Penulis / Tim Studi Banding : Dwi Arifin, Kepala Pusat Pengembangan Relasi Media Massa organisasi profesi Jurnalis Independen Bersatu, Yadi Karyadipura, Staf Ahli Pelestarian Bahasa Daerah & Subina Fikri, Staf Ahli Bahasa Asing.
Media cetak berbentuk Koran, Majalah dan Tabloid masih menjadi prioritas bahan bacaan masyarakat. Walaupun kondisinya sejak tahun 2014, berdasarkan jumlah distribusi atau publik bacanya mulai menurun. Karena beralihnya pembaca ke media online.
Melihat fenomena tersebut, Organisasi Profesi (Orgprof) Jurnalis Independen Bersatu berupaya merumuskan strategi untuk menumbuhkan kembali eksistensi media cetak. Dengan melaksanakan peringatan Hari Pers Nasional 2026 melalui studi banding ke media cetak yang ada di Jakarta, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur, studi banding berbasis digital atau secara langsung mengamati proses hingga distribusi atau publik baca media cetaknya.
Studi banding pertama ke redaksi Majalah Risalah yang diterbitkan oleh Lajnah Ta’lif wan Nasyr Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Majalah yang memiliki jaringan publikasi ke luar negeri melalui organisasi Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama, serta memiliki publik baca dari masyarakat desa yang ada di Pegunungan atau pinggiran Lautan melalui distribusi anak ranting Nahdlatul Ulama di tingkat desa.

Selanjutya kedua, ke redaksi Majalah Mangle yang saat ini diterbitkan oleh Pusat Budaya Sunda Universitas Padjadjaran. Majalah berbahasa Sunda yang mengalami perubahan dari segi pengelolaan keredaksiannya, dengan dipimpin oleh para akademisi di perguruan tinggi.
Ketiga ke Majalah Ancas Banyumas Jawa Tengah, Majalah ANCAS yang merupakan satu-satunya literasi berbahasa dialek Banyumasan atau sering disebut Bahasa Penginyongan yang terbit rutin sejak tahun 2010 sampai sekarang. Hadir sebagai media perjuangan untuk mengangkat berbagai pernak-pernik kearifan lokal tentang sosial budaya masyarakat Banyumas. Sebagai salah satu perwujudan darma bhakti kepada tanah wutah getih dengan harapan jadi warisan generasi tentang eksistensi perkembangan bahasa Banyumasan di tengah pergulatan peradaban masa kini dan masa yang akan datang. Hingga saat ini majalahnya masih dikelola oleh sastrawan terkemuka Ahmad Tohari bersama K.H. Ahmad Sobri.

Keempat ke Majalah Jaya Baya di Surabaya Jawa Timur, Majalah Jaya Baya adalah kalawarti (majalah mingguan) berbahasa Jawa terkemuka yang terbit di Surabaya, Jawa Timur, sejak tahun 1945. Didirikan oleh Tadjib Ermadi, majalah ini berfokus pada pelestarian bahasa Jawa, budaya, serta memuat berita aktual, cerita misteri, dan sastra, menjadikannya salah satu penjaga budaya Jawa terlama.

Berbagai media cetak tersebut telah berulang kali menerima penghargaan dari Pemerintah Daerah hingga Pemerintah Pusat atau berbagai Kementrian dari upayanya melestarikan bahasa daerah.
Media cetak yang selama ini masih eksis memiliki peran yang dapat dioptimalkan untuk mensukseskan program nasional Trigatra Bangun Bahasa. Slogan dan kebijakan strategis kebahasaan yang dirumuskan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa untuk menjaga identitas dan daya saing bangsa. Konsep yang terdiri dari tiga pilar utama: 1) Utamakan bahasa Indonesia, 2) Lestarikan bahasa daerah, dan 3) Kuasai bahasa asing.

Studi banding juga menelusuri jejak penulis dari kalangan Pesantren, Uswatun Hasanah, S.H.I., M.Pd., pengasuh Pondok Pesantren Al-Azhar Mojokerto, akademisi, dan penulis buku yang aktif mengkaji Fikih Perempuan dan Dr. KH. Fathul Bari, S.S., M.Ag., Pengasuh Pondok Pesantren Wisata An-Nur II Malang Jawa Timur.

Dari proses studi banding tersebut, disimpulkan bahwa untuk kemajuan media cetak di masa depan. Perlu menambah jumlah penulis yang karismatik sebagai daya tarik media cetaknya. Meningkatkan kualitas karya jurnalistik. Memperluas promosi bahan bacaan ke lapisan masyarakat. Membangun kerjasama dengan lembaga yang memiliki kefokusan edukasi publik. Serta membuka halaman khusus untuk menjalin relasi baru.
Serta memperluas kolaborasi hexahelix atau model kerja sama inovatif yang melibatkan enam aktor utama yaitu pemerintah, akademisi, dunia usaha (industri), komunitas/masyarakat, lintas media massa, dan agregator/regulasi untuk mencapai tujuannya.









Komentar