Pewarta: Brayan Da’iyan
(Koran SINAR PAGI)-, Hari Guru Nasional yang berlangsung setiap tanggal 25 November 2025 di Indonesia menjadi momen khusus untuk mengungkapkan sesuatu yang berhubungan dengan dunia pendidikan. Koran SINAR PAGI berupaya menghimpun ungkapan tersebut dari 12 tokoh yang fokus berkiprah dalam bidang pendidikan.

- Drs. Asep Tapip Yani, M.Pd., (Dosen Pasca Sarjana Universitas Mitra Bangsa Jakarta)
“Guru adalah pilar bangsa, yang menerangi jalan ilmu dan membentuk karakter generasi penerus. Mereka adalah pahlawan sejati, yang tak kenal lelah dan tak pernah berhenti memberikan yang terbaik. Selamat Hari Guru, terima kasih atas dedikasi dan pengabdianmu!”

- Wildan F. Mubarock M.Pd., Dosen Pendidikan Bahasa Indonesia Universitas Pakuan Bogor
“Guru adalah penjaga cahaya dalam perjalanan bangsa. Dari kelas yang sederhana, mereka menanamkan bahasa, rasa, dan harapan hingga setiap murid mampu membaca dunia dan menulis masa depannya sendiri. Di balik satu kata yang diajarkan guru, selalu ada doa, ketelatenan, dan cinta yang tak pernah diperhitungkan. Selamat Hari Guru; hormat kami untuk para pendidik yang setia menyalakan terang di tengah zaman yang berubah.”

- KH. Fathul Bari , S.S., M.Ag., (Pengasuh Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Malang)
“Guru memang bukan orang hebat, akan tetapi semua orang hebat berkat jasa guru”. Itulah kata orang bijak. Guru dalam bahasa Jawa merupakan akronim dari “digugu lan ditiru” (orang yang dipercaya dan diikuti), bukan hanya sekedar transfer of knowledge akan tetapi lebih dari itu ia mendidik moral dan spiritual atau menurut Ki Hajar Dewantoro, diistilahkan dengan “cipta, rasa, dan karsa” dan dalam taksonomi bloom dikenal dengan istilah Ranah Kognitif (aspek intelektual), Afektif (aspek emosional) dan Psikomotorik (keterampilan motorik).
Seorang guru amatlah mulia karena tanpa perantaranya manusia tidak akan mengenal tuhan-Nya. ulama berkata :
لولا المربي، ما عرفت ربي
Seandainya tidak ada guru, niscaya aku tidak mengenal Tuhanku [Kitab Hikmatul Isyraq]
Rasul SAW menerangkan kemuliaan guru dalam sabda beliau :
إنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ حَتَّى النَّمْلَةَ فِيْ جِحرِهَا وَحَتَّى الْحُوْتَ لَيُصَلُّوْنَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ
Sesungguhnya Allah, Malaikat-Malaikat-Nya, beserta penghuni langit dan bumi, bahkan semut yang berada dalam sarangnya, demikian pula dengan ikan-ikan; Semuanya berdo’a untuk orang-orang yang mengajarkan kebajikan pada manusia.” [HR Tirmidzi]

- Agus Saeful Muhram, S.Pd., (Ketua Yayasan Pendidikan SMA Mitra Dharma)
Guru sebagai agen peradaban, mereka kehadirannya untuk generasi bangsa tidak dapat digantikan oleh kecanggihan teknologi.
“Seperti dalam proses mewujudkan karakter Panca Waluya yang terdiri dari lima nilai utama: Cageur (sehat), Bageur (baik), Bener (benar/jujur), Pinter (cerdas), dan Singer (terampil). Serta generasi yang mampu menjalankan Filosofi Nyunda: Nyakola, Nyantri, Nyantika & Nyantana. Untuk mencapai semua itu pasti ada peran guru”
Hal yang masih menjadi harapan atau belum terwujud bagi semua guru atau kepala sekolah di Hari Guru Nasional ialah adanya undang-undang atau peraturan daerah yang mengatur perihal perlindungan guru. Sebab dibeberapa kondisi dan wilayah, para guru yang berupaya mendisiplinkan siswanya, karena dinilai melanggar aturan, justru harus berhadapan dengan proses hukum.
“Kalau belum ada undang-undangnya yang secara khusus mengatur perlindungan guru, maka minimal ada dalam peraturan daerah tentang penyelenggaraan pendidikan atau pasal tentang perlindungan guru”

- Ida Rohayani, M.Pd., (Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran / MGMP Pendidikan Pancasila SMA Provinsi Jawa Barat)
“Quotes Kemdikdasmen 2025 Guru Hebat, Indonesia Kuat. Hebat bukan karena dapat digugu dan ditiru oleh murid, namun karena yang disampaikannya hasil berguru pada ilmu dan iman. Khusus di Jawa Barat, cageur, bener, pinter, tur singerna murid, dimimitian ku atikan clik putih, clak herang kanyaah elmu ti Guru. Atikan guru dipairan ku harti, surti, bakti, supaya jadi bukti. Reueus janten guru”

- Idris Apandi M.Pd, Widyaprada Ahli Madya Balai Besar Penjaminan Mutu Pendidikan / BBPMP Provinsi Jawa Barat
”Ketika guru merasa aman, terlindungi dari kriminalisasi, dan ketika kesejahteraannya diperhatikan, maka masa depan pendidikan Indonesia akan berdiri di atas fondasi yang lebih kokoh dan manusiawi. Pendidikan tidak hanya akan menghasilkan generasi cerdas, tetapi juga generasi yang tumbuh dari sistem yang adil dan berbasis kasih sayang”. Selamat Hari Guru Nasional Tahun 2025.

- Juminarsih, S.Sos., M.I.Kom., Widyaiswara Ahli Pertama di lingkungan Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Jawa Barat
“Tidak semua guru hebat, tetapi pasti ada andil guru pada setiap orang hebat”

- H. Sukadi, M.I.L (Guru SMAN 1 Kota Bandung)
Mendisiplinkan siswa di era keterbukaan informasi yang kebablasan bukanlah tugas mudah. Guru membutuhkan kesabaran, kreativitas, dan kemampuan beradaptasi dengan perubahan teknologi dan budaya digital siswa. Tantangan utama berasal dari derasnya arus informasi yang tak terkontrol, misinformasi, budaya instan, dan pola penggunaan gawai yang tidak sehat.
Namun demikian, dengan pendekatan literasi digital, disiplin positif, komunikasi humanis, dan kolaborasi antara guru, sekolah, dan keluarga, berbagai tantangan tersebut dapat diatasi. Guru bukan lagi sekadar “penegak aturan”, tetapi juga menjadi fasilitator, pendamping karakter, dan pendidik digital bagi siswa.
Pada akhirnya, keberhasilan dalam mendisiplinkan siswa di era ini bukan ditentukan oleh keketatan aturan, melainkan kemampuan guru membangun kesadaran, kepercayaan, dan tanggung jawab dalam diri siswa. Pendidikan karakter harus berjalan seiring dengan perkembangan teknologi, sehingga peserta didik tidak hanya cerdas secara akademik tetapi juga bijak dalam mengelola informasi dan berperilaku disiplin dalam kehidupan nyata maupun dunia digital.

- Uswah Syauqie (penulis buku mayor dan buku fiqih untuk mata pelajaran pendidikan di pesantren)
“Guruku selama di pesantren adalah para ulama perempuan dan perempuan ulama. Dari beliau-beliau, aku memahami alif hingga ya, menghafal basmalah hingga tashdiq Al-Qur’an, mengetahui mana mubtada dan khabar. Meskipun tidak banyak yang kami serap karena keterbatasan kami dalam mendalami kalimah Allah darimu, wahai guruku.. Semoga kami senantiasa menjadi (S)halihah, memiliki (A)dab, selalu (N)gaji, mampu (T)irakat, (R)ajin matla’ah, dan (Istiqamah) dalam kebaikan. Apabila dulu kami dengan penuh suka menata sandal guru, itu adalah karena kami menginginkan mengikuti jejak langkah guru dalam kebaikan.. Apabila kami merasakan bahwa kehidupan begitu mudah, selalu ada jalan di setiap ujian, maka itu bukanlah karena perjuangan kami, tetapi hasil tirakat para guru.

- Ngindana Aghists Zulfa (Duta Baca Provinsi Jawa Tengah)
Di Hari Guru Nasional ini, saya, Duta Baca Jawa Tengah, mengucapkan terima kasih tak terhingga. Guru adalah arsitek peradaban yang sesungguhnya. Mereka bukan sekadar penyampai kurikulum, tetapi penyala api rasa ingin tahu yang membawa anak didik dari sekadar membaca menjadi memahami, dari sekadar tahu menjadi berkarakter. Literasi adalah kunci perbaikan nasib, dan di tangan ikhlas Bapak/Ibu Gurulah, jutaan anak menemukan cahaya dari setiap halaman buku.
Dan terkhusus kepada seluruh Guru di Jawa Tengah, panjenengan adalah ‘pustaka’ yang hidup. Di momentum Hari Guru ini, saya mengajak untuk meneguhkan peran Guru sebagai ‘Kreator Literasi’ utama di sekolah. Guru yang hebat tidak hanya mengajar, namun membuat siswa jatuh cinta pada buku, mengubah kelas menjadi taman baca, dan setiap mata pelajaran menjadi pintu gerbang menuju wawasan tak terbatas. Jika minat baca adalah denyut masa depan, maka Guru adalah detak jantung pergerakan literasi kita. Mari jadikan guru sebagai Suritauladan untuk menjadikan membaca sebagai kebutuhan primer bangsa.

- Ustadz Randi Al Falaq S.Pd (Pendiri Majelis Taklim Pemuda Pencinta Ilmu)
Selamat hari guru
Ucapan ini layak terlontar bukan hanya hari seremonial saja. Melainkan moment mengingatkan seorang santri akan jasa-jasa seorang guru yang tidak bisa terbalaskan, lelahnya mendampingi santri-santrinya siang dan malam. Kucuran keringat dan air mata tercurahkan, demi merisaukan atau memikirkan agar sampai kebaikan-kebaikan kepada santri-santrinya. Tidak pernah terlontar sedikit pun kerisauan dari metode dan pendekatannya yang mengantarkan seorang santri untuk dekat dengan dunia dan bangga dengan dunia. Melainkan mendidik, mengajarkan arti sebuah perjuangan yang hakiki, cinta yang tak akan pernah kandas menuju kerisauan negeri akhirat. Mengejar cinta dan keridhoaan Allah semata.
Malamnya ia habisnya memberi faidah memikirkan umat demi terselamatkannya umat dari cengkraman gelapnya kebodohan.
Wajahnya selalu menampakan senyuman, kepedulian, kesabarannya, perhatiannya, kesemangatan dan kegigihannya dalam mendampingi umat. Selalu menyapa dan hadir dekat d hati para santri-santrinya.

Sebagai manifestasi dari firman Allah.
لَقَدْ جَاۤءَكُمْ رَسُوْلٌ مِّنْ اَنْفُسِكُمْ عَزِيْزٌ عَلَيْهِ مَا عَنِتُّمْ حَرِيْصٌ عَلَيْكُمْ بِالْمُؤْمِنِيْنَ رَءُوْفٌ رَّحِيْمٌ
Sesungguhnya telah datang kepada kamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kamu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang Mu’min. [At-Taubah/9:128
Maka nikmat mana lagi yang kita dustakan.
Mohon maaf belum bisa menjadi seorang santri sejati.
اللَّهُمَّ اسْتُرْعَيْبَ مُعَلِّمِي عَنِّى وَلاَ تَذْهَبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنِّى
Semoga Allah senantiasa menjaga guru kita dan selalu diberkahi dimana pun berada.

- Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Katapang)
“Guru yang mampu menebar ilmu dengan lisannya itu guru yang baik. Sedangkan guru yang mampu menebar ilmunya dengan tulisannya, maka itu lebih baik, sebab ilmunya akan melintas berbagai zaman melalui tulisan-tulisannya. Selanjutnya guru yang mampu menebar ilmunya melalui keteladanan, maka itu guru terbaik. Karena akan menetap di setiap diri manusia yang meneladaninya”










Komentar