Pewarta: Jeky Epsa
Koran Sinar Pagi, Sumedang – Kondisi bangunan SMK 2 Muhammadiyah Sumedang, di Jalan Mayor Abdurahman No. 219 A, Kotakaler, Kecamatan Sumedang Utara, kian memprihatinkan dan memantik keprihatinan publik. Tiga ruang kelas dilaporkan berada dalam kondisi sangat kritis dan terancam ambruk sewaktu-waktu, sehingga berpotensi menimbulkan bencana serius apabila tidak segera mendapatkan penanganan dari pihak terkait.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Koran Sinar Pagi, bangunan sekolah tersebut terakhir kali diperbaiki pada tahun 2013. Dua tahun kemudian, tepatnya pada 2015, kerusakan struktur mulai tampak signifikan hingga pihak sekolah terpaksa memasang tiang penyangga darurat demi mencegah robohnya bangunan. Ironisnya, hampir satu dekade berlalu, penyangga tersebut masih digunakan dan kondisi bangunan justru dilaporkan semakin memburuk.
Kepala Sekolah SMK 2 Muhammadiyah Sumedang, Nurfadilah Fitriani, yang belum lama menjabat, mengakui bahwa persoalan kerusakan gedung sudah lama menjadi kekhawatiran pihak sekolah.
“Walaupun saya belum lama menjabat sebagai kepala sekolah, namun diketahui bahwa kerusakan bangunan ini sudah berlangsung lama dan sudah cukup mengkhawatirkan,” ujar Nurfadilah, melalui saluran WA, Senin, ( 22/12/25).
Ia menjelaskan, kondisi fisik bangunan menunjukkan tanda-tanda yang sangat mengkhawatirkan, mulai dari retakan pada dinding, atap yang rapuh, hingga struktur bangunan yang mulai miring.
“Ini menjadi tanda nyata bahwa ruang kelas tersebut sudah tidak lagi layak digunakan secara aman untuk kegiatan belajar-mengajar,” tegasnya.
Keprihatinan juga datang dari masyarakat. Pupung, warga Sumedang sekaligus anggota Muhammadiyah, menyampaikan kekhawatirannya atas kondisi sekolah tersebut dan mendesak adanya aksi nyata dari pihak terkait.
“Dari dulu memang sudah kritis, makanya dipasang tiang penyangga. Tapi sekarang kondisinya jauh lebih mengkhawatirkan. Ini bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan sudah menyangkut keselamatan guru dan siswa,” ujar Pupung kepada Koran Sinar Pagi saat ditemui di MBC Muhammadiyah, Senin (22/2/2025).
Menurutnya, aktivitas belajar-mengajar yang masih terus berlangsung di tengah kondisi bangunan rawan ambruk merupakan ancaman serius, terlebih saat hujan deras atau jika terjadi gempa.
“Diperlukan aksi nyata dan segera untuk memperbaiki sekolah ini. Jangan sampai kita menunggu korban jiwa baru bertindak,” tandasnya.
Masyarakat bersama pihak sekolah kini berharap pemerintah daerah, Dinas Pendidikan, serta instansi terkait segera turun tangan memberikan perhatian serius. Perbaikan menyeluruh dinilai sangat mendesak demi menjamin keselamatan siswa dan tenaga pendidik.
Kondisi SMK 2 Muhammadiyah Sumedang ini menjadi cermin buram dunia pendidikan, di mana keselamatan peserta didik masih harus berhadapan dengan keterbatasan anggaran dan lambannya penanganan. Semua pihak kini menanti langkah cepat dan konkret, sebelum ancaman bencana benar-benar menjadi kenyataan.***










Komentar