oleh

Majalah Risalah dan Satu Abad NU

Penulis: Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Majalis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / LTN MWC NU Katapang)

“Tahun ini Nahdlatul Ulama berusia 100 tahun atau satu abad dalam hitungan masehi. Selama perjuangan menyebarkan agama islam, Nahdlatul Ulama dibarengi oleh media cetak”

Pada tahun ini, ada makna filosofis dalam Logo Harlah 1 Abad NU. Angka 100 dalam logo melambangkan satu abad perjalanan Indonesia sebagai bangsa yang merdeka, matang, dan berpengalaman dalam menghadapi dinamika zaman.

Seratus tahun bukan sekadar usia, tetapi simbol kematangan, evaluasi, dan tonggak sejarah besar. Bentuk solid menunjukkan keteguhan bangsa setelah perjalanan panjang.

Angka 1 pada logo menjadi simbol fondasi awal kemerdekaan yang berakar kuat pada nilai moral, spiritualitas, harapan, dan pertumbuhan. Warna hijau yang digunakan mencerminkan keberlanjutan serta komitmen untuk menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Warna hijau melambangkan awal perjuangan bangsa dan fondasi moral-spiritual Indonesia Merdeka, sebagai akar nilai yang menopang perjalanan 100 tahun berikutnya.

Sementara itu, dua angka 0 berwarna emas melambangkan kejayaan, kemuliaan, dan capaian peradaban. Warna emas merepresentasikan cita-cita besar Indonesia untuk menjadi bangsa yang unggul, bermartabat, dan berkelas di tingkat global.

Bentuk lingkaran pada angka nol juga bermakna kesempurnaan dan kesinambungan. Secara keseluruhan, desain logo yang membulat dan solid menggambarkan kesinambungan, persatuan, serta kekokohan bangsa dalam merajut masa lalu, masa kini, dan masa depan.

Selama perjuangannya, Nahdlatul Ulama dibarengi oleh media cetak atau Majalah untuk mengabarkan dan mempublikasikan kegiatannya sejak Shafar 1347 H bertepatan dengan tahun 1928 M. Majalah pertama NU ini ditulis dengan bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon.

Dalam buku sejarwan NU asal Surabaya, Choirul Anam, menjelaskan perkembangan media milik PBNU telah didirikan sejak berkantor di Surabaya. Para ulama pendiri NU mengetahui betul peran media dalam penyebaran dan eksistensi untuk mengembangkan organisasi dan ajaran Islam.

Dalam terbitan pertamanya, majalah dengan Nama Swara Nahddlatoel Oelama itu dengan redaktur KH Wahab Chasbullah, Direktur Kiai Mas Badul Kohar dan pengarang KH Ahmad Dahlan, KH Mas Alwi bin Abdul Azis dan KH Ridwan.

Majalah NU itu berkantor di Jalan Kawatan Gang Onderling Belang Nomor 9 Surabaya.  Isi majalah selain memberitakan internal kegiatan dan perjuangan NU, juga memuat perkembangan dunia Islam, kondisi pemerintahan dan juga ilmu pengetahuan.

Tentang pemasaran, para pendiri NU dan pengelola majalah tersebut sangat memahami pasar. Bahkan daftar harga berlangganan majalah dicantumkan. Untuk satu tahun berlangganan seharga 2,50; setengah tahun 1,40, tiga bulan 0,75.

Langganan luar daerah dikenakan berbeda terkait ongkos kirim dan ditentukan “uang harus dibayar lebih doeloe.” Tidak hanya soal berlangganan, harga advetorial atau iklan juga sudah tercantum, baik untuk halaman muka maupun yang di dalam.

Dalam perkembangannya, Majalah Berita Nahdlatul Oelama pada tahun ke-6 atau 1936 H, sudah mencantumkan iklan sebuah toko yang menjual jas dan piayama.

Perkembangan majalah NU itu menjadi bukti diminatinya oleh pembaca atau masyarakat. Kemudian dibuatlah majalah “Berita Nahdlatul Oelama”, “Oetoesan Nahdlatul Ulama” dengan bahasa bahasa Indonesia.

Perkembangan yang cukup pesat dan untuk keberlangsungan percetakan, KH Wahab Chasbullah bersama beberapa kawannya urunan membeli mesin cetak sendiri. “Begitulah totalitas KH Wahab kepada NU. Sepanjang hidupnya utuk mengembangkan NU,”

Sedangkan hingga tahun ini, di antara Majalah yang masih terbit ialah Majalah Risalah NU  sebagai  bahan bacaan penting dan relevan bagi santri, serta warga Nahdlatul Ulama (NU). Dengan memuat konten keislaman khas NU, laporan kegiatan pesantren, tradisi keilmuan, tausiyah kiai, hingga isu-isu sosial keagamaan yang dibahas mampu mencerahkan dan menyejukkan atau menjadi solusi dari permasalahan yang muncul di tengah masyarakat.

Isi dan fokus majalah Risalah NU, tentang liputan mendalam amaliah khas di pesantren, kegiatan PBNU, dan publikasi kegiatan ibadah wajib dan sunah yang rutin dilaksanakan oleh umat islam. Halaman keagamaan yang memuat tausiyah dari Rais ‘Aam, Tanfidyah, kajian tafsir, khutbah, turots (kajian kitab kuning) dan rubrik Aswaja (Ahlussunnah Wal Jamaah). Serta berita NU seputar informasi gerakan dan kegiatan NU di tingkat daerah, nasional dan internasional.

Sehingga Majalah Risalah NU penting bagi santri untuk menjadi tambahan referensi beragama, beramal dan berorganisasi. Sebab dapat menjadi bagian pedoman dengan memberikan perspektif keislaman yang moderat dan berwawasan kebangsaan. Memperkuat identitas NU untuk memperkenalkan kembali organisasi islam terbesar di Indonesia kepada masyarakat, melalui media massa yang resmi diterbitkan oleh Lajnah Talif wa Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Menjembatani antara kiai dan santri atau menjadi sarana komunikasi & inspirasi antara ulama sepuh hingga generasi muda pesantren. Serta menjadi sumber sanad penghubung keilmuan dari ulama terdahulu kepada kalangan santri.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *