daya alam yang harus dikelola negara untuk kemaslahatan umat justru dikuasai oleh segelintir orang yang memiliki modal dan lebih didominasi oleh asing dan asing.
Maka tak heran dalam sistem ini terdapat kesenjangan. Yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Harta hanya berputar pada orang-orang yang memiliki banyak modal. Belum lagi kebutuhan publik dijadikan barang monopoli oleh swasta, beban ekonomi keluarga semakin berat, akhirnya perempuan keluar dari rumah mereka untuk mencari rupiah. Sungguh peran ganda yang saat ini dicitrakan baik oleh sistem sekulerisme kapitalisme justru sebenarnya tidak sesuai dengan fitrah perempuan.
Telah jelas Sang Pencipta dan Pengatur kehidupan menempatkan peran perempuan di posisi mulia. Islam telah menetapkan perempuan sebagai dua peran penting yakni sebagai ibu ( ummun ) dan pengelola rumah tangga ( Rabbah Al bayt ). Allah Swt juga mewajibkan perempuan untuk mengemban dakwah dan menuntut ilmu.
Islam juga menjamin setiap perempuan dalam kondisi apapun untuk tetap mendapatkan nafkah tanpa harus bekerja. Hal ini diawali dengan penetapan hukum perwalian laki-laki atas perempuan. Sistem Sekuler Kapitalisme yang diterapkan di negeri ini sungguh telah merusak semua tatanan kehidupan. Perempuan yang seharusnya mulia sebagai pendidik generasi peradaban, kini telah dieksploitasi menjauh dari perannya sebagai seorang ibu.
Padahal sejatinya, peran negara sangat besar, negaralah yang memastikan kesejahteraan masyarakat nya dengan menyediakan pekerjaan bagi laki-laki yang notabene kepala keluarga, sedangkan perempuan fungsi dasar mereka sebagai ummun wa rabbatul bayt yakni mencetak generasi unggul, ini akan terwujud ketika Islam diterapkan secara kaffah dalam bingkai negara.
WalLaahu a’lam bish-shawwab









Komentar