Penulis: Nur Fadilah (Putri Inspirasi Banyumas)
Pandanganku ketika menyaksikan ada seseorang tengah ditimpa suatu hal dalam hidupnya lalu ada orang lain yang mengklaim mengatakan bahwa itu mutlak karena akibat kesalahan perbuatannya sendiri, rasanya menjadi kurang setuju. Sebab bisa saja perkataan tersebut akan melukai hati seseorang yang sedang ditimpa musibah atau sedang diuji dalam hidupnya tersebut, bahkan bisa menjadi semakin terpuruk kondisinya atau semakin putus asa. Jadi ketika ada seseorang yang sedang ditimpa musibah atau diuji ini pembahasannya cukup komplek yah. Sebab kita diingatkan akan adanya rukun iman yang keenam yaitu iman pada qodo dan qodarnya, Allah sebagai konsep takdir dalam Islam.
Jadi sebagai orang yang beriman mungkin perlu ingat kembali dan menyadari bahwa segala sesuatu yang terjadi di alam semesta telah ditetapkan oleh Allah SWT, baik yang baik maupun yang buruk. Jadi apabila kita menyaksikan fenomena seseorang yang sedang ditimpa musibah atau diuji hidupnya dengan sesuatu yang buruk dan menyakitkan lalu kitanya berpikir seseorang tersebut sedang kena imbas dari perbuatannya sendiri, mungkin kita perlu banyak-banyak beristighfar dan segera membersihkan hati juga pikiran kita. Sebab bisa saja hati ataupun pikiran sudah tercemar ataupun timbul suatu kebencian sedikit apapun jua sehingga yang dirasakan, dipikirkan, perkataannya, dan sikap menjadi kurang simpatik terkesan menyalahkan.
Perlu disadari bahwa ketika seseorang yang tengah ditimpa musibah ini atau bahkan kita sendiri yang tengah diuji ada banyak faktor penyebabnya. Bisa jadi memang karena akibat perbuatan diri sendiri, kemudian seseorang itu sedang diberi peringatan oleh Allah agar menjadi lebih berhati-hati lagi dalam hidupnya atau sebagai jalan hidayahnya agar menjadi insan yang lebih baik lagi setelah menyadari akan kesalahan-kesalahannya. Adapun yang memang betul-betul ditakdirkan mutlak sesuai ketentuan Allah. Tidak ada juga yang mau ditimpa musibah atau diuji dengan ujian berat. Semua orang juga maunya hidupnya baik-baik saja dan bahagia dengan kemuliaan. Namun bagaimanapun sebagai seorang hamba Allah harus menerima segala ketentuannya. Dan sejatinya hal tersebut merupakan bentuk cinta Allah pada hamba-Nya. Agar hamba-Nya menjadi lebih dekat pada Rabb-Nya. Dan menyadari bahwa kita merupakan makhluk-Nya yang harus taat, tunduk, dan menerima segala ketetapan-Nya.
Lalu bagaimanakah sikap kita yang sedang diuji? Pertama bersabar, memperbanyak istighfar, dan berlapang dada. Kedua bisa menerima keadaan, berusaha ikhlas menerima ketentuan Allah yang telah terjadi. Ketiga semangat tidak terus-terusan mengeluh menyalahkan keadaan dan terlalu menyalahkan diri sendiri dalam menjalani kehidupan walau keadaan sedang tidak baik-baik saja, tetap berusaha menemukan solusi jalan keluarnya. Keempat berdoa pada Sang Maha Kuasa agar dipermudah, dilancarkan, dan kehidupan menjadi lebih baik. Kelima menjadi bahan renungan, menyadari, introspeksi diri, dan perbanyak mohon ampun kepada Allah sebab selama hidup tentu pernah berbuat kesalahan dan dosa. Dan juga mohon agar Allah bukakan pintu hati apabila pernah menyakiti seseorang agar dimaafkan seluas-luasnya dengan hati yang lapang. Berdoa pula agar senantiasa dibukakan pintu hidayah dan menjadi insan yang lebih baik. Semoga ujian bisa menjadi pelebur atas dosa-dosa, baik bagi yang diuji maupun bagi yang simpatik.
Lalu bagaimanakah sikap kita terhadap seseorang yang sedang diuji? Pertama yang bisa dilakukan yaitu beristighfar dan turut prihatin akan keadaan orang tersebut. Kedua merasa simpatik dengan tidak menghujat walau mungkin orang tersebut pernah berbuat kesalahan, perilakunya kurang baik semasa hidupnya ataupun pernah menyakiti kita dengan perbuatannya. Hilangkan rasa benci pada orang tersebut jangan sampai justru hati diri sendiri dipenuhi kebencian dan tersakiti, obati dan jaga hati diri sendiri. Ketiga tidak mengklaim atau menyalahkan serta tidak menghujat bahwa itu merupakan akibat perbuatannya. Justru memberikan semangat, support, dan dorongan agar orang itu kuat menjalani ujian hidupnya. Keempat mendoakan agar seseorang tersebut dilancarkan dan dipermudah dalam menjalani ujian, segera membaik kehidupannya dan apabila selama hidupnya perbuatannya kurang baik dimohonkan agar Allah bukakan pintu hidayah serta ampunan untuknya agar ia menyadari akan kesalahan-kesalahannya dan bisa menjadi insan yang lebih baik lagi. Kelima berdoa untuk diri sendiri agar apa yang menimpa orang tersebut tidak menimpa diri kita dan menjadi suatu pengingat diri kita agar tidak masuk ke lubang yang sama seperti orang tersebut.
Hidayah datang bisa dari arah mana saja, di manapun, lewat apapun, dan dari siapapun jua. Mungkin juga salah satunya lewat tulisan ini yang lewat di beranda dan kita tertarik membacanya sampai akhir. Mungkin bisa saja Allah tengah mengingatkanya lewat jalan ini. Karena jalan hidayah Allah itu beragam. Bukan karena merasa lebih baik dan sekali lagi tidak bermaksud menyinggung.🙏
Semoga kita menjadi semakin menjaga hati, merawat hati, menjaga qolbun salim. Menjaga hati, pikiran, perkataan, perbuatan, sikap, dan akhlak diri. Aamiin.








Komentar