oleh

Sosok Rian Firmansyah, Kalapas Majalengka yang Membawa Semangat Perubahan, Meningkat Prestasi

-Ragam-30 Dilihat

Pewarta: Euis Niki.

Koransinarpagionline.com,Majalengka,- Di balik tingginya angka over kapasitas di Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIB Majalengka, hadir sosok pemimpin baru yang membawa semangat perubahan, pembinaan, dan pendekatan humanis. Dia adalah Rian Firmansyah, Kepala Lapas Kelas IIB Majalengka yang mulai bertugas sejak 5 bulan lalu.

Saat berbincang bersama Tribun, Rian terlihat tenang dan terbuka menceritakan perjalanan hidup serta karier panjangnya di dunia pemasyarakatan.

“Dulu cita-cita sebenarnya ingin menjadi TNI, tetapi tapi Allah SWT memilih saya memilih jalan pengabdian ini. Ini juga menjadi jalan hidup yang harus dijalani dengan penuh tanggung jawab,” ujarnya.

Pria kelahiran Garut, 11 September 1985 itu memang baru sekitar lima bulan memimpin Lapas Majalengka. Namun dalam waktu singkat, berbagai program pembinaan, penguatan integritas, hingga pembinaan mental warga binaan mulai diperkuat.

Rian bukan sosok instan dalam dunia pemasyarakatan. Kariernya dibangun dari bawah dan ditempa di berbagai daerah, mulai dari Aceh hingga Sumatera Utara.

Meski lahir di Garut, masa kecil hingga SMA dijalaninya di Banda Aceh. Setelah itu, ia mengikuti pendidikan di Akademi Ilmu Pemasyarakatan dan lulus pada tahun 2006. Pendidikan hukumnya kemudian dilanjutkan hingga meraih gelar Magister Hukum dari Universitas Syiah Kuala pada 2013.

Kariernya dimulai sebagai Pengadministrasi Umum di Lapas Kelas IIB Langsa pada 2007. Sejak saat itu, satu demi satu tanggung jawab diembannya.

Ia pernah menjadi Bendahara Pengeluaran, Kasubsi Reg dan Bimkemas Lapas Narkotika Langsa, Kasubsi Bimkemas dan Perawatan Lapas Banda Aceh, hingga dipercaya menjabat Kasi Binadik dan Giatja Lapas Kuala Simpang.

Kariernya terus menanjak saat dipercaya menjadi Kasi Administrasi Kamtib dan Kepala Pengamanan Lapas di Sibolga, Sumatera Utara.

Setelah itu, Rian dipercaya memimpin Rumah Tahanan Negara Kelas IIB Tanjungpura, kemudian Karutan Banda Aceh, hingga akhirnya menjabat Kalapas Kelas IIB Lhoksukon sebelum dipindahkan ke Majalengka.

Pengalaman panjang itulah yang membentuk karakter kepemimpinannya hari ini.

Salah satu pengalaman paling membekas baginya terjadi saat memimpin lapas di Aceh Utara yang diterjang banjir besar. Dalam situasi sulit, ia bersama petugas harus mengevakuasi ratusan warga binaan selama lima hari dengan pasokan logistik terbatas.

Namun yang paling diingatnya, tidak ada satu pun warga binaan yang melarikan diri.

“Mereka justru ikut membantu petugas untuk bangkit setelah banjir,” kenangnya.

Kini di Majalengka, Rian dihadapkan pada tantangan baru. Lapas yang dipimpinnya dihuni 326 warga binaan, sementara kapasitas idealnya hanya 85 orang.

Meski demikian, ia tidak ingin over kapasitas hanya menjadi alasan tanpa solusi.

Menurutnya, lapas bukan sekadar tempat menjalani hukuman, tetapi tempat memperbaiki diri dan membangun masa depan yang lebih baik.

Karena itu, berbagai program pembinaan terus diperkuat. Mulai dari ketahanan pangan melalui budidaya sayuran, ternak ayam petelur, puyuh, hingga budidaya ikan nila dan lele yang dikelola langsung oleh warga binaan.

Tak hanya keterampilan, pembinaan mental dan kerohanian juga menjadi perhatian penting.

Di bawah kepemimpinannya, Lapas Majalengka memperkuat kolaborasi dengan Kementerian Agama Kabupaten Majalengka untuk pembinaan agama Islam dan penyuluhan agama Kristen secara rutin bagi warga binaan.

Rian juga memimpin langsung ikrar Zero Narkoba dan Handphone sebagai bentuk komitmen menciptakan lingkungan lapas yang bersih dari narkoba dan telepon genggam ilegal.

Langkah lain yang menjadi perhatian publik adalah keberhasilan program deradikalisasi di Lapas Majalengka.

Sebanyak dua narapidana terorisme mengucapkan ikrar setia kepada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dengan prosesi mencium bendera merah putih sebagai simbol kecintaan terhadap bangsa dan negara.

Bagi Rian, keberhasilan pembinaan bukan hanya soal keamanan lapas, tetapi bagaimana warga binaan bisa kembali menjadi manusia yang lebih baik ketika kembali ke masyarakat.

Momentum Idul Fitri pun dimanfaatkannya untuk memperkuat pendekatan pembinaan. Ia memimpin langsung pelaksanaan ibadah dan penyerahan remisi khusus kepada ratusan narapidana yang menunjukkan perilaku baik selama masa pembinaan.

Di tengah berbagai tantangan, Rian tetap memegang prinsip hidup sederhana yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil.

“Don’t wait until tomorrow what you can do today,” ujarnya.

Prinsip itu pula yang kini ia pegang dalam memimpin Lapas Majalengka. Ia ingin bekerja cepat, menjaga integritas, dan memastikan lapas menjadi tempat pembinaan yang benar-benar memberi harapan baru bagi warga binaan.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *