oleh

Fenomena Mudik Peluang Memperluas Eksistensi Bahan Bacaan Masuk ke Pelosok Desa

Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat)

Fenomena mudik di Indonesia adalah tradisi tahunan yang masif menjelang Idulfitri, ketika para perantau pulang ke kampung halaman untuk silaturahmi sebagai peristiwa sosial-budaya multidimensional yang memperkuat nilai kekeluargaan, sekaligus memicu pertumbuhan ekonomi di perdesaan.

Dalam aspek fenomena mudik yang bersumber dari sosial & budaya, mudik mencerminkan kuatnya nilai kekeluargaan, melalui momen sungkeman (mohon maaf) kepada orang tua yang menguatkan hubungan kesukuan atau mengingatkan tentang asal usul dirinya. Istilah lain yang populer dari bahasa Jawa mulih dhisik (pulang dulu) atau dari bahasa Melayu udik (hulu/kampung).

Pada momen mudik, mereka terkadang membawa uang, makanan, pakaian atau hadiah lainnya untuk anak-anak di sekitar lingkungan dan anggota keluarganya. Namun sangat jarang mereka yang membawa bahan bacaan sebagai oleh-oleh untuk dibagikan. Padahal di pelosok desa yang jauh dari sumber bahan bacaan atau akses media cetak, cenderung sangat dibutuhkan. Apalagi kondisi saat ini, ketika anak-anak mulai perlahan-lahan menjauh dari permainan tradisionalnya, serta mereka lebih dekat dengan media sosialnya.

Maka sudah semestinya, selain hal-hal biasa yang sering dibagikan pada momen lebaran, perlu ditambah hal istimewa yang dapat bermanfaat jangka panjang bagi generasi ke depan yaitu bahan bacaan atau media cetak.

Mungkin ketika uang dibagikan, maka akan habis dibelanjakan, ketika makanan dibagikan akan habis termakan dan pakaian yang diberikan akan bertahan beberapa tahun ke depan. Tetapi ketika bahan bacaan yang dibagikan, maka tidak hanya dapat dinikmati oleh anak-anak saat ini, tetapi juga generasi setelahnya. Serta ketika bahan bacaan menjadi ilmu yang tersimpan dalam alam pikiran atau qolbu, maka hal itu dapat mudah dibagikan kepada siapapun dan manfaatnya akan semakin meluas.

Sehingga ke depannya menyertakan buku, ketika membagikan uang, makanan atau hadiah dalam berbagai momen akan menjadi kebiasan baru yang berpengaruh positif, serta mengakar untuk menumbuhkan masyarakat yang cinta ilmu dan berakhlak mulia.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *