Puasa Melatih Berbuat Baik yang Tidak Disukai

Penulis: Dwi Arifin (Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Majelis Wakil Cabang Nahdaltul Ulama Kecamatan Katapang)
بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ
وَعَسٰٓى اَنْ تَكْرَهُوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ خَيْرٌ لَّكُمْۚ وَعَسٰٓى اَنْ تُحِبُّوْا شَيْـًٔا وَّهُوَ شَرٌّ لَّكُمْۗ وَاللّٰهُ يَعْلَمُ وَاَنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَࣖ
Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui. (Al-Baqarah ayat 216)

Dua kondisi yang dijelaskan dari gramatikal isi ayatnya, sering dialami oleh kita. Banyak perbuatan baik yang seharusnya dilaksanakan, terhalang karena kita tidak menyukainya. Serta banyak perbuatan buruk yang terlaksana, disebabkan hawa nafsu menyukainya.

Misalnya melalui ibadah berpuasa. Kondisi yang secara jasmani cenderung tidak disukai, karena menjadi lemas atau yang biasanya tubuh dengan mulutnya tanpa dibatasi waktu untuk menikmati makanan. Dengan perintah tersebut menjadi terbatas atau dilarang makan sejak waktu subuh hingga menjelang magrib.

Contoh lainnya, seperti berwudhu dikala dingin atau mengantuk, memberi pinjman uang ketika sama-sama membutuhkan atau harus berkeringat dengan olah raga atau membatasi makanan tertentu untuk hidup lebih sehat.

Kondisi dalam ayat tersebut juga dapat menjadi landasan hingga dipraktekan untuk mengurangi rasa egois. Misalnya jika ada dua pilihan, yang satu menurut kita lebih baik, sedangkan satu lagi menurut orang lain yang tidak kita sukai cukup baik juga. Maka memilih yang cukup baik dari pada lebih baik itu bagian dari menghilangkan egoisme.

Sebab lebih baik itu menurut kita, bukan menurut mereka. Sehingga kondisi tersebut melatih kita untuk berbuat baik menurut bersama/mereka (3 orang lebih) bukan menurut 1 atau dua orang. Karena mungkin saja, jika hal itu dipilih, justru kebaiknya lebih banyak.

Kebiasan memilih atau bersikap seperti itu, sebagai upaya melatih diri untuk melihat kebahagian orang lain, lebih penting dari pada hanya kebahagian diri atau bersikap lapang dada. Pilihan-pilihan itu, sudah semestinya dicoba berkali-kali sampai melihat atau merasakan pengaruh positifnya dari perubahan diri ke arah yang terbaik.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *