Penulis: Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr, Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / LTN MWC NU Katapang Kabupaten Bandung)
Novel Hati Suhita karya Ning Khilma Anis pertama kali diterbitkan dan dibukukan pada tahun 2019 oleh penerbit Telaga Aksara. Novel ini berawal dari cerita bersambung di Facebook, selanjutnya dibukukan dan sukses terjual sampai ke luar negeri. Hingga akhirnya diadaptasi menjadi film layar lebar pada tahun 2023.
Sejak 2019 hingga saat ini 2026, selama tujuh tahun Novel Hati Suhita telah tersebar kepada lebih dari 200 ribu pembeli dengan cetakan minornya melalui distribusi yang melibatkan 200 agen.
Novel Hati Suhita karya Ning Khilma Anis mengisahkan perjuangan Alina Suhita yang tangguh dan penyabar, sebagai santri / seorang istri yang awalnya dijodohkan oleh pihak pesantren. Namun sikap cintanya kepada suaminya, Gus Birru sulit dibalas. Sebab suaminya telah mencintai wanita lain sesama aktifis kampus (Ratna Rengganis). Dengan pendekatan sabar, tawadhu’, dan filosofi mikul duwur mendem jeru (memikul tinggi-tinggi dan memendam dalam-dalam), Suhita akhirnya memenangkan hati suaminya.
Dibalik karya itu, ada karakter penulis yang selalu berupaya patuh kepada nasihat guru dan orang tuanya. Berupaya memiliki berbagai kepribadian yang bagus terlebih dahulu sebelum menulis buku, terus belajar dengan banyak-banyak membaca. Berjuang siang dan malam penuh lelah dan lillah untuk menghimpun berbagai fakta sejarah. Fokus menulis pada hal yang diketahui atau dialami yang akan dibagikan kepada pembaca atau publiknya. Serta mengemasnya melalui karya tulis yang tidak terbatasi oleh usia, agama atau jenjang pendidikan dari calon jumlah pembacanya, supaya jangkauan promosi lebih luas.
Puncak kesuksesan lain dari Novel Hati Suhita ialah ketika berupaya memasyarakatkan atau menyebarluaskan isi tulisannya. Dengan berkolaborasi bersama produser atau ahli perfilman. Berupaya merubah dari karya tulis menjadi film atau mengalih visualkannya, agar karyanya dapat dinikmati oleh lebih banyak orang.
Dan agar terhindar dari hal negatif, setelah perubahan dari novel ke film itu, maka sebelumnya antara penulis dan tim produser untuk kesepakatan alur cerita, lokasi syuting film, pemeran tokoh utama hingga proses pembuatannya mengadakan FGD (Focus Group Discussion)
“Dengan ditayangkan di Netflix pada bulan syawal 1447 H, film novel Hati Suhita sempat masuk ke peringkat 4 sebagai tontonan yang terpopuler. Setelah itu banyak produser lain yang berminat juga untuk membuat film dari sumber novel-novel sebelumnya”
Kisah sukses itu dibangun sejak memasuki pesantren oleh penulis novelnya. Dimulai dari pengalaman atau bekal di waktu pesantrennya sempat ditugaskan mengelola Majalah SUSANA (Suara Santri Assaidiyah) dan menjadi Redaktur di Majalah ELITE (Majalah Siswa Siswi MAN Tambakberas Jombang)

Novel Hati Suhita menjadi bukti dari karismatik bahan bacaan yang membahas tentang warisan budaya daerah atau sastra berupa nasihat dari tokoh terdahulu masih diminati sampai saat ini. Serta dijadikan referensi atau diambil untuk mewarnai modernitas setiap generasi sebagai pegangan dalam kehidupannya.
Hingga saat ini, diprediksi jutaan orang telah menjadikan Novel Hati Suhita sebagai referensi membentuk pribadi yang unggul atau berprestasi, serta landasan membangun masyarakat yang terus melestarikan warisan budaya dan sastra asli daerahnya. Dengan mengakses atau mempelajari dan mengamalkan berbagai hal penting yang ada pada isi cetakan buku novelnya atau tayangan filmnya.








Komentar