oleh

Hari Buku Dunia, Jurnalis Independen Bersatu Dialog Bersama 3 Tokoh Penulis Nasional Bahas “Karismatik Bahan Bacaan”

(Koran SINAR PAGI)-, Perayaan Hari Buku Anak Sedunia 2026 diperingati setiap tanggal 2 April, sedangkan Hari Buku Sedunia dirayakan pada tanggal 23 April. Momen peringatan yang berlangsung sebagai upaya mendekatkan dan menumbuhkan minat baca masyarakat kepada bahan bacaan atau buku.

Pada tahun ini, dalam rangka memperingati Hari Buku tersebut, Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu membahas tentang “Karismatik Bahan Bacaan”. Bersama 3 narasumber yaitu Ketua Umum Asosiasi Kepala Sekolah Indonesia (AKSI), Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd., Penulis Buku “Mushaf 3”, Dr. Ida Rohayani, M.Pd., Penulis Buku “Pendidikan Pancasila” di Kemendikbudristek sejak tahun 2023 dan Ning Khilma Anis penulis buku Novel Hati Suhita, Best Seller (lebih dari 200 ribu cetakan berbasis minor).

Cendikiawan dan Penulis Buku, Dr. Dudung Nurullah Koswara

Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd., kepada wartawan menjelaskan setiap penulis memiliki karakter atau ciri khas masing-masing. Namun yang paling penting untuk menjadi keunggulan dalam sebuah buku atau karya tulis. Perlu keberanian membahas hal yang ditakuti untuk dibahas oleh orang lain.

“Karena masih banyak kelompok yang tidak berani bersuara kepada publik, takut oleh oknum kelompok tertentu. Sehingga melalui karya tulis yang dipublikasikan melalui buku atau media massa. Penulis dapat mewakili kelompok tersebut dan mencegah atau menghilangkan secara perlahan-lahan berbagai hal buruk yang dirasakan oleh mereka di kemudian hari” jelasnya tokoh dari Sukabumi, saat wawancara khusus ketika berkunjung ke Bandung Raya (3/4/2026)

Menurutnya dari keberanian menulis tentang itu, pasti ada pahit dan manis dari pengaruh tulisannya yang direspon oleh publik. Pahitnya ketika mendapatkan serangan atau perlawanan dari oknum yang ditulis itu. Sedangkan manisnya, ketika buku yang ditulis dibaca dan diapresiasi langsung oleh Presiden dan Menteri atau Gubernurnya.

Buku karya Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd., tentang Gubernur Jawa Barat

Hobi berkarya tulis yang selama ini dijalani dirasa dapat meningkatkan kecerdasan IQ (intelektual), EQ (emosional), SQ (spiritual), kecerdasan sosial, kecerdasan memanfaatkan disrupsi atau kecerdasan linguistik dan jurnalistik.

Perihal strategi untuk menumbuhkan karismatik bahan bacaannya, Dr. Dudung Nurullah Koswara, M.Pd., sering membuat judul yang kontroversial atau memuji kebijakan tertentu. Hal itu berdasarkan riset, karena kelompok pembaca yang ada di Indonesia, cenderung terdiri dari mereka yang menyukai sesuatu, lalu dipuji-puji atau mereka yang membenci sesuatu, lalu hal jelek itu dibahas. Sebagai penulis harus mampu menyisipkan gagasannya agar diterima oleh mereka.

Sedangkan Dr. Ida Rohayani, M.Pd., menyampaikan sebagai penulis buku mata pelajaran yang bukunya dicetak dan disebarluaskan oleh pihak Kementrian. Ada proses yang sangat ketat dalam standarisasi isinya.

“Karena dibaca secara nasional, jika ada kesalahan sedikit, dampak buruknya akan mudah dan cepat meluas. Sehingga sebelum isi bukunya diterbitkan ada banyak berbagai pertimbangan dan penilaian untuk memastikan isinya. Bukan hanya dari segi kualitas, namun juga keamanan ketika menjadi landasan berpikir atau prinsip untuk generasi bangsa ke depan” jelasnya saat interaktif bersama media cetak dan online melalui sambungan telephone pribadinya (3/4/2026)

Dr. Ida Rohayani, M.Pd., sebagai akademisi yang bersertifikat penulis dari BNSP (Badan Nasional Sertifikasi Profesi) mengungkapkan jika sebagai penulis dinilai berhasil menghasilkan karya terbaiknya, maka peluang untuk menulis hal lain berdatangan.

“Misalnya saya dulu hanya menulis buku mata pelajaran di Kemendikbudristek, sekarang diberi tugas atau amanah untuk menulis buku mata pelajar khusus Sekolah Rakyat yang ada di Kemensos. Target pembacanya berbeda, mereka adalah para pelajar yang terkadang usianya lebih dewasa, tapi rawan putus sekolah. Dari segi ekonominya menengah ke bawah, serta kemampuan untuk memahami mata pelajaran agak lambat. Sehingga dari bahasa atau kalimatnya yang dipakai untuk menjelaskan tentang Pancasila perlu yang lebih sederhana dan mudah dipahami, tetapi tidak sampai menurunkan kualitas buku mata pelajarannya,” ungkapnya penulis yang sempat menulis buku secara bersama-sama dengan perwakilan dari TNI, Widyaiswara dan para ahli dibidang lainnya, ketika mengikuti pendidikan di Lemhannas RI (Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia)

Sebagai penulis yang berbasis non fiksi, dirinya berupaya memverifikasi berulang kali karya tulisnya, menguji isinya dengan minta masukan melalui dibaca terlebih dahulu oleh atasan/pimpinan, perwakilan sesama satu profesi dan calon pembaca / pelajar. Serta berupaya bersikap tegas dan mengutamakan tahapan ilmiah dalam membahas atau menyampaikan tentang nilai, norma dan moral, serta sumber referensi lainnya yang akan menguatkan ideologi Pancasila. Proses itu harus ditempuh, sebelum bukunya memasuki proses cetak.

Hal lain diungkapkan oleh Ning Khilma Anis saat interaktif bersama jurnalis Koran SINAR PAGI melalui voice note, pada prinsipnya sebagai penulis harus berkepribadian bagus terlebih dahulu, terus belajar dengan banyak-banyaklah membaca. Menghimpun berbagai fakta sejarah, fokus menulis pada hal yang diketahui atau dialami yang akan dibahasnya. Serta mengemasnya melalui karya tulis yang tidak terbatasi calon jumlah pembacanya, supaya jangkauan promosi lebih luas.

“Seperti karya tulis fiksi atau novel itu memiliki pembaca yang lebih luas, tanpa batas usia, jenjang pendidikan, agama dan hal lainnya. Jika dibandingan tulisan non fiksi,” ungkapnya penulis novel yang distribusinya sampai ke luar negeri, Taiwan, Hong Kong dan Singapura.

Koleksi di perpustakaan pribadi Khilma Anis, Majalah Gatra: Warta Wayang yang diterbitkan oleh Sekretariat Nasional Pewayangan Indonesia (Senawangi)

Untuk memasyarakatkan atau menyebarluaskan isi tulisannya, perlu upaya lain. Seperti kolaborasi dengan produser atau ahli perfilman. Dengan target merubah dari karya tulis menjadi film atau mengalih visualkannya, agar karyanya dapat dinikmati oleh lebih banyak orang. Dan agar terhindar dari hal negatif, setelah perubahan dari novel ke film itu, maka sebelumnya perlu FGD (Focus Group Discussion) antara penulis dan tim produser untuk kesepatakan alur cerita, lokasi syuting film, pemeran tokoh utama hingga proses pembuatannya.

“Dengan ditayangkan di Netflix pada bulan syawal 1447 H, film novel Hati Suhita sempat masuk ke peringkat 4 sebagai tontonan yang terpopuler. Setelah itu banyak produser lain yang berminat juga untuk membuat film dari sumber novel-novel sebelumnya” ucapnya penulis novel yang di waktu pesantrennya sempat mengelola Majalah SUSANA (Suara Santri Assaidiyah) dan menjadi Redaktur di Majalah ELITE (Majalah Siswa Siswi MAN Tambakberas Jombang)

Menurutnya bahan bacaan yang membahas tentang warisan budaya daerah atau sastra berupa nasihat dari tokoh terdahulu masih diminati sampai saat ini. Serta dijadikan referensi atau diambil untuk mewarnai modernitas setiap generasi sebagai pegangan dalam kehidupannya.

Sementara itu, Kepala Pusat Pengembangan Relasi Media Massa, Organisasi Profesi Jurnalis Independen Bersatu, Dwi Arifin menyimpulkan melalui dialog tersebut, diharapkan dapat menjadi momen untuk berbagi pengalaman antara narasumber / tokoh penulis tentang strategi menghasilkan bahan bacaan yang berkualitas kepada publik baca media massa. Menumbuhkan budaya baca dan daya baca, hingga minat bakat menulis buku fiksi dan non fiksi untuk berbagai kalangan. Serta mempromosikan berbagai buku melalui media massa untuk menjadi sumber referensi tambahan bagi masyarakat.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *