oleh

Jejak Ibroh dari Presiden Jurnalis Berhijab, Ketika Ditakdirkan Menjadi Pelayan Ibadah Haji

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, Salsabila Alkatiri adalah seorang jurnalis dan News Reporter di Rajawali Televisi (RTV) yang aktif sejak Juli 2018. Dia juga dikenal sebagai Presiden Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) sejak tahun 2024 dan pernah menjadi Petugas Haji pada tahun 2023. Salsabila memiliki latar belakang pendidikan dari Universitas Mercu Buana dan pengalaman magang di Kementerian Sekretariat Negara RI.

Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., sebagai Presiden Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) dikenal karena dedikasinya dalam dunia jurnalistik dan pengalamannya meliput hingga ke Mekkah, Arab Saudi. Sebagai pemimpin komunitas yang mewadahi jurnalis perempuan berhijab, Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., sering membagikan ilmu dan pengalamannya, ketika diundang menjadi narasumber mengenai karya jurnalistik berkualitas dan peran organisasinya.

Pada tahun ini Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., kembali melaksanakan ibadah umroh berbarengan dengan momen bulan Ramadan di Mekkah. Sebuah anugrah terindah ketika menjadi tamu Alloh ke Baitulloh, pertama ketika bersama jamaah ibadah haji, sebagai bagian dari pelayan umat dan ke dua ketika momen umroh mandiri di bulan Ramadan sampai puncaknya Idul Fitri tahun 2025 dan tahun ini ibadah umroh ke II di bulan Ramadan 1447 H. Dari berbagai perjalanan ibadah yang semua orang tidak diberi kesempatan untuk itu, kesan apa yang ingin dibagikan kepada publik baca media massa?…

Menjadi tamu Allah ke Baitullah, baik sebagai petugas haji maupun saat umroh mandiri di bulan Ramadan, adalah anugerah yang tidak bisa diukur dengan apapun.

Sebagai petugas haji, saya belajar bahwa melayani tamu Allah adalah kehormatan sekaligus amanah besar. Fokus ibadah saat itu adalah memberikan pelayanan maksimal kepada jemaah haji, memastikan mereka dapat menjalankan ibadah dengan baik dan nyaman. Di sana, saya melihat begitu banyak kisah ketulusan, kesabaran, dan keikhlasan dari para jamaah.

“Sementara saat umroh di bulan Ramadan, suasananya jauh lebih personal dan reflektif. Saya memiliki ruang yang lebih leluasa untuk beribadah secara langsung kepada Pemilik Baitullah, merasakan kedekatan yang berbeda antara hamba dan Rabb-nya. Dari dua pengalaman ini, saya ingin menyampaikan bahwa panggilan ke Tanah Suci bukan hanya tentang “siapa yang mampu”, tetapi tentang “siapa yang dipanggil”. Dan ketika Allah sudah mengundang, setiap langkah di sana akan terasa penuh makna,” jelasnya saat interaktif tertulis melalui sambungan telephone pribadinya bersama Jurnalis media cetak dan online Koran SINAR PAGI (19/3/2026)

Untuk mencapai puncak niat ibadah umrohnya, perlu bekal khususnya materi / uang puluhan juta rupiah. Sebagai jurnalis bagaimana prosesnya untuk menyiapkan itu?…

Sebagai jurnalis, tentu saya menyadari bahwa perjalanan ibadah seperti umroh membutuhkan persiapan, termasuk dari sisi finansial. Prosesnya adalah dengan perencanaan yang matang, menyisihkan penghasilan secara bertahap, serta memprioritaskan antara kebutuhan dan keinginan.

Namun di atas itu semua, ada keyakinan bahwa jika niat sudah diluruskan, Allah akan memudahkan jalan. Banyak hal yang terasa “tidak mungkin” secara hitungan manusia, tapi menjadi mungkin ketika Allah sudah berkehendak.

Pasti banyak Ibroh atau hikmahnya selama puluhan hari prosesnya untuk menjalankan ibadah tersebut. Apa yang menjadi arah baru ke depan dalam perjalan kehidupan Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., setelah menjalankan ibadah tersebut?…

Perjalanan ini mengajarkan saya tentang makna tawakkul, kesabaran, dan keikhlasan. Ke depan, saya ingin menjalani hidup dengan lebih sadar, bahwa setiap langkah adalah bagian dari ibadah.

“Tidak hanya di Tanah Suci, tapi juga dalam keseharian, dalam pekerjaan, dalam interaksi dengan sesama, dan dalam menjaga hati. Saya juga belajar bahwa yang paling penting bukan hanya sampai ke Baitullah, tetapi bagaimana kita bisa membawa pulang nilai-nilai dari sana ke dalam kehidupan sehari-harinya,” ucapnya

Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., ketika menjadi petugas ibadah haji

Untuk selanjutnya ibadah apa atau yang seperti apa oleh Salsabila Alkatiri, S.I.Kom, dirasa belum terlaksana secara optimal. Jika membandingankan diri dengan kisah-kisah ibadah dari teladan Nabi atau Sahabatnya?…

Pertanyaan nya luar biasa hehe, Jika dibandingkan dengan teladan Nabi dan para sahabat, tentu saya merasa ibadah saya masih sangat jauh dari kata sempurna.

“Mungkin secara lahiriah kita bisa menjalankan rangkaian ibadah, namun menjaga kekhusyukan, keikhlasan, keridhaan hati, dan keistiqomahan setelahnya adalah tantangan yang jauh lebih besar. Di situlah saya merasa masih perlu banyak belajar tentang bagaimana menjadikan ibadah bukan sekadar rutinitas, tetapi benar-benar menjadi kebutuhan dan sumber ketenangan hidup,”ungkapnya

Berhubungan dengan momen akhir di bulan Ramadan 1447 H. Apa yang ingin diungkapkan, ketika Ramadan berlalu?…

Ramadan bagi saya bukan sekadar momen yang datang dan berlalu, tetapi titik awal untuk menjadi pribadi yang lebih baik. Sebagai titik awal untuk berbenah menggapai maghfirahnya di bulan penuh ampunan dan penuh rahmat.

“Harapannya, setelah Ramadan berlalu, saya bisa tetap menjaga kebiasaan baik yang sudah dibangun baik dalam ibadah, upaya pengendalian diri, maupun hubungan dengan sesama. Dan yang paling penting, semoga hati ini tetap terkoneksi dengan Allah, tidak hanya di bulan Ramadan, tetapi juga di bulan-bulan setelahnya, aamiin,”

Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., saat membaca media cetak di kantornya

Informasi yang dihimpun koransinarpagionline.com dari Kompas.com, Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., sempat juga menceritakan suasana Idul Fitri di Masjidil Haram pada tahun 2025. Ketika jutaan jemaah dari berbagai penjuru dunia berkumpul sejak dini hari, demi merasakan shalat Idul Fitri di Tanah Suci.

“Kalau dibilang padat, waktu itu padat banget. Masya Allah, Masya Allah banget. Musim haji sudah padat, ini lebih padat,” ujar Salsabila membagikan pengalamannya saat mengikuti Shalat Ied di Masjidil Haram.

Menurutnya untuk bisa masuk ke dalam area Masjidil Haram, perjuangan dimulai sejak dini hari. Sebab pada jam-jam tertentu, gerbang-gerbang utama ditutup bertahap dengan penjagaan ketat dari Askar (petugas keamanan setempat).

“Untuk bisa masuk ke dalam, itu harus dari jam 1 dini hari. Setelah itu, pintu-pintu sudah dijaga ketat dan ditutup,” tutur Salsabila.

Karena terlalu padatnya, kendaraan dari Hotel pun tak bisa melanjutkan perjalanan.

“Belum sampai setengah jalan, udah nyerah. Kami minta stop dan lebih memilih berjalan kaki bersama atau mengikuti orang-orang yang pakai kain ihram untuk sampai ke lokasinya,” ungkap Salsabila.

Salsabila Alkatiri, S.I.Kom., menyimpulkan perbedaan lainnya ketika salat Id di Masjidil Haram, jemaah mengenakan kain ihram untuk salat. Mungkin karena mereka baru selesai tawaf atau berrencana lanjut umrah.

Dirinya berharap pengalaman spiritualnya atau kebahagian dalam ibadahnya di sana, dapat dirasakan juga umat muslim di Indonesia.

“Semoga pembaca berita ini bisa merasakan juga, suatu hari bisa beribadah di sana. Rasanya luar biasa,” ucapnya.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *