Oleh : Iin Haprianti
Beberapa waktu terakhir ini berita tentang konflik di Sudan ramai di media masa. Sebenarnya, hal tersebut sudah lama terjadi, namun ada pihak-pihak yang sengaja menutupi. Selain itu, peristiwa genosida di Gaza- Palestina lebih banyak terekspos di media, terutama di media online, sehingga apa yang terjadi di Sudan selama ini luput dari mata dunia, karena tidak ada media yang meliput, tidak ada para influencer atau artis yang memberitakan, sehingga dunia seolah bungkam dengan krisis di Sudan, padahal dibalik semua itu, kengerian banyak terjadi.
Seperti yang terjadi pada tangal 26 Oktober 2025, lebih dari 2000 orang diduga tewas dalam pembantaian masal, 393 orang warga terusira dari tempat tinggalnya, dan 1,2 juta penduduk kota dibiarkan lapar dan bertahan hanya dengan memakan pakan hewan. Selain itu, terjadi pemerkosaan kepada kaum perempuan sebelum dibunuh bersama anak-anak mereka, para laki-lakinya, tua maupun muda, disiksa dengan kejam, digantung ditempat-tempat umum, lalu ditembak secara masal. Peristiwa ini adalah puncak krisis yang sudah berlangsung lama. Cara-cara yang dilakukan RSF (Paramiliter Pasukan Dukungan Cepat) sangat brutal dalam melakukan genosida. Sebenarnya ada apakah di balik krisis di Sudan yang makin membara?
Sudan merupakan negara terbesar ketiga di Afrika yang mayoritas penduduknya muslim. Memiliki piramida lebih banyak, dan sungai nil lebih panjang di Mesir. Kekayaan sumber daya alam yang melimpah seperti, minyak bumi, gas alam, dan emas terbesar. Negara ini pun kaya akan mineral industri seperti, bijih besi, tembaga, kromit, mangan, gipsum, seng, dan uranium. Sudan juga memiliki lahan subur dan potensi besar di sektor pertanian seperti, kapas, wijen, sorgum, dan milet, hingga Sudan dijuluki sebagai “Keranjang makanan” Afrika.
Sesungguhnya apa yang terjadi di Sudan selama ini, yang diberitakan oleh media Barat disebabkan oleh konflik etnis, sesungguhnya tidak benar. Telah tampak adanya keterlibatan negara adidaya (AS) dan Inggris di sana, yang juga melibatkan negara-negara lainnya semisal Israel dan Uni Emirat Arab (UEA). Hal ini terkait perebutan pengaruh AS dan Inggris demi kepentingan politik mereka.
Dulu Inggris- lah yang menguasai Sudan sepenuhnya. Namun, AS sebagai negara kapitalisme global saat ini tidak mau diam. Sudah dapat terbaca di balik kepentingan dua negara ini, tidak lain ingin menguasai Sudan dengan kekayaan alamnya yang melimpah ruah. AS mempunyai taktik agar krisis Sudan terus terjadi, hingga memecah belah Sudan untuk melemahkannya dan akhirnya mudah dikuasai.
Demi kekuasaan itulah Barat membuat tipu muslihat, yang menarasikan krisis di Sudan merupakan konflik etnis atau perang saudara. Padahal krisis Sudan merupakan sekenario licik negara adidaya, dengan melibatkan negara-negara boneka dan antek lainnya. Targetnya adalah memecah belah umat Islam, supaya negeri Islam dengan ideologinya mampu dikuasai dari segala hal, yaitu ekonomi, sosial, politik, budaya. Sehingga Islam terpecah belah menjadi negara-negara bangsa, lalu dikuasai dan mampu dijauhkan dari identitas ke Islamannya. Pada akhirnya digantikan oleh Ideologi Kapitalisme Sekuler buatan Barat.
Untuk krisis di Sudan organisasi internasional seperti PBB memang tidak berdiam diri. Bahkan berbagai macam perundingan, kecaman, bahkan sanksi pun dilakukan. Tetapi tidak mampu memberikan pengaruh apapun, yang menunjukkan bahwa PBB tidak berkutik di tengah kekuatan negara adidaya AS. Ya, begitulah ketika berhukum kepada hukum buatan manusia, yaitu kapitalisme-demokrasi solusi yang dihadirkan hanyalah solusi semu, karena sistem kapitalisme demokrasi dirancang hanya untuk kepentingan elit kapitalis saja.
Maka dari itu, saatnya umat Islam di manapun mereka berada, sadar bahwa sistem kapilisme demokrasi tidak akan memberikan kebaikan bagi mereka, tapi justru memberikan keburukan dunia dan akhirat. Umat Islam harus kembali kepada identitas mereka sebagai hamba Allah, yang hanya harus tunduk kepada aturan Allah dengan menerapkan nya dalam kancah kehidupan. Sejarah Islam telah menunjukkan tentang kemampuan Islam sebagai sebuah ideologi mampu menyelesaikan berbagai macam problematika kehidupan, baik politik, ekonomi, sosial budaya, dan lain-lain.
Penerapan sistem Islam telah mewujudkan peradaban yang tangguh selama sekitar 14 abad lamanya, yang menaungi 2/3 belahan dunia diatur dengan Islam, sehingga tercipta rahmatan lil’alamin, yaitu sejak kepemimpinan Rasulullah saw, para Khulafaurasydin, Bani Umayyah, Bani Abhasiyah, dan terakhir Bani Utsmaniyah.
Pada saat itu hukum Allah SWT diterapkan secara kaffah oleh sebuah institusi negara, yang menjamin kesehatan, pendidikan, dan keamanan bagi rakyat. Hingga kesejahteraan dan keadilan dirasakan oleh semua masyarakat, baik yang muslim maupun non muslim. Hal ini sebagaimana yang telah Allah janjikan dalam firman-Nya, yang artinya.:
” Seandainya penduduk suatu negeri beriman dan bertakwa, niscaya Kami akan limpahkan berkah dari langit dan bumi…” (TQS Al- ‘ Araf;96)
Begitu pun jika umat Islam saat ini kembali menerapkan aturan Islam secara komprehensif sebagaimana yang Allah perintahkan, maka keberkahan itu pun akan terwujud kembali.
Wallahu’alam bishawab.









Komentar