oleh

Kisah Penyaluran Kurban Rumah Amal di Pelosok NTT dan Papua

(Koran SINAR PAGI)-, Suasana Idul Adha tahun ini terasa berbeda bagi warga Kampung Lamakera, Desa Motonwutun, Kecamatan Solor Timur, Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Setelah bertahun-tahun tidak melaksanakan penyembelihan hewan kurban di wilayah mereka, untuk pertama kalinya warga di Mushola Baburrahmah, Tanjung Motonwutun, dapat menikmati kurban bersama.

Satu ekor sapi bantuan dari Rumah Amal Salman menjadi hewan kurban pertama yang disembelih di wilayah tersebut setelah sekian lama. Sebelumnya, pelaksanaan kurban biasanya hanya terpusat di Masjid Al Ijtihad, Watobuku, karena keterbatasan akses dan persoalan administrasi wilayah.

Kepala Desa Motonwutun, Mirdan Muhammad, menyampaikan ucapan terima kasih kepada Rumah Amal, karena mereka berkesempatan menjadi mitra kurban untuk menyalurkan kurban di wilayah mereka. Meski terkendala pendistribusian sebab akses ke desa tidak mudah, hewan kurban disambut antusias oleh warga. Maklum saja, dalam keseharian pun mereka jarang mengonsumsi daging merah, karena daerah mereka cenderung tinggal di pesisir pantai, sehingga keseharian hanya bisa mengonsumsi ikan.

“Warga di sini sehari-hari lebih banyak makan ikan, karena tinggal di wilayah pantai. Kalau dihitung, mungkin dalam setahun hanya tujuh sampai sepuluh kali makan daging,” ujar Mirdan.

Sapi berbobot sekitar 300 kilogram itu kemudian disembelih dan dagingnya dibagikan kepada 203 warga. Menurut Mirdan, meski hanya satu ekor sapi, masyarakat merasa sangat bersyukur, karena momen kurban memiliki arti penting, bukan hanya secara ekonomi tetapi juga spiritual.

“Momen kurban ini menjadi yang sangat ditunggu oleh warga. Terlebih kami juga ingin menjalankan sunnah para nabi, dimana kurban dimaknai bukan hanya tentang menyembelih, tetapi juga sebagai bentuk refleksi ketaatan, keikhlasan, dan kesabaran dalam menghadapi dinamika kehidupan sosial,”ucapnya

Ia juga menambahkan harapan agar kehadiran Rumah Amal Salman tidak berhenti tahun ini. Semoga penyaluran kurban ke wilayahnya dapat terus berlanjut pada tahun-tahun mendatang sehingga masyarakat di daerah terpencil tetap dapat merasakan kebahagiaan Idul Adha.

Selain kisah Lamakera NTT, kisah inspiratif penyaluran pelosok lainnya juga ada di Darul Abror Desa Majener, Papua Barat. Di wilayah yang mayoritas penduduknya nonmuslim itu, pelaksanaan kurban memerlukan koordinasi dan izin dari tokoh setempat.

Penanggung jawab penyaluran kurban Darul Abror, Dzikri Syahrial Habibi, mengatakan umat Islam di wilayah tersebut tetap berupaya menjaga tradisi dan syiar Islam melalui pelaksanaan kurban.

“Walaupun kami minoritas, kami ingin tetap menghidupkan budaya Islam dan berbagi kepada sesama, termasuk salah satunya melalui momen kurban ini,” ujar Dzikri.

Ia menambahkan, daging kurban tidak hanya dibagikan kepada warga Muslim, tetapi juga kepada tetangga nonmuslim di sekitar pesantren. Menurut dia, hal itu menjadi simbol kebersamaan dan toleransi antarwarga.

Dzikri mengaku bantuan kurban tahun ini memberi semangat baru bagi masyarakat setempat. Bahkan, panitia kurban mulai berinisiatif membuat tabungan kurban agar tahun depan tetap bisa melaksanakan penyembelihan kurban di lokasi mereka.

“Kami sangat berterima kasih, karena penyaluran dari Rumah Amal Salman sangat berpegaruh kepada kami untuk semakin semangat menjaga syiar Islam, terutama saat hari raya kurban,” katanya.

Ketua Pelaksana Kurban 1447 Hijriah Rumah Amal Salman, Didi Riyadi, menyambut kisah dari pelosok dengan penuh suka cita. Ia menambahkan memang tahun ini pihaknya menargetkan memperluas distribusi hewan kurban ke daerah-daerah minim kurban di berbagai wilayah Indonesia, mulai dari Aceh hingga Papua.

Menurut dia, program tersebut tidak hanya bertujuan membantu masyarakat yang jarang menikmati daging, tetapi juga mempererat nilai kebersamaan dan toleransi sosial di daerah terpencil.

“Selain ingin menjangkau penyalurkan ke daerah minim kurban, ini juga menjadi ikhtiar dakwah ke pelosok untuk mempererat rasa toleransi kebersamaan antar umat beragama,” imbuhnya.

Tahun ini, Rumah Amal Salman bersama Masjid Salman ITB menghimpun 119 ekor sapi dan 997 ekor domba. Hewan kurban itu disalurkan ke berbagai daerah, termasuk wilayah terdampak bencana banjir dan longsor di Sumatera.

Sebanyak 13 ekor sapi didistribusikan ke Sumatera Barat, Sumatera Utara, dan Aceh, sementara dua ekor sapi lainnya disalurkan ke Pasir Langu, Cisarua.

Dalam pelaksanaannya, Rumah Amal Salman bekerja sama dengan 30 masjid kampus dan total 120 mitra di 26 provinsi. Hewan kurban yang disalurkan juga berasal dari peternak binaan sehingga program tersebut diharapkan ikut mendukung pemberdayaan peternak lokal.

“Kami berharap manfaat kurban ini semakin luas dan dapat dirasakan lebih banyak masyarakat di berbagai daerah,” ujar Didi. Ia juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pengkurban, mitra distribusi dan mitra kolaborator diantara yaitu BPKH RI, Bank Muamalat,  Baitulmaal Muamalat, DT Peduli, Lazissu, Kahf atas dukungan kurban terbaik 1447 H.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *