oleh

NU Online dan Majalah Aula atau Risalah, Sayap Kanan & Kiri Media Massa Nahdlatul Ulama

Penulis: Dwi Arifin (Duta Baca Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Jawa Barat dan Ketua Lajnah Ta’lif wan Nasyr Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama Katapang, Kabupaten Bandung)

Media cetak dan media online merupakan dua saluran penyampaian informasi dengan karakteristik yang saling melengkapi. Media cetak menyajikan berita secara fisik (koran/majalah/tabloid), unggul dalam analisis mendalam (in-depth), dan kredibilitas yang tinggi. Media online menyajikan informasi real-time melalui internet dengan jangkauan lebih luas dan interaktif.

Berikut adalah perbandingan lebih rinci antara kedua jenis media tersebut:

  1. Media Cetak

Media cetak adalah media penyampai pesan yang dicetak di atas kertas dan bersifat statis.

  • Bentuk: Surat kabar (koran), majalah, tabloid, dan buletin.
  • Kecepatan: Distribusi lebih lambat karena membutuhkan proses cetak dan pengiriman fisik, namun dapat menjangkau wilayah pelosok yang tidak terakses internet.
  • Kelebihan: Memberikan informasi yang lebih mendalam, data lebih terverifikasi, dan nyaman dibaca tanpa ketergantungan perangkat elektronik.
  • Kekurangan: Informasi tidak bisa diperbarui setelah dicetak, biaya produksi tinggi, dan jangkauan audiens terbatas pada wilayah edar/distribusi.
  1. Media Online

Media online adalah segala jenis media yang tersaji secara digital dan dapat diakses kapan saja melalui jaringan internet.

  • Bentuk: Portal berita (website), media sosial, blog, dan e-paper.
  • Kecepatan: Penyampaian informasi sangat cepat (real-time) dan dapat diperbarui (update) kapan saja.
  • Kelebihan: Bersifat interaktif, menjangkau audiens global tanpa batas geografis, serta mampu memuat unsur multimedia (teks, foto, dan video) dalam satu halaman.
  • Kekurangan: Tingkat akurasi kadang dikorbankan demi kecepatan tayang, dan rentan terhadap informasi yang kurang valid (hoaks).

Dalam perkembangan dunia jurnalistik saat ini, banyak perusahaan pers besar mengadopsi sistem konvergensi (menggabungkan media cetak dan online) untuk memaksimalkan fungsi informasi dan bisnis perusahaan.

NU Online dan Majalah Risalah, Sayap Kanan & Kiri Media Massa Nahdlatul Ulama

Info berlangganan majalah ke 08989808384

Al-muhafadzah ‘ala al-qadim al-shalih wa al-akhdzu bi al-jadid al-ashlah sebagai kaidah ushul fiqih populer yang berarti “memelihara tradisi lama yang baik dan mengambil hal baru yang lebih baik”. Prinsip keseimbangan itu digunakan untuk merespons modernisasi tanpa menghilangkan nilai-nilai luhur agama.

Saat ini banyak organisasi masyarakat yang mengelola media online untuk penyampaian informasi publiknya. Namun hanya sedikit yang mampu mengelola media cetak sebagai informasi resmi organisasinya.

Nahdlatul Ulama yang sejak dulu telah fokus mengembangan media cetak untuk komunikasi massanya. Berdasarkan sejarah dan perkembanganya, media cetak Nahdlatul Ulama (NU) memiliki sejarah khusus pra hingga pasca kemerdekaan yang dimulai sejak era kolonial.

Dari majalah berbahasa Jawa berhuruf Arab Pegon, hingga surat kabar harian berskala nasional sampai internasional. Media cetak dinilai menjadi instrumen penting NU dalam menyebarkan syiar dan mengawal perjuangan bangsa hingga sumber edukasi publik untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia untuk mengisi kemerdekaan yang telah diraihnya.

Berikut adalah rekam jejak evolusi media cetak NU dari masa ke masa:

  1. Era Awal: Majalah Swara Nahddlatoel Oelama (1928)
  • Latar Belakang: Sejarah pers NU dimulai sebelum Indonesia merdeka. Majalah pertama NU, yaitu Swara Nahddlatoel Oelama, terbit perdana pada tahun 1928.
  • Format: Menggunakan bahasa Jawa dengan tulisan Arab Pegon.
  • Tokoh: Dipelopori langsung oleh tokoh sentral NU, seperti KH Wahab Chasbullah (sebagai redaktur) bersama KH Ahmad Dahlan dan KH Ridwan.
  • Isi: Selain menyebarkan kegiatan organisasi, majalah ini juga membahas perkembangan dunia Islam, ilmu pengetahuan, hingga kebijakan pemerintahan selama masa penjajahan.
  1. Perkembangan Majalah Era 1930-an
  • Melihat tingginya minat baca, NU meluaskan jangkauannya dengan menerbitkan dua majalah baru: Berita Nahdlatul Oelama dan Oetoesan Nahdlatul Ulama.
  • Kedua media ini mulai menggunakan bahasa Indonesia sebagai bahasa pengantar, memperluas cakupan pembaca hingga ke luar Pulau Jawa.
  1. Era Keemasan: Koran Duta Masyarakat (1954)
  • Peluncuran: Surat kabar harian Duta Masyarakat terbit pertama kali pada 2 Januari 1954.
  • Peran Strategis: Menjadi media cetak terbesar dan paling berpengaruh yang dimiliki NU pada masanya. Surat kabar ini menjadi corong utama pembentuk citra diri NU di pentas nasional.
  • Jurnalis Andal: Duta Masyarakat melahirkan tokoh-tokoh pers nasional yang legendaris di bidang jurnalistik berbasis media cetak.
  • Akhir Hayat: Surat kabar ini harus berhenti beroperasi pada awal masa Orde Baru, setelah melakukan investigasi dan memberitakan hasil pemungutan suara Pemilu 1971.
  1. Transformasi ke Era Digital
  • Mengingat tantangan distribusi media cetak yang sulit bertahan lama, NU kemudian beradaptasi dengan melakukan transformasi masif.
  • Pada tahun 2003, PBNU meluncurkan NU Online, yang menjadi gerbang utama media resmi NU berbasis digital hingga saat ini.

Sedangkan khusus media cetaknya, ada Majalah Aula dan Risalah NU merupakan dua media cetak utama yang berada di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU). Keduanya diterbitkan untuk menyebarkan syiar Islam Ahlussunnah wal Jamaah dan wawasan keislaman.

Majalah Aula terbit bulanan yang dikelola oleh Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur. Terbit resmi dengan SK PWNU Jawa Timur tahun 1978. Sepuluh tahun kemudian, majalah Aula mendapat Surat Izin Terbit Menteri Penerangan 1987. Penerbitan majalah ini berkantor di Jalan Raya Darmo 96 Surabaya. Sejak Maret 2007 kantor Aula pindah ke kantor PWNU Jawa Timur yang baru, Jalan Masjid Al-Akbar Timur 9, Gayungsari, Surabaya.

Lina, S.Pd., M.T., Kepala SMAN 1 Padalarang, Bandung Barat, saat mempromosikan Majalah Risalah atau bahan bacaan terbaru yang menjadi koleksi perpustakaan sekolahnya.

Sedangkan Majalah Risalah NU (PBNU), media cetak yang dikelola oleh Lembaga Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama di Jakarta, sebagai media resmi kebanggaan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama yang terus diperbarui secara berkala untuk meningkatkan isi media cetaknya dan mempertahankan publik baca hingga menarik para calon pembaca lainnya.

Majalah Aula dan Risalah NU termasuk media yang cukup lama bertahan dengan segmentasi pembaca yang fanatik, terutama dari kalangan warga NU, khususnya di pulau Jawa. Dalam perkembangan peredaran kedua majalah tersebut merambah ke seluruh Pulau Jawa, luar Jawa, hingga ke luar negeri melalui jaringan Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU).

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

1 komentar