oleh

Novel Karya Ning Khilma Anis dan Ikhtiar Menumbuhkan Karakter Leluhur Jawa Hadapi Perubahan Zaman

Di tengah arus modernisasi yang kian menjauhkan generasi muda dari akar budayanya, karya sastra justru menemukan kembali relevansinya sebagai ruang pendidikan nilai. Fenomena ini tampak kuat dalam novel best seller Hati Suhita karya Ning Khilma Anis. Tidak sekadar menghadirkan kisah cinta dan konflik rumah tangga, novel ini menjadi medium yang menghidupkan kembali kearifan lokal Jawa dan kehidupan pesantren. Sekaligus memperkenalkannya kepada pembaca lintas generasi, agama, dan berbagai latar sosial. Di saat penggunaan bahasa daerah kian menurun di kalangan anak muda masa kini, kehadiran karya semacam ini dapat mengingatkan bahwa identitas budaya tidak boleh tergerus zaman.

Ning Khilma Anis secara konsisten menghadirkan identitas Jawa tidak hanya dalam tulisannya, tetapi juga dalam berbagai forum diskusi dan seminar. Dengan percaya diri, ia menyisipkan istilah-istilah Jawa yang sarat makna filosofis ke dalam narasi yang populer dan mudah diakses. Langkah ini bukan hanya sekadar gaya bertutur khasnya, melainkan strategi kultural menjadikan bahasa sebagai pintu masuk untuk mengenalkan nilai sekaligus sebagai bagian dari ikhtiar membangun karakter generasi muda maupun masyarakat.

Istilah seperti “mikul duwur mendem jero” serta unggah-ungguh khas orang Jawa tidak hadir sebagai ornamen semata. Di tangan Ning Khilma Anis, ungkapan-ungkapan tersebut menjelma menjadi fondasi karakter tokoh dan penggerak alur cerita. Pembaca tidak hanya menikmati kisah, tetapi diajak menyelami cara pandang hidup orang Jawa yang menjunjung kesabaran, empati, serta tata krama sebagai bentuk kecerdasan emosional dan sosial.

Penulis Novel Hati Suhita, Ning Khilma Anis memulai aktifitas di perpustakaan pada waktu pagi hari

Istilah “mikul duwur mendem jero” menjadi salah satu nilai kunci yang diangkat dalam karya Ning Khilma Anis sebagai representasi etika luhur orang Jawa. Ungkapan ini dapat diartikan menjunjung tinggi (nama baik keluarga) dan mengubur dalam-dalam keburukan serta menutup rapat-rapat aib, khususnya terhadap orang tua maupun terhadap suami. Namun lebih dari itu, nilai ini mengajarkan sikap hormat, menjaga martabat keluarga (birrul walidain) serta kemampuan mengelola emosi dan konflik secara dewasa. Dalam salah satu ungkapan yang kerap dikaitkan dengan nilai ini disebutkan, “Dadi wong wadon kuwi kudu mikul duwur mendem jero. Senajan tangane ora alus, nanging dongane tulus. Senajan digawe loro, nanging kebak pangapuro”

Yang intinya bahwa menjadi seorang perempuan itu berarti harus mampu menjunjung tinggi kebaikan dan menyimpan dalam-dalam keburukan atau aib. Meski tangan tidak selalu lembut, doa tetap dipanjatkan dengan tulus. Meski disakiti, hati tetap lapang ikhlas untuk memaafkan. Di sinilah nilai tersebut tidak hanya menjadi ajaran, tetapi juga laku batin yang hidup dalam keseharian.

Lebih jauh, karya-karya Ning Khilma Anis memperlihatkan bahwa sastra dapat berfungsi sebagai sarana pendidikan karakter yang efektif. Ketika istilah-istilah lokal mulai terpinggirkan oleh bahasa populer global, kehadirannya justru menjadi pengingat bahwa nilai-nilai luhur tidak boleh tercerabut dari kehidupan sehari-hari. Nilai-nilai ini perlu terus dihidupkan dan benar-benar dipraktikkan dalam kehidupan modern dengan penuh kesadaran.

Pada akhirnya, Ning Khilma Anis melalui novelnya yang best seller lebih dari 200 ribu cetakan dan dipublikasikan dalam film yang ditonton oleh jutaan orang. Berupaya tidak hanya menulis cerita, tetapi sedang melakukan ikhtiar kultural, merawat identitas di tengah perubahan zaman. Karyanya menjadi bukti bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu hadir dalam bentuk formal, tetapi bisa mengalir melalui cerita yang hidup dan dekat dengan realitas. Ketika budaya mulai dilupakan, sastra menjadi cara paling halus untuk mengingatkan bukan dengan paksaan, melainkan dengan menyentuh kesadaran.

Ditulis oleh: Nur Fadilah (Ketua Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama Desa Sambirata Cilongok Banyumas Tahun 2020)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *