oleh

Banjir Kabupaten Bandung Terus Berulang, Mau Sampai Kapan?

Oleh : Sumiati

Kalau musim hujan datang banyak orang bilang pasti nanti akan banjir dimana-mana. Kita bisa lihat, Kabupaten Bandung adalah daerah yang menjadi langganan banjir, ketinggian air bisa mencapai 2 meteran. Jelas menutup pemukiman, fasilitas umum dan jalan raya.

Pada hari Kamis  (4/12) sekitar pukul 18.15 WIB, hujan yang berintensitas tinggi terus mengguyur Kabupaten Bandung, sehingga mengakibatkan terjadinya banjir di sejumlah kecamatan. Dilansir dari cnnindonesia.com (Jum’at, 5/12/2025). Sesuai catatan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banjir tersebut melanda lima desa/kelurahan, yaitu Cingcin di Kecamatan Soreang, Bojongsoang di Kecamatan Bojongsoang, Kamasan dan Margahurip di Kecamatan Banjaran, serta Cangkuang Wetan di Kecamatan Dayeuhkolot. Dan Bojongsoang menjadi wilayah yang terparah dengan 615 rumah yang terendam.

Menurut Pranata Humas BPBD Jawa Barat, Hadi Rahmat, ia mengatakan bahwa banjir yang terjadi akibat curah hujan yang tinggi menyebabkan luapan air terjadi dengan cepat. Guna memastikan kebutuhan bantuan lanjutan serta mitigasi bagi warga yang terdampak bencana BPBD provinsi Jawa Barat berkolaborasi dengan BPBD Kabupaten Bandung untuk melakukan penilaian langsung di lapangan.

Banjir yang terjadi di Kabupaten Bandung bukan kali pertama juga bukan setahun sekali, namun setiap kali hujan deras mengguyur, maka pada saat itu pula terjadi banjir. Yang menjadi pertanyaan adalah kenapa banjir ini kerap terjadi padahal pemerintah sudah berupaya untuk mengatasinya? Dan sampai kapan banjir terjadi?

Air hujan itu anugerah Allah SWT, turun ke bumi seharusnya diserap oleh hutan yang punya daya serap tinggi dan bisa jadi mata air. Tapi sayang, karena terjadi deforestasi alias pengalihan fungsi lahan jadi perkebunan sawit, jalan, pemukiman, dan pembangunan lainnya. Air pun tidak diserap dan terbuang begitu saja. Ditambah dengan pengaspalan jalan-jalan perkotaan dan sampah yang menyumbat sungai. Jadilah air itu tumpah sia-sia.

Banjir ini kerap terjadi bukan karena faktor alam semata, namun karena diterapkannya sistem kapitalisme sekuler dimana uang menjadi raja. Privatisasi sumber daya alam termasuk hutan jelas ini menunjukkan kegagalan negara dalam mengatasi bencana. Kapitalisme juga melahirkan kebebasan, salah satunya bebas berkepemilikan, bebas mendirikan rumah di pinggiran sungai. Selain itu, kurangnya rasa kesadaran dalam diri orang-orangnya yang selalu membuang sampah ke sungai sehingga sungai menjadi dangkal dan saat turun hujan airnya meluap ke pemukiman.

Dalam Al-Quran Allah SWT telah menjelaskan bahwa kerusakan di daratan dan lautan akibat perbuatan tangan manusia. Maka dari itu kita harus menyadari bahwa Allah SWT telah memberikan keberkahan dengan diturunkannya hujan ke muka bumi ini. Namun, karena keserakahan manusia yang seharusnya air hujan itu berkah malah menjadi musibah.

Solusi dalam menyelesaikan persoalan-persoalan banjir ini hanya bisa dilakukan dengan diterapkannya sistem Islam. Karena dengan sistem Islam ini aturan kehidupan diatur sesuai dengan syari’at Allah SWT. Islam mengatur kepemilikan baik kepemilikan individu, masyarakat, maupun negara. Sumber daya alam misalnya, adalah kepemilikan umum yang tidak boleh dimiliki oleh individu. Pengelolaannya itu oleh negara dan hasilnya dikembalikan kepada rakyat. Sehingga dengan Islam deforestasi itu tidak akan diijinkan karena dapat merusak alam serta dapat mengakibatkan bencana. Wallahu’alam bishshawab

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *