Penulis: Nur Fadilah (Putri Inspirasi Banyumas 2020)
Ramai diperbincangkan Kepala Sekolah yang dinonaktifkan sementara setelah menampar siswa merokok di sekolah. Orang tua wali murid pun tidak terima ketika katanya kepsek ada main tangan dan sempat terucap kata-kata kasar, apalagi anaknya tergolong anak yang berprestasi. Dengan segala drama yang ada dan berbagai upaya pihak yang berwenang turut andil dalam menyelesaikan konflik ini demi terciptanya kedamaian dan keadilan bersama.
Sebagai seorang pemimpin tentu tidaklah mudah, banyak resiko, ujian, dan tidak ada yang sempurna. Diomong di belakang ya sudah hal yang wajar, sebab dalam kepemimpinan tentu ada saja kekurangannya. Jika disinggung oleh dewan guru yang dipimpinnya masalah karakternya selama memimpin yang katanya orangnya temperamen dan suka meledak-ledak emosinya sepertinya kurang tepat. Sebab seorang pemimpin tentu perlu memiliki sikap tegas untuk mendisiplinkan, mengatur agar segala sesuatu dapat berjalan dengan lancar, dan membuat kebijakan-kebijakan demi kemaslahatan bersama. Ia hanya berusaha menjalankan tugas dan kewajibannya sebagai seorang pemimpin. Namun mungkin dengan adanya kasus ini merupakan teguran dan menjadi renungan kesadaran bersama untuk menjdi lebih baik lagi. Banyak hikmah dan pelajaran berharga dari kasus ini bagi kepsek, guru, siswa, wali murid, pemerintah, netizen, dan semunya.
Sudah banyak kasus guru ataupun kepala sekolah yang ketika menegur siswanya dengan main tangan justru malah merekalah yang terkena dampaknya. Jadi ini sebuah pelajaran berharga bagi pendidik agar lebih bisa mengontrol diri seemosi apapun. Redam emosi demi keselamatan dan keamanan diri. Karena jika tidak justru diri sendiri yang repot, bisa-bisa sampai berhadapan dengan hukum. Ngeri.. Zaman sudah berbeda. Dahulu mungkin guru main tangan hal biasa demi mendisiplinkan siswanya, tapi sekarang sudah dilarang keras.
Meskipun ada saja siswa yang suka melanggar aturan, susah dinasehati, dan tentunya bikin geram. Apalagi ketika kepsek atau guru sedang merasa lelah dengan tugas, kewajiban, dan segala permasalahan hidup diri. Jangan sampai emosi terlampiaskan kepada siswa. Tindaan main tangan bukankah solusi melainkan justru menimbulkan masalah baru yang lebih rumit. Lebih baik ditegur, diberi peringatan tegas, kasih poin. Kalau masih tidak taat aturan, beri surat peringatan panggil orang tuanya biar jadi urusan orang tuanya saja di rumah.
Sekolah sebagai pendidikan formal memang tidak hanya tempat mencari ilmu dan mendapat selembar ijazah.Tapi juga sebagai tempat mendidik moral serta mental untuk menjdi insan yang lebih baik. Jadi secerdas dan seberprestasi apapun tetap adab dulu baru ilmu. Jadi setelah berilmu pun perlu menjaga adab dan dengan memiliki ilmu menjadi lebih beradab.
Sebagai pendidik memang harus betul-betul sabar menghadapi berbagai karakter siswa. Dapat disadari bahwa usia sekolah siswa tergolong remaja dan pradewasa. Darah muda yang selalu merasa gagah, tak mau mengalah, dan mau menang sendiri. Semakin dikekang semakin membantah, semakin dibiarkan semakin pula semena-mena. Ada karakter siswa yang ketika ditegur sekali saja langsung taat dan kapok. Adapun yang susah dinasehati, bandel, tidak peduli sering dimarahi sekalipun, tidak kapok dihukum sesuai aturan sekolahnya. Mungkin karena siswa tersebut banyak permasalahan hidup, biasanya dari keluarganya yang kurang beres maupun pola asuh keluarga yang kurang tepat. Banyak luka batin dan trauma dalam hidupnya, jiwanya terguncang. Pendidik pun perlu menguasai ilmu psikologi dan parenting agar lebih mudah menghadapi berbagai karakter siswa.
Memang tidak ada orang tua yang rela dan tentu tidak terima ketika seseorang main tangan kepada anaknya, sebandel dan sesalah apapun tetap akan baik di mata orang tuanya. Bahkan fenomena siswa digunting rambutnya di sekolah karena rambutnya sudah terlalu panjang untuk siswa laki-laki dan sudah diperingatkan berkali-kalipun tidak semua wali murid mampu menerimanya. Apalagi ketika sampai main tangan.
Tapi sebagai orang tua juga sesayang apapun dengan anak, sangat penting untuk menasehati anaknya. Apalagi ketika di masa remajanya sudah bandel, susah dinasehati, tidak taat aturan sekolah, banyak masalah, orang tuanya sering dipanggil, apalagi ketika sudah sampai ke tahap melakukan kegaduhan di masyarakat, pergaulannya bebas, melanggar norma, dan tindak kriminal. Hal ini jika dibiarkan saja, tidak dijaga, dibimbing, diarahkan, dan tidak dipantau betul-betul anaknya, suatu saat orang tuanyalah yang akan menyesal.
Jika anaknya sudah terlihat bandel sejak remaja, perlu diwaspadai dan diperbaiki karakter dan mentalnya agar tidak makin rusak dan parah. Karena ini menyangkut hidupnya ke depannnya. Sekarang menyusahkan orang tua, suatu hari bisa saja menyusahkan istri/suami dan keturunannya. Sekarang tidak bisa bertanggung jawab pada sekolahnya, tak bisa memimpin dirinya sendiri ke jalan kebenaran, bikin malu orang tuanya dengan sikap perilakunya. Kelak perlu diwaspadai, karena bisa menjadi lebih buruk perbuatannya. Nauzubillah. Sebab mental dan otaknya rusak. Hatinya kosong. Tiada tujuan dalam hidup, tidak paham arti kehidupan. Hanya ada napsu. Bahkan tak sayang diri sendiri.
Memang menjadi orang tua tidaklah mudah. Kadang orang tuanya shaleh-shalehah, anak yang justru sebagai ujian hidupnya. Sehingga sudah dididik sedemikan rupa pun tetap sulit menjdi anak yang baik. Jadi orang tua pun perlu senantiasa berdoa pula, meminta putra-putri yang shaleh-shalehah dan senantiasa diberi hidayah serta perlindungan.
Menyekolahkan anak saja tidaklah cukup. Menitipkan anak di sekolah formal, memondokkan anak, dan menitipkan ke lembaga pendidikan lainnya saja tidaklah cukup. Karena sejatinya pendidikan itu dari rumah dan yang mendidik adalah orang tuanya. Di luar itu hanyalah untuk memaksimalkan saja. Jadi karakter anak tergantung orang tuanya, bukan hanya soal sekolah maupun pesantrennya. Anak merupakan amanah di dunia hingga akhirat. Semoga putra/putri kita terjaga, terlindungi, dan menjadi anak shaleh/shalehah. Aamiin.










Komentar