oleh

Cara agar Rasa Cinta Konsisten dan Makin Bertambah

Penulis: Nur Fadilah (Putri Inspirasi 2020)

Dari benci bisa menjadi cinta, dari cinta bisa menjadi benci. Begitulah perasaan, kadang bisa berubah. Maka tak jarang suatu hubungan bisa kandas. Perubahan perasaan ini tentunya dipengaruhi oleh berbagai faktor, diantaranya yaitu:

Pertama rasa suka dan cinta pada seseorang hanya berdasarkan karena menerima kelebihannya saja, tetapi mengabaikan atau tidak menerima kekurangannya. Hal ini sering terjadi pada saat seseorang sedang bucin. Karena orang yang sedang bucin biasanya hanya melihat kelebihan-kelebihannya saja dan tidak menyadari akan kekurangan seseorang yang sedang ia sukai. Namun lama-lama barulah menyadari, kemudian setelah menyadarinya perasaan suka pun memudar da lama-lama makin menghilang.

Kedua disebabkan bosan dan tidak menarik lagi. Sebab rasa suka dan cinta itu sejak awal karena penasaran saja dan terlalu berekspresi tinggi terhadap seseorang, sehingga perasaan suka itu menggebu-gebu. Pada akhirnya setelah mengenal tak lagi penasaran dan tak sesuai dengan ekspektasinya, tak lagi ada rasa suka. Padahal pada dasarnya kalau disadari, manusia yang terlihat nyaris sempurna dan terlihat memiliki banyak kelebihan pun tentunya memiliki kekurangan. Jadi kalau suka dan mencintai seseorang perlu dengan kesadaran penuh untuk tidak hanya menerima kelebihannya saja, tetapi juga menerima kekurangannya. Tidak hanya dengan bucin, penasaran, dan berekspresi tinggi terhadapnya.

Ketiga karena kecewa pernah disakiti atau dikhianati orang yang dicintai. Dalam suatu hubungan tentu tak lepas dari konflik, dari mulai konflik kecil hingga konflik besar. Bahkan konflik kecil bisa menjadi besar, ketika tak bisa saling menjaga dan memperbaiki hubungan. Padahal pada dasarnya dalam suatu hubungan perlu sering saling memaafkan agar terciptanya hubungan yang langgeng. Tidak untuk saling egois dan lebih mementingkan egonya sendiri, tapi perlu menurunkan ego untuk kebaikan bersama dan terciptanya kerukunan. Namun apabila terlalu sering dikecewakan dan dikhianati orang yang kita cintai, lama-lama juga rasa cinta pun bisa memudar dan bisa mati rasa atau bahkan bisa berubah menjadi rasa benci saking begitu menyakitkannnya.

Lalu bagaimanakah agar perasaan cinta pada seseorang itu bisa konsisten atau tidak berubah perasaannya dan bahkan rasa cinta menjadi semakin bertambah besar seiring berjalannya waktu, bukan malah semakin menurun rasa cintanya? …

Caranya yaitu pertama cinta karena Allah. Sebab cinta yang dilandasi berdasarkan cinta karena Sang Maha Cinta akan lebih terjaga, karena rasa cintanya berhubungan erat langsung dengan cinta pada Rabbnya pula. Sebab seseorang yang taat pada Rabbnya, ia pun akan berusaha pula untuk bertanggung jawab, menjaga, menyayangi, dan tidak menyakiti sesama makhluk-Nya, apalagi orang yang ia cintai.

Kedua siap menerima kekurangan, kebiasaan buruk, dan keburukan-keburukan orang yang kita cintai. Sekali lagi tidak ada manusia sempurna. Sebaik apapun seseorang tentu tetap memiliki sifat kurang baik, sekecil apapun. Mungkin ada juga kebiasaan yang tidak kita sukai, namun kita perlu memahaminya apabila kebiasaan buruk (asal tak menyimpang) itu bisa diperbaiki. Karena cinta yang tulus dan hubungan yang langgeng tercipta karena saling bisa menerima kelebihan dan kekurangannya.

Setiap orang pasti memiliki kebiasaan buruk atau suatu perilaku yang terjadi berulang-ulang tanpa disadari hingga menjadi suatu “kebiasaan”. Contohnya: bangun kesiangan, tidak tepat waktu, menunda pekerjaan, malas mandi, naruh handuk basah sembarangan dan sebagainya. Tapi ini perilaku atau kebiasaan buruk yang masih bisa diperbaiki atau setidaknya diingatkan meski harus setiap hari, masih bisa dimaklumi. Beda cerita dengan kebiasaan buruk yang bersifat menyimpang, seperti suka berhutang dan tidak bayar hutang, judol, selingkuh dan sebagainya yang sudah menjadi kebiasaan, ga bisa distop dan ga bisa dimaklumi. Nah yang begini bukan disebut suatu kekurangan, tapi penyimpangan. Jadi ga bisa diterima dan justru benci perilakunya.

Itu baru tentang kebiasaan buruk, belum dengan sifat buruk. Setiap orang juga punya sifat buruk. Jadi kalau hanya menerima sifat baiknya saja dan tidak bisa menerima sifat buruknya ya rasa suka atau cinta akan luntur makin menurun hingga hilang juga.

Ketiga luruskan niat mencintai tersebut karena untuk menjaga dan membahagiakannya, bukan agar kita bahagia dan dicintai. Karena dengan mencintai, tulus menyayangi, menjaga, dan berusaha membahagiakan tersebutlah kita akan merasa bahagia. Jadi fokusnya “memberi baru menerima, bukan menerima saja dan mengharap diberi”.

Keempat yaitu saling menghargai apapun usaha yang telah dilakukan oleh orang yang kita cintai terhadap kita, sekecil apapun itu adalah hal sangat berharga untuk kita dan perbanyak bersyukur terhadapnya. Karena dengan perbanyak bersyukur hidup menjadi cukup tak merasa kekurangan.

Semakin memaafkan, menerima kekurangan, mencintai karena Rabbnya, semakin berusaha membahagiakan seseorang yang kita cintai pun rasa cinta itu bisa jadi semakin hari semakin bertambah besar. Apalagi orang yang sudah menikah, ini tantangannya besar sekali. Karena hidup bersama, tinggal bersama, setiap hari bersama. Tak menjamin bisa rukun selalu, tak mungkin terhindar dari konflik, bisa merasakan bosan dengan pasangan, akan mengalami masa puber kedua dsb jadi harus pandai dalam menjaga hubungan agar rasa cinta senantiasa terjaga. Bersyukur dengan pasangannya, karena bagaimanapun ialah yang paling baik dan terbaik yang telah membersamai kita.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *