Kontributor: Nur Fadilah
(Koran SINAR PAGI)-, Semangat mencetak generasi berilmu dan berakhlak kembali diteguhkan Pondok Pesantren Modern (PPM) Ibnu Sina Ajibarang melalui Haflah Akhirissanah ke-5 yang digelar di Halaman Masjid Ibnu Sina, Jumat malam (29/5/2026). Sebanyak 15 santri mengikuti prosesi wisuda dalam kegiatan tersebut. Kegiatan yang berlangsung khidmat tersebut menjadi momentum syukur penuh haru atas proses pendidikan para santri sekaligus ajang pelepasan dan apresiasi bagi santri yang telah menyelesaikan jenjang pendidikannya.
Acara dihadiri oleh jajaran pengasuh pondok pesantren, pengurus Yayasan Penyelenggara Pendidikan Ma’arif (YPPM) NU Ajibarang, Rais Syuriah Tanfidziah MWCNU Ajibarang, wali santri, tokoh masyarakat, para santri serta alumni. Rangkaian kegiatan diawali dengan pembacaan ayat suci Al Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya, Mars Syubbanul Wathan, dan Mars YPPM NU Ajibarang. Dilanjutkan sambutan-sambutan, haflah kitab, pidato tiga bahasa (Arab, Inggris, dan Indonesia), penampilan wisudawan-wisudawati, penyerahan syahadah, hingga mauidhah hasanah yang menjadi puncak acara dan diakhiri doa penutup.
Ketua Panitia Haflah Akhirissanah, Ustadz Imam Turmudi, mengatakan bahwa kegiatan tahun ini diselenggarakan secara sederhana sebagai bentuk kepedulian kepada para wali santri agar tidak terbebani biaya yang berlebihan.
“Kami berupaya menyelenggarakan kegiatan ini dengan sederhana namun tetap khidmat. Pendidikan dan pencarian ilmu memang membutuhkan pengorbanan, baik tenaga, waktu maupun biaya. Karena itu kami berusaha agar wali santri tidak terbebani,” ujarnya.

Sementara itu, Pengasuh PPM Ibnu Sina Ajibarang, KH. Abu Bakar Jury, Lc., M.H., menyampaikan rasa syukur dan terima kasih kepada seluruh tamu undangan yang telah hadir.
“Kehadiran bapak, ibu dan seluruh tamu undangan merupakan suatu kebanggaan dan kebahagiaan bagi kami. Semoga Pondok Pesantren Modern Ibnu Sina semakin maju, semakin berkah, dan dimudahkan segala urusannya oleh Allah SWT,” tuturnya.
Menurutnya, belakangan citra pesantren di sejumlah daerah menghadapi tantangan akibat munculnya kasus yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu. Hal tersebut menjadi pengingat bagi para orang tua untuk memondokkan anaknya di pondok pesantren yang benar-benar jelas sanad keilmuannya, serta menjadi pengingat bagi seluruh pengelola lembaga pendidikan agar terus meningkatkan pengawasan dan pembinaan.
“Alhamdulillah, di PPM Ibnu Sina pengawasan terhadap santri dilakukan secara ketat dan berkelanjutan dengan didukung para ustadz yang memiliki keilmuan mumpuni. Kami terus berupaya menciptakan lingkungan pendidikan yang aman, nyaman, dan kondusif bagi tumbuh kembang para santri,” jelasnya.
Beliau juga mengajak para santri yang telah lulus untuk mengenalkan pesantren kepada masyarakat serta mendorong generasi muda lainnya menempuh pendidikan di pesantren.
Pembina PPM Ibnu Sina, KH. Abdul Hamid Rusdi, S.Pd.I., mengapresiasi para pengasuh dan dewan asatidz yang dengan sabar mendidik santri. Beliau pun menyampaikan terima kasih kepada para wali santri yang telah mempercayakan pendidikan putra-putrinya kepada pondok pesantren. Menurutnya, mendidik anak sejatinya merupakan tanggung jawab utama orang tua. Namun sebagian amanah tersebut telah dipercayakan kepada lembaga pendidikan dan pesantren.
Beliau kemudian berpesan kepada para wisudawan agar mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya sesuai situasi kondisi dan kemampuan. “Ta’allamul ‘ilma wa’allimuhu an-nas” (pelajarilah ilmu dan ajarkan kepada manusia). Namun demikian, beliau menegaskan bahwa pengamalan ilmu harus dimulai dari diri sendiri terlebih dahulu.
Selain mengamalkan ilmu, para santri juga diharapkan menjadi pribadi yang berbakti kepada orang tua (birrul walidain), menghormati guru, ulama, dan orang-orang yang lebih tua. Jadilah teladan yang baik di tengah masyarakat. Kehidupan seseorang merupakan cerita bagi generasi berikutnya. Maka jadilah cerita yang baik bagi yang mendengarkannya.
Acara semakin semarak dengan penampilan para wisudawan yang menampilkan kemampuan pidato dalam tiga bahasa, yakni Bahasa Arab, Bahasa Inggris, dan Bahasa Indonesia. Selain itu, para santri juga menampilkan hafalan kitab dan berbagai kemampuan akademik maupun keagamaan yang mendapat apresiasi dari para hadirin.
Pada kesempatan tersebut juga diumumkan tiga wisudawati terbaik. Peringkat ketiga diraih Isnaeni Yuliati dengan nilai total 519 (rata-rata 86,5), disusul Desti Ayuningtyas di peringkat kedua dengan nilai total 547 (rata-rata 91,2). Adapun peringkat pertama diraih Nadin Aliya Zahra dengan nilai total 563 (rata-rata 93,8).
Acara dilanjutkan dengan mauidhah Hasanah oleh KH. Dirjo Abdul Hadi dari Brebes. Beliau menyampaikan bahwa setiap orang tua tentu mendambakan memiliki anak yang shalih. Anak yang shalih tidak hanya menjadi kebanggaan keluarga, tetapi juga menjadi sebab terangkatnya derajat orang tua, baik di dunia maupun akhirat. Hal tersebut sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Apabila manusia meninggal dunia maka terputuslah seluruh amalnya kecuali tiga perkara: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.” (HR Muslim)

Beliau pun menjelaskan bahwa pendidikan anak sejatinya dimulai dari orang tua. Pesan tersebut sejalan dengan firman Allah SWT dalam QS At-Tahrim ayat 6:
“Wahai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api Neraka.”
Untuk melahirkan generasi shalih, orang tua juga harus berusaha menjadi pribadi yang shalih dan shalihah. Salah satu doa yang dianjurkan untuk diamalkan setelah selesai shalat adalah: “Rabbi habbli minashshalihin”. Selain memperbanyak doa, orang tua juga dianjurkan menjaga shalat berjamaah, melaksanakan shalat tahajud, shalat dhuha, puasa sunnah Senin-Kamis, serta memberikan nafkah dan makanan yang halal kepada keluarga. Keberkahan hidup tidak hanya ditentukan oleh banyaknya harta, tetapi juga oleh kedekatan seseorang kepada Allah SWT. Sebagai anak, para santri juga diingatkan untuk senantiasa mendoakan kedua orang tuanya setelah shalat dengan doa: “Rabbighfirli waliwalidayya warhamhuma kama rabbayani shaghira.”
Haflah Akhirissanah ke-5 tidak hanya menjadi ajang wisuda dan pelepasan santri, tetapi juga peneguhan komitmen PPM Ibnu Sina Ajibarang dalam mencetak generasi yang berilmu, berakhlak mulia, serta siap mengabdi kepada agama, bangsa, dan masyarakat.








Komentar