oleh

Pinjol Subur Di Tengah Rakyat Yang Hancur

Oleh: Heni Ruslaeni( Aktivis Muslimah)

Di tengah gencarnya narasi “ekonomi tumbuh”, rakyat justru menghadapi kenyataan yang pahit, dipaksa hidup dari utang ke utang. Hidup semakin mahal, sementara penghasilan semakin tak mampu mengejar kebutuhan. Di banyak rumah, pembicaraan tentang masa depan bukan lagi soal cita- cita, tetapi soal bagaimana bisa bertahan sampai akhir bulan. Fakta terbaru menunjukkan total pinjaman online (pinjol) masyarakat Indonesia mencapai Rp98,54 triliun pada Januari 2026 dan naik sekitar 25 persen dibanding tahun sebelumnya. Angka demi angka menunjukan pelemahan yang tidak bisa di anggap sepele. Di tengah jeritan rakyat yang makin terhimpit kehidupan, penguasa justru masih menilai kondisi ekonomi ” aman”. Padahal di lapangan rakyat menengah-bawah sedang berjuang keras mempertahankan hidup.

Hari ini rakyat kecil menghadapi tekanan berlapis. Di balik angka triliunan rupiah itu, harga kebutuhan pokok naik. Ada seorang ibu rumah tangga yang bingung membayar kebutuhan dapur, ada pekerja yang gajinya habis sebelum akhir bulan, ada anak muda yang terjebak gali lubang tutup lubang, bahkan ada keluarga yang kehilangan ketenangan hidup karena diteror penagih utang. Kondisi ini memperlihatkan betapa rakyat sedang berada dalam kondisi terhimpit. Pinjol hari ini bukan lagi fenomena kecil. Ia telah berubah menjadi “alat bantu bertahan hidup” bagi masyarakat yang semakin sulit memenuhi kebutuhan dasar. ini sering dipahami secara dangkal. Rakyat dituduh konsumtif, malas mengatur keuangan, atau kurang literasi finansial. Padahal persoalannya jauh lebih dalam ada kerusakan sistemik yang sedang bekerja. Yang menyedihkan, solusi yang diberikan pemerintah justru menambah utang, membuka keran investasi asing lebih lebar, menaikan berbagai pungutan, dan menyerahkan banyak sektor strategis kepada swasta maupun asing. Akibatnya kekayaan negeri ini mengalir ke korporasi, sementara rakyat hanya mendapat sisa- sisa kesejahteraan.

Sistem ekonomi kapitalisme menjadikan materi sebagai tujuan utama. Negara lebih berperan sebagai regulator pasar daripada pengurus rakyat. Akibatnya, kebutuhan pokok seperti pangan, pendidikan, kesehatan, hingga perumahan diserahkan pada mekanisme bisnis. Harga terus naik, sementara penghasilan rakyat tidak bertambah secara layak. Lapangan kerja makin sempit, PHK meningkat, dan jaminan hidup makin rapuh. Dalam kondisi terdesak seperti itu, pinjol hadir bak “penolong”. Hanya bermodal KTP dan ponsel, uang cair dalam hitungan menit. Namun di balik kemudahan itu tersembunyi jerat riba yang mencekik. Bunga tinggi, denda berlipat, serta tekanan penagihan membuat rakyat semakin tenggelam dalam kubangan utang.

Inilah wajah asli sistem ribawi: memberi ilusi solusi, padahal sedang memperpanjang penderitaan.

Dalam kapitalisme, ukuran keberhasilan ekonomi bukan kesejahteraan rakyat, sebab dalam sistem ini, lembaga keuangan mendapatkan keuntungan besar dari bunga dan cicilan. Semakin banyak rakyat terjerat utang, semakin subur bisnis finansial. Maka jangan heran jika pinjol terus tumbuh, aplikasi kredit semakin menjamur, dan budaya konsumtif terus dipromosikan. Semua itu saling berkaitan dalam satu ekosistem ekonomi yang berpihak pada pemilik modal. Akibatnya sangat berbahaya. Hubungan sosial rusak, stres meningkat, rumah tangga retak, bahkan tidak sedikit yang kehilangan harga diri karena terlilit utang. Generasi muda pun dibiasakan hidup dengan pola instan: belum punya uang tapi sudah diajarkan berutang. Akhirnya, utang dianggap biasa, padahal itu adalah jebakan yang menghancurkan masa depan.

Islam memiliki sistem ekonomi yang berdiri sendiri di atas akidah, bukan kepentingan korporasi. Islam tidak menjadikan pertumbuhan ekonomi semata sebagai tujuan. Dalam Islam, riba diharamkan karena menjadi alat kezaliman terhadap manusia. Allah SWT bahkan mengumumkan perang terhadap praktik riba. Sebab riba membuat yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin tercekik.
Islam tidak membangun ekonomi di atas utang konsumtif, tetapi di atas kesejahteraan riil dan tanggung jawab negara terhadap rakyat. Negara wajib menjamin kebutuhan pokok masyarakat: pangan, sandang, papan, pendidikan, kesehatan, dan keamanan. Negara juga wajib membuka lapangan kerja dan mengelola kekayaan alam untuk kepentingan rakyat, bukan korporasi.

Dalam sistem Islam, kekayaan tidak boleh berputar hanya di kalangan elit. Sumber daya alam seperti tambang, energi, dan hutan adalah milik umum yang hasilnya dikembalikan untuk kesejahteraan rakyat. Dengan mekanisme itu, rakyat tidak dipaksa bertahan hidup lewat pinjaman berbunga. Islam juga membangun budaya hidup sederhana, produktif, dan penuh keberkahan. Bukan budaya gengsi, konsumtif, dan berlomba memuaskan hawa nafsu seperti yang diproduksi kapitalisme hari ini.
Karena itu, melonjaknya angka pinjol sejatinya bukan keberhasilan sektor keuangan digital, melainkan tanda kegagalan sistem dalam menyejahterakan rakyat.

Ketika rakyat harus berutang untuk makan, membayar sekolah, atau bertahan hidup, maka sesungguhnya ada yang rusak dalam tata kelola negeri ini. Problem Akar persoalannya adalah sistem kehidupan yang menjadikan riba sebagai pondasi ekonomi. Selama kapitalisme ribawi tetap dipertahankan, rakyat akan terus hidup dalam kecemasan dan jeratan utang. Islam bukan sekadar memberi nasihat moral, tetapi menawarkan sistem hidup yang menyeluruh. Sistem yang memuliakan manusia, menjaga harta, dan menutup pintu-pintu kezaliman. Maka solusi hakiki atas krisis pinjol bukan sekadar pembatasan aplikasi atau penurunan bunga, melainkan perubahan mendasar menuju sistem ekonomi Islam yang berlandaskan syariat dan keberpihakan nyata kepada rakyat. Sudah saatnya umat menyadari bahwa bukan sekedar pergantian kebijakan atau pergantian pemimpin, tetapi perubahan sistem secara menyeluruh. Sebab hanya dengan Islam yang datang dari zat yang maha mengetahui kebutuhan manusia. Dan hanya aturan Allah yang mampu menyelamatkan manusia dari kesempitan hidup menuju keberkahan dan keadilan yang hakiki. Wallahhu’alam bishawab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *