Oleh : Iin Haprianti (Ibu Rumah Tangga)
Iran telah menutup kembali akses Selat Hormuz menyusul meningkatnya kembali ketegangan dengan Amerika Serikat (AS), yang dimulai sabtu (18/4/2026). Pernyataan dari Angkatan Laut Gada Revolusi Iran (IRGC), bahwa penutupan ini akan berlangsung hingga blokade AS terhadap kapal-kapal Iran dicabut. (THERAN, Kompas.com)
Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran paling penting di dunia, baik untuk urusan ekonomi maupun untuk logistik kemiliteran bagi banyak negara-negara di dunia, termasuk AS. Sehingga penutupan Selat Hormuz merupakan penjagaan terjadap keamanan nasional Iran. Dan ternyata hal tersebut membuat AS kelabakan.???
Selama ini dunia memandang bahwa AS merupakan negara adidaya yang tidak terkalahkan, namun realitanya hanyalah ilusi. Kepercayaan dunia kepada AS sebagai negara adidaya pun mulai memudar dan banyak negara mulai melirik Rusia dan Cina untuk berkongsi. Oleh karena itu, AS tidak bisa memaksa negara sekutunya untuk terlibat langsung dalam perang melawan Iran. Hal ini menegaskan bahwa tidak ada sekutu yang abadi dalam politik global kapitalis sekuler, karena semua hubungan dibangun di atas asas manfaat untuk menjaga stabilitas kekuasaan dan kepentingan nasionalnya masing-masing. Ketika kepentingan berubah, arah dukungan dan persekutuan pun akan berubah.
Ketiadaan dukungan sepenuh hati dari para sekutu AS, membuat Iran mampu melemahkan AS, yang pada akhirnya membuat AS menginginkan gencatan senjata. Iran pun menyetujuinya dengan mengajukan 10 syarat gencatan senjata, salah satunya adalah penghentian total perang di Iran tanpa batas waktu tertentu.
Keberaniaan Iran berperang melawan AS menunjukan karakter umat Islam yang seharusnya, dan harus menjadi contoh bagi negeri-negeri muslim lainnya, untuk bersikap keras terhadap kezaliman AS, bukan malah menjadi penonton ketika Iran diserang, sebagai bentuk kependukungan mereka atas tindakan AS dan Israel, yang justru merupakan bentuk pengkhianatan terhadap sesama muslim, dan malah melemahkan kesatuan umat Islam.
Pembelaan negeri- negeri Islam lainnya terhadap Iran yang diserang oleh AS seharusnya menjadi bentuk dari wujud persaudaraan (ukhuwah) Islam di antara mereka, sebagaimana ketetapan Allah SWT, bukan karena rasa nasionalisme negerinya sendiri tapi atas nama umat Islam seluruh dunia. Namun, paham negara bangsa (nationstate) telah merubah cara pandang kaum muslimin, yang akhirnya tidak merasa bersaudara dengan kaum muslim lainnya ketika berbeda negara akibat terpisah oleh batas-batas wilayah mereka.
Sudah saatnya umat Islam bersatu dalam ikatan akidah Islam dan menghilangkan segala perbedaan yang dapat melemahkan mereka, karena persatuan umat Islam sangatlah penting dan mendesak dalam menjaga eksistensi mereka dan agama mereka, yang senantiasa dijadikan target serangan di luar Islam. Persatuan umat Islam ini harus terus diserukan dan diperjuangkan, karena merupakan kewajiban yang telah Allah syariat kan. Firman-Nya:
” Dan berpegangteguhlah kamu semuanya pada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa jahiliah) bermusuhan, lalu Allah mempersatukan hatimu, sehingga dengan karunia-Nya kamu menjadi bersaudara, sedangkan (ketika itu) kamu berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari sana. Demikianlah, Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu agar kamu mendapat petunjuk.”
(TQS Ali Imran; 103)
Untuk mewujudkan kesatuan umat Islam ini adalah dengan terus berdakwah tentang Islam kaffah secara berjama’ah, sehingga lahirlah ketakwaan individu dan masyarakat, hingga terwujud dalam bentuk institusi negara. Negara inilah yang akan menghilangkan batas-batas imajiner wilayah kaum muslimin, dengan menyatukan wilayah – wilayah tersebut dalam satu kesatuan negara dan pemimpin, sesuai dengan contoh Rasulullah saw, yang akan menjadi Junnah (perisai) dalam menjaga kesatuan umat Islam, termasuk menjaga wilayahnya ketika diserang oleh musuh. Khalifah sebagai kepala negara yang akan memobilisasi tentaranya dalam membalas serangan musuh, dengan satu komando. Besarnya potensi umat dari sisi jumlah dan kualitas mereka, tentu akan mampu melawan dominasi negara adidaya kafir, seperti AS. Dilawan oleh Iran saja AS kelabakan, apalagi jika umat Islam bersatu.
Wallahu’alambishawab








Komentar