Pewarta : Tim Liputan
Koran SINAR PAGI,Bandung,- Pemerintah Kota Bandung memastikan pengembangan Bus Rapid Transit (BRT) terus berjalan sesuai rencana. Dari total 20 rute yang sebelumnya dirancang, kini tersisa 18 rute setelah dilakukan evaluasi terhadap efektivitas layanan. Dua rute yang dihapus yakni Tegaluar–Majalaya dan Ledeng–Lembang karena dinilai kurang optimal dari sisi kebutuhan dan operasional.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Kota Bandung, Rasdian Setiadi, mengatakan bahwa dari 18 rute BRT yang tersisa, sekitar 21 kilometer di antaranya akan dilengkapi jalur khusus atau on corridor. Jalur ini mengadopsi konsep serupa dengan BRT di Jakarta, meskipun dengan penyesuaian kondisi jalan di Kota Bandung.
“Sejak awal, terkait pengembangan BRT memang sudah kami sampaikan. Untuk tahun ini, pembangunan depo BRT sudah selesai. Artinya, secara fisik sudah siap, proses lelang juga sudah dilakukan, dan dukungan anggarannya pun sudah tersedia,” ujar Rasdian, Sabtu 31 Januari 2026.
Ia menjelaskan, depo BRT tersebut berlokasi di Cicaheum dan akan melayani lintasan utama Leuwipanjang–Cicaheum. Keberadaan depo ini menjadi salah satu elemen penting dalam mendukung operasional BRT secara berkelanjutan.
Selain depo, pembangunan jalur on corridor juga mulai memasuki tahap perencanaan teknis. Jalur khusus ini nantinya akan dilengkapi pembatas, meskipun tidak sebesar atau seintensif yang diterapkan di Jakarta.
“Jalur khususnya tetap ada. Pembatasnya memang tidak sebesar di Jakarta, tetapi tetap jelas fungsinya untuk memprioritaskan pergerakan bus BRT,” jelasnya.
Menurut Rasdian, berdasarkan informasi dari Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) Kementerian Perhubungan, kontrak pembangunan jalur on corridor beserta separator, seperti marka jalan atau pembatas jalur, direncanakan mulai berjalan pada Februari 2026 dan di targerkan tahun 2027 beroperasi di kota Bandung.
Namun demikian, di beberapa ruas jalan tertentu akan terdapat titik crossing agar bus BRT tetap dapat melintas di persimpangan strategis. Beberapa lokasi yang direncanakan memiliki crossing antara lain di Jalan Ahmad Yani dan Jalan Jenderal Sudirman.
“Di beberapa titik memang akan ada persilangan, supaya bus tetap bisa bergerak dengan fleksibel di persimpangan. Tapi secara umum, jalur BRT tetap berada di lajur paling kiri,” katanya.
Rasdian menambahkan, saat ini pembangunan jalur on corridor baru terealisasi di sebagian kecil ruas jalan. Pembangunan secara menyeluruh, termasuk pemasangan separator, direncanakan akan dilakukan secara bersamaan setelah kontrak resmi berjalan.
“Untuk sementara memang baru sebagian. Namun, kontrak pembangunan on corridor dan separator secara keseluruhan ditargetkan mulai Februari, dan pelaksanaannya akan dilakukan serentak,” tandasnya.










Komentar