Karya: Asep Tapip Yani

Untuk negeri yang kucintai, meski kadang membuatku kecewa: Indonesia.

Aku menulis surat ini bukan karena aku membencimu. Justru karena aku terlalu mencintaimu, hingga aku tidak sanggup berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja.

Aku tahu, engkau memiliki laut yang luas, gunung-gunung yang gagah, hutan yang pernah menjadi rumah bagi jutaan makhluk, tanah yang subur, budaya yang berlapis-lapis, dan manusia-manusia yang sejak dahulu dikenal ramah.

Tetapi Indonesia, aku juga tahu ada air mata yang tidak masuk berita. Ada kemiskinan yang tidak masuk pidato. Ada ketidakadilan yang terlalu lama dibiarkan menjadi kebiasaan. Ada orang-orang baik yang perlahan Lelah karena dunia terasa lebih ramah kepada orang yang punya kuasa. Dan ada anak-anak muda yang mulai bertanya: “Masih adakah tempat bagi kami
di negeri sendiri?”

Indonesia, aku takut. Bukan takut kepada musuh yang datang dari luar. Aku lebih takut kepada sesuatu yang tumbuh dari dalam: ketika korupsi dianggap biasa, ketika nepotisme disebut kewajaran, ketika jabatan menjadi warisan, ketika kritik dianggap permusuhan, ketika loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi, ketika keberanian berkata benar disebut kegaduhan, dan ketika orang jujur justru harus menjelaskan mengapa ia tidak mau ikut curang.

Aku takut suatu hari anak-anak kita tumbuh dengan keyakinan bahwa: untuk berhasil, orang harus punya koneksi. Untuk naik, harus pandai menjilat. Untuk didengar, harus punya kuasa. Untuk mendapatkan keadilan, harus punya uang.

Jika itu benar-benar terjadi, maka yang rusak bukan hanya sistem. Yang rusak adalah cara sebuah bangsa memandang dirinya sendiri.

Indonesia, aku tidak ingin menjadi generasi yang hanya pandai mengenang para pahlawan. Aku ingin menjadi generasi yang masih mewarisi keberanian mereka. Sebab apa arti menghafal nama-nama pahlawan, jika kita tidak mewarisi semangatnya? Apa arti mengibarkan bendera, jika kita membiarkan kehormatan bangsa ditukar dengan kepentingan? Apa arti menyanyikan Indonesia Raya, jika di dalam hati kita hanya mencintai diri sendiri?

Pahlawan-pahlawanmu dahulu berjuang dengan darah. Mungkin perjuangan kita hari ini berbeda. Kita tidak harus mengangkat senjata tapi kita harus mengangkat kejujuran. Kita tidak harus menyerbu benteng tapi kita harus meruntuhkan keserakahan. Kita tidak harus mengorbankan nyawa tapi kita harus berani mengorbankan kepentingan diri sendiri ketika kepentingan bangsa memanggil.

Indonesia, aku ingin melihat seorang anak desa bisa bermimpi tinggi tanpa harus memiliki nama besar di belakangnya. Aku ingin melihat guru dihormati bukan karena seragamnya, tetapi karena ilmu dan pengabdiannya. Aku ingin melihat kepala sekolah memimpin dengan keteladanan, bukan sekadar memenuhi laporan. Aku ingin melihat birokrat memahami bahwa melayani rakyat bukan pekerjaan sampingan. Aku ingin melihat hakim yang tidak gentar kepada kekuasaan. Jurnalis yang tidak tunduk kepada kepentingan. Akademisi yang tidak menjual kebebasan berpikir. Mahasiswa yang tidak takut bertanya. Dan politisi yang mengerti bahwa kursi kekuasaan bukan tempat untuk berkuasa atas rakyat, melainkan tempat untuk mengabdi kepada rakyat.

Aku tahu, itu mungkin terdengar terlalu ideal. Tetapi Indonesia, bukankah setiap kemajuan selalu dimulai dari sesuatu yang dahulu dianggap terlalu ideal?

Indonesia, jangan marah jika anak-anakmu bertanya. Jangan takut jika rakyat mengkritik. Jangan menganggap suara yang berbeda sebagai ancaman. Sebab bangsa yang sehat bukan bangsa yang tidak memiliki kritik. Bangsa yang sehat adalah bangsa yang mampu mendengar kritik tanpa kehilangan kepercayaan dirinya.

Biarkan rakyat bertanya. Biarkan mahasiswa berdiskusi. Biarkan guru berpikir. Biarkan akademisi mengkritik. Biarkan pers mengawasi. Biarkan hukum mengoreksi. Sebab kekuasaan yang sehat tidak membutuhkan rakyat yang bisu. Ia membutuhkan rakyat yang sadar.

Indonesia, aku tidak ingin engkau menjadi negara yang hanya hebat di atas kertas. Aku ingin kemajuanmu terasa di meja makan keluarga sederhana. Terasa di ruang kelas. Terasa di rumah sakit. Terasa di desa. Terasa di pasar. Terasa di jalan. Terasa dalam kehidupan mereka yang selama ini namanya jarang disebut dalam pidato kenegaraan. Sebab ukuran keberhasilan sebuah bangsa bukan seberapa megah gedung pemerintahannya. Bukan seberapa Panjang jalan tol yang dibangun. Bukan seberapa banyak angka pertumbuhan yang dipamerkan. Melainkan: apakah manusia yang paling lemah masih merasa memiliki negeri ini?

Indonesia, aku tahu engkau tidak sempurna. Dan aku tidak meminta kesempurnaan. Aku hanya meminta jangan kehilangan arah. Jika salah, berani mengakuinya. Jika keliru, berani memperbaikinya. Jika gagal, berani belajar. Jika rakyat terluka, berani mendengarkan. Jika kekuasaan berlebihan, berani membatasinya. Jika ketidakadilan terjadi, berani melawannya. Sebab kebesaran sebuah bangsa bukan karena ia tidak pernah jatuh. Tetapi karena setiap kali jatuh, ia masih memiliki keberanian untuk bangkit.

Indonesia, barangkali aku terlalu banyak menuntut darimu. Tetapi bukankah cinta memang seperti itu? Ia tidak membiarkan yang dicintainya hancur perlahan hanya karena takut mengatakan kebenaran. Aku mengkritikmu karena aku ingin melihatmu lebih baik. Aku bertanya karena aku masih percaya. Aku kecewa karena aku masih berharap. Dan selama aku masih berharap, aku belum menyerah.

Maka dengarlah, Indonesia. Jika suatu hari aku tidak lagi sekuat selagi muda, jika rambutku memutih semua bahkan rontok, jika langkahku melambat dan melehoy, jika suaraku tidak lagi sekeras hari ini, aku ingin meninggalkan satu pesan kepada generasi yang datang setelah kami:

Jangan warisi ketakutan kami, warisilah keberanian kami. Jangan warisi kebisuan kami, warisilah suara kami. Jangan warisi keserakahan kami, warisilah pengabdian kami. Jangan warisi kebencian kami, warisilah kemanusiaan kami.

Dan jika suatu hari kalian menemukan negeri ini sedang berjalan ke arah yang salah, jangan berkata: “Bukan urusan saya.” Karena negeri ini adalah urusan kalian. Tanah ini
adalah rumah kalian. Masa depan ini adalah milik kalian. Dan sejarah akan bertanya: ketika negeri ini membutuhkan kalian, di mana kalian berdiri?

Indonesia, aku tidak tahu apakah surat ini akan pernah sampai ke istana. Mungkin tidak. Tidak apa-apa. Aku tidak menulisnya untuk istana. Aku menulisnya untuk hati. Untuk hati seorang guru. Untuk hati seorang pejabat. Untuk hati seorang mahasiswa. Untuk hati seorang pekerja. Untuk hati seorang petani. Untuk hati seorang ibu. Untuk hati seorang anak muda. Untuk hati setiap manusia yang masih percaya bahwa negeri ini layak diperjuangkan.

Dan jika suatu hari engkau bertanya kepadaku: “Apa yang paling kau inginkan dariku?” Aku tidak akan meminta kekayaan. Tidak meminta kekuasaan. Tidak meminta kejayaan yang hanya terlihat dari luar. Aku hanya ingin engkau menjadi negeri di mana: orang jujur tidak perlu takut, orang miskin tidak kehilangan martabat, orang pintar tidak harus menjilat, orang berbeda tidak harus dibungkam, orang kecil tidak merasa kecil, dan kekuasaan tidak pernah lupa
bahwa ia berasal dari rakyat.

Itu saja. Sesederhana itu. Tetapi mungkin justru karena sederhana, ia menjadi begitu sulit untuk diwujudkan.

Indonesia, jika suatu hari nanti engkau benar-benar menjadi negeri yang kami impikan, jangan lupakan mereka yang pernah memperjuangkannya ketika semuanya belum sempurna. Dan jika kami tidak sempat melihat hari itu, tidak apa-apa. Biarkan anak-anak kami yang melihatnya. Biarkan cucu-cucu kami yang menikmatinya. Sebab cinta kepada negeri tidak selalu berarti menikmati hasil perjuangan. Kadang cinta berarti menanam sesuatu yang kita tahu mungkin tidak akan sempat kita nikmati.

Indonesia, aku masih percaya kepadamu. Bukan karena aku tidak melihat lukamu. Justru karena aku melihat lukamu, aku memilih untuk percaya. Aku percaya rakyatmu masih punya nurani. Aku percaya anak-anak mudamu masih punya mimpi. Aku percaya gurumu masih punya ketulusan. Aku percaya ilmuwanmu masih punya pikiran. Aku percaya senimanmu masih punya suara. Aku percaya orang-orang baik belum benar-benar pergi.

Dan selama mereka masih ada, Indonesia belum kalah. Maka berdirilah, Indonesia. Bukan sebagai bangsa yang paling kuat. Tetapi sebagai bangsa yang paling berani memperbaiki dirinya. Berdirilah dengan hukum yang adil. Dengan pendidikan yang bermutu. Dengan pemimpin yang amanah. Dengan rakyat yang berdaulat. Dengan demokrasi yang bernyawa. Dengan keberagaman yang tidak sekadar dirayakan, tetapi dihormati. Berdirilah. Sebab dunia tidak membutuhkan Indonesia yang sempurna. Dunia membutuhkan Indonesia yang jujur kepada dirinya sendiri.

Dan jika suatu hari anak cucu kita bertanya: “Apakah kalian pernah berjuang untuk membuat Indonesia menjadi lebih baik?” Semoga kita dapat menjawab: “Ya.”

Mungkin kami tidak menang dalam setiap pertarungan. Mungkin suara kami pernah dianggap bising. Mungkin langkah kami pernah dianggap sia-sia. Mungkin kami pernah sendirian. Tetapi kami tidak menyerah. Kami tetap menanam. Kami tetap mendidik. Kami tetap bekerja. Kami tetap berkata benar. Kami tetap menjaga nurani. Kami tetap mencintai negeri ini. Dan ketika zaman meminta kami untuk membungkuk, kami memilih berdiri.

Indonesia, jika engkau adalah rumah, maka kami adalah penghuninya. Jika engkau adalah amanah, maka kami adalah penjaganya. Jika engkau adalah masa depan, maka kami adalah orang-orang yang harus memperjuangkannya. Dan jika suatu hari semuanya terasa terlalu berat, ingatlah: bangsa ini pernah lahir dari keberanian orang-orang yang menolak percaya bahwa kemerdekaan adalah sesuatu yang mustahil.

Maka hari ini, ketika tantangannya berbeda, ketika musuhnya tidak selalu berwajah manusia, ketika penjajahan bisa datang dalam bentuk keserakahan, kebodohan, korupsi, ketidakadilan, dan ketakutan, kita harus mengulang keberanian yang sama. Bukan dengan senjata tetapi dengan nurani. Bukan dengan kebencian tetapi dengan kebenaran. Bukan dengan kekerasan tetapi dengan keteguhan.

Indonesia, kami mencintaimu.  Karena itu, kami tidak akan selalu memujimu. Kami akan mengingatkanmu ketika engkau keliru. Kami akan mengkritikmu ketika engkau menyimpang. Kami akan menjagamu ketika engkau terluka. Kami akan membelamu ketika engkau dihina. Dan kami akan terus berjuang agar rumah besar ini tidak hanya megah dari luar, tetapi juga mulia dari dalam.

Sebab pada akhirnya, Indonesia bukan sekadar tanah yang kita pijak. Indonesia adalah nilai yang kita jaga. Indonesia adalah amanah yang kita wariskan. Indonesia adalah keberanian untuk tetap menjadi manusia ketika dunia sedang mengajarkan kita untuk menjadi serigala.

Dan selama masih ada satu hati yang mencintainya, satu tangan yang membangunnya, satu suara yang membelanya, satu manusia yang berani berkata benar, maka harapan itu belum mati. Indonesia belum selesai. Indonesia belum kalah. Indonesia masih punya kita. Dan selama kita masih berdiri, Indonesia akan tetap berdiri. Indonesia tetap di hati.

Garut, 12 September 2026
Aku yang mencintaimu

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *