Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat)
Koran sebagai bahan bacaan masyarakat pada tahun 2010 hingga tahun 2015 memasuki masa kejayaannya. Jumlah yang beredar di masyarakat Indonesia atau publik bacanya, jumlahnya diprediksi hampir jutaan eksemplar perhari secara nasional dari kumpulan berbagai nama terbitan koran.
Bahkan di Jawa Barat, pada masa jayanya Koran Pikiran Rakyat sempat memberikan harga subsidi khusus bagi pelajar, dari yang awalnya harganya 2500 rupiah dengan tampilan 32 halaman menjadi seribu rupiah. Koran berstempel harga khusus itu beredar ke Sekolah (khususnya jenjang SMP/MTs dan SMA/SMK/MA) atau bahkan pesantren seperti zaman dahulu sebagai bahan tambahan referensi bacaan santri setelah belajar kitab kuning.
Koran tersebut juga memprogramkan Koran Masuk Desa sampai melintas ke negara lain. Sehingga distribusi koran semakin meluas, khususnya ke masyarakat desa dan warga negara asing. Bukan hanya ada di masyarakat perkotaan dan sekitarnya yang ada di ibu kota provinsi.
Koran itu juga masuk ke ruang publik, dengan ditempel di mading yang ada di sekitar lapang atau alun-alun di daerahnya. Dengan target satu edisi koran atau setiap terbitannya dapat dibaca secara gratis oleh ratusan atau ribuan orang, siapapun mereka yang berkunjung ke alun-alun.
Namun berbeda dengan sekarang satu dasawarsa atau 10 tahun setelahnya. Koran tersebut, mulai kembali beredar terbatas tidak terus meluas. Kebanyakan hanya beredar di perkotaan, sekitar stopan lampur merah, pasar yang berdekatan dengan terminal, rumah-rumah di perkomplekan dan kantor-kantor pemerintahan atau swasta.
Fakta terbaru di tahun 2025, sebagai hal yang menyedihkan saat ini, ketika ada kelompok mahasiswa yang mencari-cari cetakan koran tertentu. Sebagai syarat atau ditugaskan oleh dosennya untuk menjadi sumber pendukung perkuliahannya. Padahal koran sebagai sumber tambahan ilmu bagi mahasiswa atau menjadi referensi untuk mengetahui kondisi global atau nasional, sudah semestinya dapat dengan mudah diperoleh di lingkungan perguruan tingginya
Kondisi tersebut juga semakin dipersulit, disebabkan cetakan koran yang disebutkan ciri-cirinya oleh dosennya, tanpa ada pilihan lain untuk jenis media cetaknya, padahal ada jenis koran lainnya yang dapat memberikan informasi yang serupa. Serta jumlah cetakannya terbatas hanya memperioritaskan pelanggan hariannya, perusahaan medianya tidak mencetak semakin banyak edisi khusus untuk mencukupi adanya kebutuhan mendakan dari kelompok mahasiswa tersebut.
Kalau dicermati sang dosen sedang berupaya mendekatkan koran kepada mahasiswanya serta menumbuhkan minat baca surat kabar harian atau sang dosen mungkin juga sengaja memberi tugas tersebut, setelah koran itu terbit, untuk mengetahui sejauh mana kemampuan mahasiswa menelusuri arsip dan peredaran korannya?…
Maka sudah semestinya grafik tentang perkembangan dan penurunan jumlah pembaca media cetak, serta potensi yang dapat menjadi penumbuh minat baca media cetak atau kolaborasi dengan berbagai pihak. Harus senantiasa dibangun dan diperluas untuk masa depan media cetaknya yang sejak dahulu hingga saat ini, masih tetap menjadi referensi utama harian masyarakat Indonesia.








Komentar