Penulis: Dr. Ny. Hj. Umnia Labibah, S.Th.i, M.Si., (Pengasuh Pondok Pesantren Miftahul Huda Pesawahan Rawalo Banyumas)
Baru-baru ini dalam status medsosnya, Maia Estianti menukil sebuah ayat dari Qur’an Surah al-Muzamil ayat 10-11, yang membincang cut off dari lingkungan toxic. Emang boleh ya, meng- cut off seseorang dalam kehidupan kita?
Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri. Kondisi ini membuat seseorang tidak lepas dari “memiliki” hubungan dengan orang lain, yang disebut relationship. Baik itu dalam pertemanan, relasi kerja ataupun keluarga.
Dalam relationship yang sehat, manusia di dalamnya akan terhindar dari gangguan kesehatan mental, seperti depresi, stres, hingga gangguan cemas. Selain itu, akan menumbuhkan rasa percaya diri dan harga diri lebih tinggi dibandingkan saat seseorang memiliki masalah dalam sebuah hubungan yang dijalani. Bahkan, relationship yang sehat juga bisa meningkatkan empati dengan orang lain, yang bisa menumbuhkan rasa bahagia, terhindar dari stres sehingga imunitas tubuh akan menjadi lebih baik.
Hal ini berbeda pada Toxic relationship atau hubungan beracun, yaitu suatu hubungan tidak sehat yang membuat seseorang merasa tidak dipahami dan didukung atau merasa direndahkan. Hubungan ini tidak hanya bisa terjadi pada hubungan romantis, tetapi juga dalam lingkungan pertemanan bahkan keluarga. Hubungan ini menghilangkan rasa aman dan saling mendukung, serta berpotensi memicu stres kronis hingga trauma.
Dalam menghadapi relasi toxic, al-Qur’an memberi isyarat yang lugas dalam menghadapinya. Di antaranya dengan kesabaran, atau meninggalkan relasi toxic dengan cara yang baik. Sebagaimana disebutkan dalam surat Al-Muzammil ayat 10:
وَاصْبِرْ عَلٰى مَا يَقُوْلُوْنَ وَاهْجُرْهُمْ هَجْرًا جَمِيْلًا
Artinya: “Bersabarlah (Nabi Muhammad) terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik”.
Ayat di atas memberikan contoh bagaimana keadaan nabi yang ada di lingkungan toxic, nabi di perintahkan untuk bersabar dalam menghadapi cemoohan, hinaan bahkan kekerasan ketika berdakwah. Pesan Allah di dalam ayat di atas, di samping berserah diri dan berusaha, Nabi diminta bersabar atas apa yang di hadapi, yakni segala kebatilan dan kebohongan yang diucapkan dan dilakukan kaum musyrikin.
Selain bersabar ayat di atas memberi pilihan Nabi untuk meninggalkan mereka jika dirasa perlu, dengan cara yang indah (hajran Jamilan), sehingga tidak meninggalkan permusuhan yang berlebihan supaya nilai-nilai dasar yang didakwahkan tidak terkaburkan.
Kata “uhjur” adalah bentuk perintah dari “Hajara” yang berarti meninggalkan sesuatu, karena dorongan ketidaksenangan kepadanya. Kemudian kata “hajran jamilan” cara meninggalkan yang indah. Ini berarti nabi Muhammad dituntut untuk tidak memperhatikan gangguan mereka sambil melanjutkan dakwah sekaligus mereka dengan lembah lembut dan penuh sopan santun dengan cacian serupa.
Ayat ini memahami benar bagaimana pengaruh lingkungan toxic bagi kesehatan mental seseorang, yang dalam beberapa kasus relasi toxic ini bersifat problematik, yang menempatkan korban tidak berdaya dan sulit untuk melawan. Sehingga menjadi relevan pilihanya Adalah bersabar, namun jika kesabaran ini dirasa justru merusak mental, cut off atau memutus kontak atau hubungan bisa menjadi pilihan.
Dalam konteks ini pilihan Maia Estianti dapat dipahami, yang memilih diam, menjauh, tidak berhubungan lagi kecuali dalam hal-hal tertentu. Ini sejalan dengan alur sikap mengalah yang diajarkan Allah kepada Nabi Muhammad ketika mendapatkan cacian dari orang-orang kafir Mekkah.
“Hajran jamila” memberikan pesan tersirat untuk korban dapat move on dan fokus pada survive dirinya, sehingga bisa melanjutkan hidup dengan baik dan indah.
Ibnu Katsir dalam tafsirnya menerangkan:
يَقُولُ تَعَالَى آمِرًا رَسُولَهُ ﷺ بِالصَّبْرِ عَلَى مَا يَقُولُهُ مَنْ كَذَّبَهُ مِنْ سُفَهَاءِ قَوْمِهِ، وَأَنْ يَهْجُرَهُمْ هَجْرًا جَمِيلًا وَهُوَ الَّذِي لَا عِتَابَ مَعَهُ. ثُمَّ قَالَ لَهُ مُتَوَعِّدًا لِكَفَّارِ قَوْمِهِ وَمُتَهَدِّدًا -وَهُوَ الْعَظِيمُ الَّذِي لَا يَقُومُ لِغَضَبِهِ شَيْءٌ
Artinya: “Allah memerintahkan Nabi-Nya untuk bersabar terhadap apa yang dikatakan oleh orang-orang yang kafir dari kaumnya yang bodoh, dan meninggalkan mereka dengan baik, yaitu meninggalkan yang tidak ada celaan. Kemudian Allah berfirman kepadanya, sambil mengancam orang-orang kafir dari kaumnya, dan Dialah Yang Maha Besar yang kemurkaan-Nya tidak dapat dibendung”.
So, terjebak dalam relasi toxic bukan berarti tidak ada pilihan untuk bangkit. Karena hidup manusia sangat berharga. So bangun dan tentukan bahagiamu.








Komentar