oleh

Ramai Secara Fisik, Sepi Secara Jiwa: Alarm Krisis Generasi Sekuler

Oleh: Rukmini (Pegiat Literasi)

Kita hidup di zaman yang paling ramai namun sekaligus paling sepi. Media sosial membuat semua orang terhubung setiap detik, gedung-gedung kampus dan kota dipenuhi manusia, tetapi di dalam dada banyak orang justru ada kekosongan yang dalam. Keramaian tidak lagi menjamin kebersamaan, dan kesibukan tidak lagi menjamin ketenangan. Inilah potret buram generasi hari ini: kesepian di tengah keramaian.

Fenomena ini bukan lagi kasus per kasus, melainkan sudah menjadi alarm nasional. Berita tentang anak muda yang mengakhiri hidupnya sendiri datang silih berganti, dengan latar belakang yang tampak baik-baik saja secara materi dan pendidikan. Ada yang salah dengan cara kita hidup dan cara negara ini membentuk generasinya.

*Generasi Muda di Titik Paling Rapuh*

Rangkaian peristiwa dalam sepekan terakhir menggambarkan betapa dalamnya krisis ini. Seorang mahasiswi Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya berinisial RR diduga melakukan percobaan bunuh diri dengan melompat dari lantai 6 gedung kampus pada Kamis [10/9/2026].

Beberapa hari sebelumnya, seorang pria berinisial FS ditemukan meninggal dunia diduga bunuh diri di kawasan GBK, Jakarta Pusat, pada Minggu [6/9/2026] dini hari. Sebelum kepergiannya, ia sempat mengunggah pesan perpisahan dan bahkan mendonasikan uang sebesar Rp40 juta kepada komunitas kesehatan mental.

Data memperkuat fakta tersebut. Hotline pencegahan bunuh diri Healing http://119.id mencatat bahwa klien yang datang didominasi oleh kelompok usia 21–30 tahun. Artinya, krisis kesehatan mental ini secara spesifik menghantam generasi muda, generasi yang seharusnya berada di puncak produktivitas dan harapan. kompas.id, Kamis (10/09/2026)

*Akar Sepi dari Sekularisme dan Kapitalisme*

Mengapa generasi yang paling terkoneksi justru menjadi generasi yang paling kesepian? Jawabannya tidak bisa dilepaskan dari sistem hidup yang diterapkan hari ini, yaitu Sekularisme-Kapitalisme.

Pertama, sekularisme mencabut akar jiwa. Sekularisme secara sistematis mencabut akidah dari kehidupan. Agama hanya ditempatkan di ruang privat ibadah ritual, tidak boleh mengatur cara pandang terhadap masalah hidup. Akibatnya, generasi kehilangan pegangan transenden saat menghadapi tekanan. Tanpa iman, kesulitan hidup terasa sebagai beban yang final dan tanpa makna. Tidak ada keyakinan bahwa sabar ada pahalanya dan kesulitan ada akhirnya. Yang tersisa hanyalah keputusasaan yang berujung pada jalan pintas yang diharamkan.

Kedua, kapitalisme melahirkan masyarakat yang individualistik dan asosial. Kapitalisme membangun budaya yang sangat positivistis dan berorientasi pada kesuksesan individu. Setiap orang didorong untuk berjuang sendiri, bersaing sendiri, dan memikul bebannya sendiri. Solidaritas sosial digantikan oleh kompetisi, empati digantikan oleh pencitraan. Inilah yang melahirkan masyarakat yang asosial. Seseorang bisa memiliki ribuan followers, namun tidak memiliki satu pun tempat untuk bercerita. Kesepian pun merajalela, bahkan di antara mereka yang secara materi berkecukupan dan secara akademik berprestasi.

Semua ini adalah buah dari negara yang menerapkan Sekularisme-Kapitalisme. Negara inilah yang secara sadar membentuk individu yang rapuh melalui penerapan sistem pendidikan sekuler yang kering dari nilai akidah, dan sistem ekonomi Kapitalisme yang menekan dan tidak menjamin kesejahteraan. Negara abai terhadap pembangunan jiwa, hanya fokus pada pembangunan fisik dan angka pertumbuhan.

*Membangun Jiwa Kokoh dan Masyarakat yang Peduli*

Islam datang dengan solusi yang menyentuh akar persoalan, bukan sekadar tambalan:

Pertama, Islam membangun benteng akidah sejak dini. Islam menjadikan akidah sebagai pondasi utama pembentukan kepribadian. Sejak dini, seorang Muslim ditanamkan keyakinan bahwa hidup adalah ujian dari Allah SWT, bahwa setiap kesulitan pasti disertai kemudahan, dan bahwa Allah tidak membebani hamba di luar kemampuannya. Keyakinan bahwa bunuh diri adalah dosa besar dan haram, serta bahwa kesabaran dalam ujian akan berbuah surga, menjadi benteng jiwa yang paling kokoh. Dengan akidah ini, seorang Muslim tidak akan mudah berputus asa, karena ia tahu kepada siapa harus bersandar.

Kedua, Islam membangun jaringan sosial yang kuat berbasis ukhuwah. Islam tidak membiarkan seorang pun menanggung beban hidupnya sendirian. Islam membangun ikatan yang sangat kuat, mulai dari keluarga, tetangga, hingga masyarakat, semuanya diikat oleh akidah Islam, bukan oleh kepentingan materi. Ada kewajiban saling menasihati dalam kebenaran dan kesabaran, ada kewajiban menjenguk yang sakit, ada kewajiban membantu yang kesulitan. Konsep ukhuwah Islamiyah memastikan tidak ada ruang untuk kesepian yang berlarut. Ketika satu anggota masyarakat sakit, yang lain merasakan sakitnya.

Ketiga, peran negara Khilafah dalam menjamin kesehatan jiwa dan raga. Semua itu tidak akan terwujud tanpa peran negara yang menerapkan sistem Islam secara kaffah. Negara Khilafah bertanggung jawab penuh menerapkan sistem pendidikan berbasis akidah Islam yang bertujuan membentuk individu yang berkepribadian Islam, kokoh jiwanya, dan cemerlang pemikirannya. Bukan sekadar mencetak pekerja untuk industri kapitalis.

Di sisi lain, Khilafah juga menerapkan sistem ekonomi Islam yang menjamin pemenuhan kebutuhan pokok setiap individu, menghilangkan tekanan ekonomi yang menjadi pemicu utama stres dan depresi. Dengan jaminan kesejahteraan dan lingkungan masyarakat yang saling peduli, negara akan melahirkan generasi yang kuat, berdaya, dan tidak mudah rapuh. Bukan generasi yang ramai di media sosial, namun sepi dan hampa di dunia nyata.

Wallahu a’lam bish-shawab.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *