Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Katapang rutin ngaji Kitab Risalah Ahlussunah wal Jama’ah karya Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari, pendiri Nahdlatul Ulama. Dengan pemateri kedua, Ustadz Soleh Mustari, Wakil Rois Syuriyah MWC NU Kecamatan Katapang pada 14 Maret 2026. Pengajian di bulan Ramadan berlangsung setelah waktu subuh setiap hari sabtu di Masjid Besar Katapang Kabupaten Bandung.
Ustadz Soleh Mustari, Wakil Rois Syuriyah MWC NU Kecamatan Katapang pada saat membahas isi kitab tersebut menjelaskan hadist riwayat Ath-Thabrani dari sahabat Abu Darda radiyallahu ‘anhu:
إِنَّمَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي الْأَئِمَّةَ الْمُضِلِّينَ
“Sesungguhnya yang paling aku takutkan menimpa umatku adalah pemimpin-pemimpin yang menyesatkan.”
Serta hadis lain, diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Umar radiyallahu ‘anhu:
إِنَّ أَخْوَفَ مَا أَخَافُ عَلَى أُمَّتِي كُلُّ مُنَافِقٍ عَلِيمِ اللِّسَانِ
“Sesungguhnya aku khawatir terhadap umatku adalah orang munafik yang pandai bicara.”
Pemimpin yang menyesatkan cenderung mengeluarkan keputasan tanpa dasar ilmu agama atau dzolim kepada rakyatnya, sedangkan orang munafik yang pandai berbicara akan menipu atau menghianati umatnya. Sehingga oleh keduanya umat akan rusak atau celaka.

Untuk terhindar dari keburukan atau bahaya sikap mereka (Pemimpin yang menyesatkan dan munafik yang pandai bicara) di akhir zaman, maka sebagai umat islam harus senantiasa mengkaji ilmu warisan ulama dan mengikuti ulama. Sesuai dengan nasihat nabi kepada umatnya:
الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ
“Ulama adalah pewaris para nabi.”
Menurutnya ciri orang munafik itu ada 3, ciri utama orang munafik menurut hadits Nabi SAW adalah jika berbicara berdusta, jika berjanji mengingkari, dan jika dipercaya berkhianat. Jika semuanya itu ada pada diri seseorang, maka selaras dengan penjelasan
مَنْ تَشَبَّهَ بِقَوْمٍ فَهُوَ مِنْهُمْ
“Barang siapa yang menyerupai suatu kaum, maka dia termasuk bagian dari mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad)
Ustadz Soleh Mustari mengungkapkan jika ada yang menuduh kita sebagai orang munafik, karena ada ciri-ciri itu, maka sadar dirilah atau bertobatlah. Namun jika tidak ada, maka itu fitnah, dan yang menuduhnya adalah yang munafik. Seperti ketika seorang munuduh kafir terhadap orang lain. Jika tuduhan itu tidak terbukti, maka predikat kafir tersebut berpotensi kembali kepada penuduhnya.








Komentar