Kitab Nashaihul ‘Ibad Bahas Dua Kerugian Akibat Menyibukan Diri dengan Duniawi

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, Pimpinan Anak Cabang Gerakan Pemuda Ansor Nahdlatul Ulama Kecamatan Katapang dan Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama Katapang bekerjasama dengan Ketua Lembaga Bahtsul Masail (LBM) Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama / MWC NU Kecamatan Katapang menjalankan program rutin ngaji kitab turats.

Kajian berlangsung setiap hari rabu / malam kamis bada isya setelah sholat tarawih di masjid Annur Hidayah Kp Wates, Desa Banyusari dan terbuka untuk jamaah serta jam’iyah Nahdlatul Ulama atau santri lainnya yang ingin mempelajari kitab tersebut.

Melalui ngaji kitab turats itu, sebagai upaya meneruskan tradisi atau amalan ulama nusantara dalam memahami dan mendalami ajaran agama islam berbasis keilmuan pesantren. Serta Ikhtiar menyambungkan sanad keilmuan melalui para ulama di Indonesia hingga sampai kepada Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wasallam.

Ketua LBM MWC NU Katapang, Ustadz Purkon S.Hi., pada malam tersebut membahas tentang hadist yang disabdakan oleh Rosululloh yang ada pada maqolah ke 27 bab I dari Kitab Nashaihul ‘Ibad (Nasehat Bagi Sang Hamba) karya monumental Syekh Muhammad Nawawi bin Umar al-Jawi (Syekh Nawawi al-Bantani). Seorang ulama sebagai guru Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari pendiri Nahdlatul Ulama:

Rasulullah SAW bersabda:

“Menjauhi kesenangan dunia lebih pahit rasanya daripada pahitnya tumbuhan bratawali dan lebih menyakitkan daripada sabetan pedang di medan peperangan. Tiada seorang pun yang menjauhinya, melainkan dianugerahi oleh Allah pahala yang sama seperti yang diberikan-Nya kepada para syuhada. Cara menjauhi kesenangan duniawi adalah dengan sedikit makan dan tidak terlalu kenyang serta tidak suka dipuji orang. Sebab, barang siapa yang suka dipuji orang, berarti dia menyukai dunia dan kesenangannya. Oleh karena itu, barang siapa yang ingin meraih kesenangan yang hakiki hendaknya menjauhi keduniawian dan pujian orang lain. [HR. al-Dailami]

“Barang siapa yang menjadikan Akhirat sebagai tujuannya, maka Alloh akan membuat baik semua urusannya, menjadikan kekayaan ada di hatinya  dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah. Barang siapa yang dunia menjadi tujuannya, maka Allah akan cerai-beraikan urusannya dan menjadikan kefakiran di depan matanya, serta dunia tidak akan datang kepadanya kecuali sebatas apa yang telah ditentukan.”

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *