oleh

Eksistensi Majalah Risalah NU, Risalah Persis dan Hidayatulloh di Pusat Distribusi Media Cetak Cikapundung

Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat)

Majalah Risalah NU sebagai media cetak yang resmi diterbitkan oleh Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) melalui Lajnah Ta’lif wan Nasyr (LTN). Isi Majalahnya menyajikan berita kegiatan organisasi dari pelosok desa di Indonesia hingga luar negeri, wawasan keislaman, tradisi ke-NU-an, serta isu-isu kebangsaan.

Selanjutnya, ada Majalah Risalah media cetak resmi Persatuan Islam (PERSIS) yang diterbitkan sejak tahun 1962. Majalah yang telah lama hadir sebagai warisan sejarah dakwah PERSIS, bertujuan untuk menghubungkan pemikiran dan kajian keislaman antar generasi.

Serta Majalah Hidayatullah yang pertama kali diterbitkan pada tahun 1988 oleh ormas Islam Hidayatullah yang berfokus pada gerakan dakwah, pendidikan, dan pelayanan umat. Ormas yang berdiri pada 5 Februari 1973 di Balikpapan Provinsi Kalimantan Timur.

Eksistensi ketiga media cetak itu, terlihat di kawasan Cikapundung Timur, tepatnya Jalan Dr. Ir. Soekarno. Sejak 1970-an, sepanjang jalan tersebut, hingga Jalan Banceuy menjadi salah satu pusat distribusi surat kabar di Kota Bandung.

Di lokasi itu, aneka surat kabar dalam bentuk koran, majalah, tabloid, masih cukup lengkap dijual. Setidaknya untuk skala Kota Bandung, kawasan ini yang menjual surat kabar dengan variasi media terbanyak.

Sebagai pusat distribusi koran, Cikapundung menjadi tempat bertemunya para agen dan loper koran yang menyuplai berbagai surat kabar atau bahan bacaan rutin ke seluruh penjuru wilayah Bandung raya.

Sejak pukul 04.00 WIB, mereka sudah memulai aktifitas harianya. Para loper (pengantar) koran dan distributor koran nampak berdatangan. Dengan menggunakan sepeda motor yang sudah dipasangi tas khusus di bagian jok belakang atau mobil pengangkut koran. Para loper koran yang memakai motor, sepeda atau jalan kaki, mereka bersiap mengambi koran-koran dari agen untuk dijual sepagi mungkin.

Di era bertumbuhnya media online atau daring, tak menghilangkan potret tersebut. Sehingga masih dijumpai sampai hari ini. Walau kondisinya tak sepadat dulu, tetapi tetap ada kesibukan distribusi media cetak, saat menjelang subuh hingga waktu dhuha.

Selain itu, kehadiran surat kabar edisi sore yang sekarang menjadi kenangan. Dua puluh tahun lalu, telah membuat suasana di Cikapundung bahkan masih ramai oleh aktifitas distribusi koran hingga sore hari. Agen koran biasanya akan mendapat kiriman koran sore dari beberapa media cetak yang menerbitkannya untuk dijual khusus sore harinya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *