Oleh Idris Apandi, Penulis Buku “Aku, Ramadan, dan Literasi”
Suara azan berkumandang, merambat di antara rumah-rumah, menembus dinding-dinding, bahkan mengetuk relung hati yang paling dalam. Ia bukan sekadar panggilan waktu, melainkan undangan suci bagi orang-orang yang beriman kepada hari akhir untuk datang memenuhi seruan Allah: memakmurkan masjid. Namun, di tengah lantunan azan yang begitu indah, sering kali yang datang hanya segelintir orang. Bahkan, tak jarang satu shaf pun tidak penuh. Di sinilah kita perlu bertanya dengan jujur kepada diri sendiri: apakah pahala sholat berjemaah 27 derajat masih cukup menarik bagi seorang muslim hari ini?
Secara teologis, keutamaan sholat berjemaah sudah sangat jelas. Ia bukan hanya lebih baik, tetapi jauh melampaui sholat sendiri. Rasulullah Mujhammad Saw menyampaikan bahwa sholat berjemaah memiliki keutamaan 27 derajat dibandingkan sholat sendiri (munfarid). Sebuah angka yang bukan sekadar hitungan matematis, melainkan simbol betapa besar nilai kebersamaan dalam ibadah. Namun sayangnya, keutamaan ini seakan kehilangan daya tariknya di tengah realitas kehidupan modern.
Masjid yang megah terkadang sepi dari jemaah. Lantunan azan yang seharusnya menggugah, justru berlalu begitu saja tanpa respon. Ada yang menunda, ada yang merasa lelah, ada pula yang tenggelam dalam kesibukan dunia. Alasan demi alasan bermunculan, hingga akhirnya waktu sholat berlalu tanpa sempat kaki melangkah ke masjid.
Padahal, tantangan terbesar bukan pada jauhnya jarak, tetapi pada lemahnya niat. Banyak yang rumahnya dekat dengan masjid, tetapi hatinya terasa jauh. Ironisnya lagi, ada yang justru merasa terganggu dengan suara azan. Sebuah panggilan yang sesungguhnya penuh keberkahan.
Fenomena ini semakin terasa pada waktu-waktu tertentu, seperti sholat Isya dan Subuh. Kedua waktu ini dikenal sebagai ujian keimanan. Gelapnya malam dan dinginnya pagi sering menjadi penghalang. Bahkan, di beberapa tempat, satu orang harus merangkap menjadi muazin, imam, sekaligus makmum. Sebuah pemandangan yang menyedihkan, tetapi nyata.
Namun di tengah kondisi tersebut, masih ada sekelompok orang yang tetap setia. Mereka melangkah ke masjid, meski lelah, meski mengantuk, meski sendirian. Mereka adalah orang-orang yang memahami bahwa pahala 27 derajat bukan sekadar angka, tetapi janji Allah yang tak ternilai. Mereka tidak hanya mengejar pahala, tetapi juga merasakan ketenangan, kedekatan dengan Allah, dan kebersamaan dengan sesama.
Sholat berjemaah di masjid bukan hanya ibadah ritual. Ia adalah ruang pertemuan hati, tempat terjalinnya silaturahmi, dan sarana memperkuat ukhuwah. Di sana, perbedaan status sosial melebur. Semua berdiri sejajar, menghadap kiblat yang sama, dengan tujuan yang sama: mencari ridha Allah.
Maka, pertanyaan “apakah pahala 27 derajat masih menarik?” sejatinya bukan tentang besar kecilnya pahala. Tetapi tentang seberapa hidup iman dalam dada kita. Jika iman itu kuat, maka panggilan azan akan terasa sebagai kebutuhan, bukan beban. Sebaliknya, jika iman melemah, maka bahkan pahala berlipat pun terasa tidak cukup untuk menggerakkan langkah.
Kini saatnya kita kembali merenung. Jangan sampai kita menjadi orang yang dekat dengan masjid secara fisik, tetapi jauh secara spiritual. Jangan sampai azan hanya menjadi suara latar tanpa makna. Dan jangan sampai masjid-masjid di sekitar kita kehilangan ruhnya karena sepinya jamaah.
Mari kita hidupkan kembali semangat berjemaah. Mulailah dari diri sendiri, dari langkah kecil yang konsisten. Hadirkan niat yang tulus, lawan rasa malas, dan jawab panggilan azan dengan penuh kesadaran. Karena sejatinya, bukan pahala 27 derajat yang berubah nilainya. Kitalah yang perlu menghidupkan kembali rasa butuh terhadapnya. Dan ketika kaki kita melangkah ke masjid, sesungguhnya kita tidak hanya sedang mengejar pahala, tetapi sedang menjemput keberkahan hidup, di dunia dan di akhirat.








Komentar