oleh

‎Kunjungan Menteri Kebudayaan RI ke Keraton, Radya Anom Ungkap Jejak Agung Kerajaan Sumedang Larang: Dari “Insun Medal Insun Madangan”  Hingga Mahkota Binokasih

Pewarta: Jeky Epsa

‎Koran Sinar Pagi, Sumedang,– Langit Sumedang seolah menjadi saksi ketika kejayaan masa silam kembali dihidupkan. Di lingkungan Keraton Sumedang Larang, denyut sejarah peradaban Sunda menggema kuat saat Radya Anom Luky Djohari Soemawilaga memaparkan jejak agung Kerajaan Sumedang Larang di hadapan Menteri Kebudayaan Republik Indonesia, Fadli Zon, dalam kunjungan resmi ke Keraton Sumedang Larang, Sabtu (17/01/2026).

‎Di hadapan para undangan, tokoh adat Keraton itu menuturkan sejarah panjang dan monumental Sumedang Larang yang membentang lebih dari delapan abad. Sejarah itu bermula pada tahun 721 Masehi, ditandai oleh titah legendaris,

‎“Insun Medal Insun Madangan”, sebuah pernyataan kelahiran kedaulatan dan peradaban Sunda, hingga mencapai puncaknya pada tahun 1578, saat Mahkota Binokasih diserahkan kepada Prabu Geusan Ulun,”ucap Radya Anom  Luky Djohari Soemawilaga.

‎Paparan Radya Anom Luky diawali dengan mengangkat sosok Prabu Tadjimalela, putra dari Maha Prabu Guru Aji Putih, Raja Kerajaan Tembong Agung. Dari kerajaan inilah cikal bakal Keraton Sumedang Larang bermula, sekaligus menjadi fondasi awal terbentuknya tatanan politik, adat, dan spiritual masyarakat Sunda di wilayah Sumedang.

‎“Prabu Tadjimalela merupakan putera dari Maha Prabu Guru Aji Putih, Raja Kerajaan Tembong Agung, yang menjadi asal mula berdirinya Kerajaan Sumedang Larang,” ujar Radya Anom Luky dengan nada penuh penghormatan.

‎Ia menegaskan, titah Insun Medal Insun Madangan bukan sekadar ungkapan simbolik, melainkan deklarasi lahirnya kepemimpinan dan kedaulatan yang berpijak pada nilai-nilai adat, kebijaksanaan spiritual, serta tata pemerintahan yang berwibawa.

‎“Dari Prabu Tadjimalela inilah pondasi Sumedang Larang dibangun. Bukan hanya sebagai kerajaan, tetapi sebagai pusat peradaban Sunda,” tuturnya.

‎Luky mengungkapkan, sejarah kemudian mencapai titik kulminasi pada masa pemerintahan Prabu Geusan Ulun. Penyerahan Mahkota Binokasih dari Kerajaan Pajajaran pada tahun 1578 menjadi peristiwa sakral sekaligus bersejarah, yang menandai runtuhnya Pajajaran dan berakhirnya kekuasaan Prabu Siliwangi dengan gelar Prabu Seda Mulya Surya Kancana.

‎“Penyerahan Mahkota Binokasih menjadi simbol berakhirnya Pajajaran dan berpindahnya legitimasi kekuasaan Sunda kepada Sumedang Larang sebagai penerusnya,” jelas Radya Anom.

‎Ia pun  mengungkap kebijaksanaan politik Prabu Seda Mulya Surya Kancana yang memilih jalan burak (membubarkan diri) demi menghindari peperangan dengan Kesultanan Banten dan Kesultanan Cirebon yang kala itu tengah berada dalam puncak kekuatan.

‎“Kesultanan Banten dan Cirebon memiliki garis keturunan dari Pajajaran. Demi menghindari perang saudara, Prabu Siliwangi memilih jalan damai melalui burak Pajajaran,” terangnya.

‎Peristiwa bersejarah tersebut meneguhkan Keraton Sumedang Larang sebagai pewaris sah legitimasi kekuasaan Pajajaran, sekaligus menjadi kerajaan terakhir yang memegang estafet kejayaan Sunda.

‎Di bawah kepemimpinan Prabu Geusan Ulun, jelas  Luky, Sumedang Larang tumbuh sebagai kerajaan besar yang disegani, berpengaruh kuat dalam bidang politik, budaya, dan spiritual di Tatar Sunda hingga Nusantara.

‎Pemaparan sejarah itu menyedot perhatian penuh para hadirin, termasuk Menteri Kebudayaan RI. Nuansa haru dan kebanggaan terasa ketika kisah leluhur Sumedang disampaikan dengan penuh makna dan keagungan.

‎Melalui momentum tersebut, Radya Anom Luky menegaskan pentingnya menjaga kesinambungan sejarah.
‎“Keraton Sumedang Larang bukan sekadar peninggalan masa lalu. Ia adalah warisan hidup, jati diri, dan akar kebudayaan yang harus terus dijaga, dipahami, dan diwariskan kepada generasi masa depan,” pungkasnya.***

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *