Oleh: Emy (Aktivis muslimah)
Tim SAR gabungan terus berpacu dengan waktu dalam operasi pencarian korban tanah longsor di Desa Pasirlangu, kecamatan Cisarua, kabupaten Bandung Barat, Minggu (12/2026). Memasuki hari kesembilan, fokus utama petugas adalah menemukan 10 korban yang hingga kini masih dinyatakan hilang. Ratusan personil gabungan dari Basarnas, TNI, Polri, dan relawan kembali disiagakan sejak pagi hari untuk menyisir titik-titik yang diduga menjadi lokasi tertimbunnya korban. Untuk mempercepat proses evakuasi di Medan yang tertutup material tanah tebal, tim sar tidak hanya mengandalkan tenaga manusia. Sebanyak 18 unit alat berat telah di terjunkan ke lokasi bencana untuk mengeruk timbunan tanah. Selain alat berat K-9 dengan anjing pelacak juga dikerahkan untuk mendeteksi keberadaan jasad di balik reruntuhan dan material longsor. Hingga saat ini, total temuan korban yang telah dievakuasi mencapai 70 kantong jenazah (bodypack). Meskipun pencarian tetep berjalan, faktor cuaca menjadi kendala utama yang sangat berpengaruh terhadap keselamatan personel dan kelancaran operasi. Pihak Basarnas memastikan operasi akan terus dilanjutkan hingga beberapa hari kedepan sesuai dengan prosedur yang berlaku, dengan harapan seluruh korban yang tersisa dapat segera ditemukan dan diserahkan kepada pihak keluarga.
Dari akhir tahun 2025 hingga awal tahun 2026 Negeri ini kerap dilanda bencana, mulai dari Gempa, banjir dan juga longsor. Setelah wilayah Sumatera dan Aceh, belum lama ini bencana longsor terjadi di wilayah Cisarua, Bandung Barat. Dalam musibah itu, mengakibatkan duka yang mendalam dengan puluhan korban jiwa dan beberapa orang lagi belum ditemukan. Belum lagi rumah-rumahan hancur, harta benda dan juga ternak tertimbun oleh longsor. Kejadian ini tentu tidak terjadi dengan sendirinya, tentu ada sebab akibatnya. Pada sistem sekulerisme alam dijadikan komoditas ekonomi, sungai, hutan diperhitungkan keuntungannya, gunung dimanfaatkan tambangnya itulah sistem kapitalisme segala sesuatu didasarkan atas asas manfaat. Oleh karena itu, tidak peduli dampak yang akan terjadi akibatkanya rakyatlah yang menjadi korban. Keinginan rakyat untuk hidup nyaman dan sejahtera hanyalah ilusi, semua musnah tertimbun oleh banjir dan longsor.
Memang saat ini, kawasan asli Cisarua telah banyak perubahan. Peralihan fungsi hutan telah terjadi, pohon-pohon yang rindang telah disulap menjadi perkebunan sayuran dan bunga yang berwarna-warni. Perubahan itu dianggap hal yang biasa, karna dianggap bagian dari usaha meningkatkan perekonomian desa. Namun, dibalik itu ada dampak longsor yang suatu saat akan terjadi. Ditambah lagi, peralihan fungsi perkebunan hijau menjadi kawasan perumahan menambah dampak resiko banjir dan longsor. Pada dasarnya, memang Indonesia berpotensi darurat bencana banjir dan longsor. Setelah mengetahui potensi wilayahnya terancam bencana, seharusnya pemerintah bertindak serius dalam menangani sebelum ataupun setelah pasca bencana, agar tidak berakibat patal. Dan resiko yang terjadi saat terjadi bencana tidak sampai menelan banyak korban jiwa.
Sistem kapitalisme telah melahirkan dan membentuk manusia yang serakah, tidak memikirkan dampak dan azab dari Allah SWT. Demi memenuhi hawa nafsunya, segala cara sekalipun merusak kekayaan alam yang seharusnya dikelola sebaik-baiknya untuk kesejahteraan rakyat malah dirusak demi mendapatkan keuntungan. Negara memberikan ruang bisnis kepada para investor aseng dan asing untuk mengelola sumber daya alam ini, sementara negara sendiri hanya berperan sebagai regulator saja.
Dalam Islam, negara akan sungguh-sungguh berperan atas pengurusan rakyatnya. Negara akan merawat dan mengelola sebaik-baiknya sumber daya alam untuk kemaslahatan, dan akan bertindak tegas jika ada yang merusaknya. Seperti yang tercantum dalam Al Qur’an, “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan perbuatan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian akibat perbuatannya supaya mereka kembali ke jalan yang benar (Q,S Ar-Rum, 41). Dalam Ayat ini jelas-jelas menerangkan, bahwa bencana yang terjadi bukan sekedar fenomena alam belaka, akan tetapi akibat perbuatan tangan-tangan manusia yang merusak dan tidak bertanggung jawab.
Dalam sistem Islam, Negara sebagai pengurus, pelindung sekaligus bertanggung jawab kepada seluruh rakyatnya termasuk saat terjadi bencana. Pemerintahan dalam sistem Islam, merujuk pada aturan-aturan syariat Islam yang bersumber dari Allah SWT. Jadi solusi hakiki adalah penerapan Islam secara kaffah, karena dengan Islam kaffah dalam pengelolaan alam berdasarkan amanah, bukan mengejar keuntungan. Disaat syariat Islam dijalankan, maka kesejahteraan dan keberkahan akan terwujud, dan kehancuran akan sirna. Oleh karena itu, kembalilah kepada sistem Islam yang kaffah yang akan membawa keberkahan dunia dan akhirat kelak.
Wallahu alam Bis’showab.










Komentar