Penulis: Nur Fadilah (Putri Inspirasi Banyumas 2020)

Dalam budaya Jawa, ada banyak peribahasa yang singkat, tetapi penuh makna filosofis. Salah satunya adalah “Suduk gunting tatu loro.” Secara harfiah, ungkapan ini berarti “tertusuk gunting hingga terluka dua” Gunting memiliki dua sisi tajam yang sama-sama runcing bisa melukai. Bila ujung gunting tersebut ditusukkan pada suatu benda, maka terdapat luka di dua titik. Berbeda dengan pisau atau keris yang apabila ditusukkan maka hanya terdapat luka di satu titik saja. Karena itu, peribahasa ini digunakan untuk menggambarkan seseorang yang berada di tengah keadaan sulit dan terluka dari dua arah sekaligus, atau disakiti oleh orang yang dicintai & dipercaya. Sehingga apa pun pilihannya terasa berat, bahkan kadang sama-sama menyakitkan.

Dalam novel Wigati karya Ning Khilma Anis, suduk gunting tatu loro dalam cerita yaitu luka ganda yang dialami oleh tokoh Lintang Manik Woro. Penderitaannya berlapis karena ia tidak hanya ditinggalkan oleh pria yang sangat dicintainya, tetapi pria tersebut ternyata memilih sahabatnya sendiri. Selain dikhianati dalam cinta, ia juga merasa dikhianati oleh sahabatnya sendiri. Istilah ini menggambarkan puncak rasa pedih (kehilangan sekaligus pengkhianatan) yang harus ditanggung oleh seorang perempuan secara bertubi-tubi.

Ungkapan ini masih sangat relevan hingga sekarang karena kehidupan modern pun sering membuat manusia berada dalam posisi serba salah. Dalam kehidupan sehari-hari, “suduk gunting tatu loro” bisa terjadi dalam berbagai bentuk. Misalnya seseorang yang sedang sakit, tetapi tetap harus bekerja demi memenuhi kebutuhan keluarga. Jika ia beristirahat, ekonomi terganggu. Namun jika terus memaksakan diri untuk bekerja, tubuhnya semakin lemah dan sakit makin parah. Akhirnya fisik dan pikirannya sama-sama terluka. Contoh lain adalah seorang ibu yang harus membagi waktu antara pekerjaan dan anak. Saat fokus bekerja, ia merasa bersalah kepada anak. Tetapi ketika memilih di rumah, ia memikirkan kebutuhan ekonomi. Hatinya terus tertarik dari dua arah yang berbeda.

Fenomena ini juga banyak dialami generasi sekarang, terutama oleh “sandwich generation”, yaitu mereka yang harus membantu orang tua sekaligus membiayai anak dan keluarganya sendiri. Gaji terasa tidak pernah cukup karena kebutuhan datang bersamaan. Ingin memenuhi kewajiban kepada orang tua, tetapi juga tidak tega melihat kebutuhan istri dan anaknya sendiri terbengkalai. Akibatnya seseorang hidup dalam tekanan berkepanjangan. Dari luar mungkin terlihat biasa saja, tetapi di dalam hati ada rasa lelah yang sulit dijelaskan kepada orang lain.

Dalam rumah tangga, keadaan suduk gunting tatu loro sering muncul ketika seseorang ingin mempertahankan keluarga demi anak, tetapi di sisi lain terus menghadapi sikap pasangannya yang semakin menyakitkan. Bertahan terasa sesak dan terluka, pergi meninggalkan pun sulit terlebih ketika sudah dikaruniai anak. Memikirkan anak tanpa orang tua yang lengkap di kehidupannya, rasanya kasihan dan membayangkannya saja sungguh tidak sanggup. Ada pula anak yang berada di tengah konflik antara orang tua dan pasangan hidupnya. Jika membela orang tua, pasangannya kecewa. Jika membela pasangan, takut dianggap anak durhaka. Apa pun sikapnya, ia tetap menjadi pihak yang terluka. Tidak heran jika banyak orang akhirnya memilih diam karena merasa tidak ada jalan yang benar-benar membuat semuanya baik-baik saja.

Keadaan seperti ini bukan hanya melelahkan secara fisik, tetapi juga berdampak besar pada kesehatan mental. Seseorang yang terus berada dalam tekanan dua arah biasanya menjadi mudah cemas, sulit tidur, overthinking, cepat lelah, gampang sakit, bahkan kehilangan semangat hidup. Ada yang terlihat tetap tersenyum dan beraktivitas seperti biasa, hidupnya terlihat baik-baik saja, padahal diam-diam memendam beban berat. Karena itu, kita tidak bisa mudah menilai hidup orang lain hanya dari apa yang tampak di luar. Bisa jadi seseorang yang terlihat tenang sebenarnya sedang menghadapi banyak luka sekaligus.

Pepatah Jawa mengatakan, “Urip iku sawang sinawang,” hidup itu saling memandang. Yang terlihat bahagia belum tentu tanpa masalah. Yang terlihat kuat belum tentu tidak pernah menangis. Kadang manusia hanya pandai menyembunyikan lukanya agar tidak merepotkan dan menjadi beban untuk orang lain di sekitarnya. Oleh sebab itu, penting untuk memiliki empati dan berhati-hati dalam berbicara kepada orang lain. Jangan sampai ucapan yang dianggap sepele, justru menambah luka bagi orang yang sedang berada di fase “suduk gunting tatu loro”.

Dalam Islam juga hidup setiap orang tentu akan diuji. Allah berfirman dalam QS. Al-Baqarah ayat 216: “Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui”

Ayat tersebut mengingatkan bahwa apa yang disukai oleh manusia belum tentu baik, sedangkan yang dibenci atau menyakitkan belum tentu buruk baginya. Tetapi sesungguhnya di balik itu ada proses pendewasaan, penguatan hati, dan pelajaran hidup yang tidak semua orang mampu melewatinya. Karena Allah sedang membentuk hambaNya menjadi insan yang lebih kuat, menyadarkannya untuk terus bangkit, dan setiap hal pasti ada hikmahnya.

Cara menyikapi keadaan “suduk gunting tatu loro” salah satunya adalah tidak terburu-buru mengambil keputusan saat emosi sedang memuncak. Ketika hati sedang penuh tekanan, manusia cenderung ingin cepat selesai dari masalah. Padahal keputusan yang diambil dalam keadaan marah atau sedih sering berakhir pada penyesalan. Menenangkan diri, berdoa, tidur yang cukup, dan menjauh sejenak dari keramaian kadang jauh lebih baik daripada memaksakan diri menyelesaikan semuanya sekaligus. Kuncinya adalah ketenangan, berdamai dengan dirinya sendiri, berdamai dengan keadaan, dan menerima takdir yang sedang dijalani. Lalu perlahan sedikit demi sedikit mengobati luka dalam diri dan bangkit memperbaiki keadaan untuk kehidupan yang lebih baik.

Selain itu, penting untuk memilah mana masalah yang benar-benar menjadi tanggung jawab kita dan mana yang bukan. Banyak orang kelelahan karena merasa harus menyenangkan semua pihak “people pleaser” dan menganggap itu memang tanggung jawabnya sepenuhnya. Padahal manusia memiliki batas tenaga dan batas hati. Belajar berkata “tidak” bukan berarti jahat, tetapi bentuk menjaga diri agar tidak hancur perlahan. Jangan memikul seluruh beban dunia sendirian hingga kesehatan fisik dan mental ikut rusak atau mengorbankan diri bahkan masa depannya. Istilah Jawanya “ketungkul” artinya terlalu fokus pada suatu hal saja hingga ada hal lain yang sangat penting, namun justru tak dipikirkan akhirnya menyesal di kemudian hari. Misal anak orang kaya, namun foya-foya hidupnya tanpa bekerja. Kemudian saat orang tuanya sakit atau mengalami kebangkrutan, maka harta lama-lama habis tak tersisa hingga hidupnya mengalami kesusahan. Atau orang yang bekerja dengan penghasilannya cukup banyak, namun tidak bisa manajemen keuangan hingga selalu habis tak tersisa. Kemudian saat tidak bisa bekerja karena sakit, ia tidak memiliki tabungan untuk biaya hidup sementara. Atau orang yang tidak mau meluangkan waktu untuk belajar, padahal memiliki waktu luang.

Mencari support system juga sangat penting. Tidak semua masalah harus dipendam sendiri. Berbicara dengan orang terpercaya, keluarga yang bijak, sahabat yang tulus, atau meminta bantuan profesional juga bukan berarti suatu tanda kelemahan. Kadang manusia hanya butuh didengarkan tanpa dihakimi. Dukungan kecil seperti ditemani berbicara atau diberi pengertian bisa menjadi kekuatan besar bagi seseorang yang sedang berada di titik terlelah dalam hidupnya.

Orang Jawa dahulu juga mengajarkan prinsip “eling lan waspada” artinya tetap sadar dan berhati-hati dalam menjalani hidup. Saat keadaan rumit, jangan mengambil langkah karena dorongan emosi sesaat. Pelan bukan berarti kalah. Diam bukan berarti lemah. Ada kalanya seseorang memilih bertahan tenang, beristirahat sejenak, justru karena sedang menjaga agar keadaan tidak semakin hancur. Dalam kondisi penuh tekanan, ketenangan berpikir jauh lebih penting daripada reaksi yang terburu-buru.

Hidup memang tidak selalu memberi pilihan yang mudah. Ada masa ketika seseorang harus tetap berjalan meski hati terasa terluka dari banyak arah. Namun luka sering kali membuat manusia menjadi lebih matang, lebih kuat, dan lebih mampu memahami penderitaan orang lain. Orang yang pernah berada di fase “suduk gunting tatu loro” biasanya menjadi pribadi yang lebih empatik karena tahu rasanya berada di posisi serba salah.

Karena itu, jika hari ini hidup terasa berat dan penuh tekanan dari berbagai sisi, jangan langsung merasa kalah dan tertinggal jauh dengan orang lain. Sebab, hidup bukan berarti siapa yang tercepat, karena semua orang memiliki proses kehidupannya masing-masing. Tidak semua orang mampu bertahan dalam keadaan sulit, tetapi setiap langkah kecil untuk tetap bangkit adalah bentuk kekuatan yang luar biasa. Jalani satu demi satu, jaga kesehatan hati dan pikiran, serta tetap mendekat kepada Allah SWT. Sebab setelah luka dan kesulitan berlalu, sering kali manusia baru menyadari bahwa dirinya ternyata jauh lebih kuat daripada yang ia bayangkan sendiri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *