Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Silaturahmi intelektual atau interaksi, diskusi, dan pertukaran ide antar individu untuk mengembangkan pemikiran, berbagi perspektif, serta memperkaya wawasan dan kecerdasan. Proses itu merupakan bentuk silaturahmi profesional atau berbasis keilmuan yang berfokus pada kolaborasi, pemecahan masalah secara bersama atau menjadi bagian dari pertumbuhan intelektual di masyarakat.
Organisasi Profesi (Orgprof) Jurnalis Independen Bersatu yang memiliki program memperingati hari besar yang ada di Dunia atau Nasioanal. Secara rutin melaksanakan “Dialog Pembangunan Bangsa” secara langsung atau berbasis digital, menghadirkan narasumber dari berbagai tokoh yang berhubungan dengan momen tersebut.
Tahun ini dalam rangka memperingati Hari Perempuan Internasional (International Women’s Day) 2026 yang diperingati setiap tanggal 8 maret, organisasi profesi Jurnalis Independen Bersatu membahas tentang “Al-Ummu Madrasatul Ula” (Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya), pepatah Arab klasik yang erat dengan ungkapan penyair Mesir terkenal, Hafiz Ibrahim. Menjadi bagian referensi dalam membangun rumah tangga.

Narasumber pertama, Dr. Ny. Hj. Umnia Labibah, S.Th.i., M.Si., dari Bidang Keagamaan Jamiyyah Perempuan Pengasuh Pesantren dan Mubalighoh menjelaskan syair itu berhubungan dengan ayat Alquran surat Ar-Rum ayat 30, bahwa manusia diciptakan Allah SWT dengan fitrah-Nya.
فَأَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا ۚ فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا ۚ لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَٰكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ
“Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada peubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.”
Dan hadis Nabi yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah RA.
اَنَّ رَسُوْلَ اللهِ قَالَ مَا مِنْ مَوْلِدٍ اِلَّا يُوْلَدُ عَلَى الْفِتْرَةِ فَاَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ اَوْ يُنَصِّرَانِهِ اَوْ يُمَجِّسَانِهِ
Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda: tidak ada seorang manusia yang terlahir kecuali Dia terlahir atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi Yahudi, Nasrani, ataupun Majusi.
Hadist yang sangat populer itu menegaskan bahwa sesungguhnya semua manusia lahir dalam keadaan suci. Ibarat kertas, semua manusia itu terlahir seperti kertas putih atau tanpa noda.
Untuk orang islam, kedua penjelasan tersebut dapat dimaknai anak adalah titipan Alloh yang akan meneruskan sujud kita, sebagai hamba kepada sang Penciptanya.

Ketika proses tarbiyah kepada anak-anaknya, seorang ibu seharusnya menyempurnakan proses ikhtiarnya dengan tirakat khusus untuk mereka.
“Berdasarkan sejarah jejak tokoh nasional yang ada di Indonesia. Dibalik kesukesan mereka ada seorang ibu yang rajin berpuasa berhari-hari sebagai tirakat untuk masa depan anak-anaknya atau ada istri yang memiliki peran khusus untuk mensukseskan suaminya. Bahkan kalau di lingkungan pesantren, tirakat seperti membacakan Al Fatihah atau membacakan tasbih menjadi ritual khusus di waktu sunyi. Misalnya punya anak 5, maka harus ada lima tasbih dikhususkan untuk setiap anaknya” ungkapnya.
Sehingga ada penjelasan Surga ditelapak kaki ibu, itu karena ikhtiarnya atau doanya yang cenderung lebih cepat menembus ke Langit.
Sangat pentingnya peran sang ibu, selaras dengan ungkapan yang masyhur sering disampaikan kepada publik:
لْمَرْأَةُ عِمَادُ الْبِلاَدِ إِذَا صَلُحَتْ صَلُحَتِ الْبِلاَدُ وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَتِ الْبِلاَدُ
“Wanita adalah tiang Negara, apabila wanita itu baik, maka akan baiklah Negara, dan apabila wanita itu rusak, maka akan rusak pula Negara.”
Dari berbagai fakta, Ibu yang soleh cenderung lebih mampu mendidik anaknya menjadi soleh, tetapi belum tentu bagi seorang bapak yang soleh. Karena seorang anak di masa pertumbuhannya atau sebelum lahir sudah dalam proses didikan secara langsung oleh ibunya. Setelah lahir juga hingga memasuki masa anak-anak, mereka menghabiskan waktu lebih banyak dengan ibunya. Maka ibu yang memiliki afifah, kedisiplinan, ketelitian, kepandaian, kejiwaan yang matang, senantiasa mujahadah dan riyadoh akan lebih berpengaruh positif terhadap karakter anaknya. Untuk mewujudkan karakter seperti itu, seorang ibu perlu dibuat nyaman, bahagia di rumahnya atau oleh keluarganya.
Dr. Ny. Hj. Umnia Labibah, S.Th.i., M.Si., yang saat ini aktif sebagai Sekertaris Komisi Pemberdayaan Perempuan, Keluarga dan Remaja Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Banyumas menyampaikan ada banyak program yang dijalankan untuk mengoptimalkan “Al-Ummu Madrasatul Ula”. Mulai dari parenting untuk orang tua atau pengajian rutin bersama gabungan organisasi wanita yang di daerah, bimbingan pranikah untuk para pemuda/i dan pencegahan pergaulan bebas di kalangan remaja.
Berhubungan dengan “Al-Ummu Madrasatul Ula” (Ibu adalah sekolah pertama bagi anaknya), Nikmatus Sholikah, S.I.Kom., M.I.Kom., Presiden Komunitas Jurnalis Berhijab (KJB) Indonesia, periode 2019-2021 dan Peraih Indeks Prestasi Komulatif (IPK) 4.00 Summa Cumlaude sebagai wisudawan terbaik di tingkat Universitas Brawijaya dari jurusan Magister Ilmu Komunikasi tahun 2021.
Setelah menyimak syair tersebut, menurut saya, seorang ibu memiliki peran penting dalam kehidupan seorang anak. Ketika bayi terlahir didunia, wajah yang dia lihat dan suara pertama yang didengar adalah ibu. Anak akan mengenal Dunia dan berbagai hal mendasar sebagai manusia, seperti pendidikan karakter, etika, moral dan agama dari orang tuanya, terutama ibu. Ibu memiliki peran yang sangat luar biasa bagi anak, sehingga ia harus memiliki pengetahuan yang luas, kematangan emosi dan ilmu yang mumpuni untuk membimbing anaknya.
Sebagai ibu yang memutuskan menikah setelah lulus S2, dirinya mengungkapkan banyak hal yang perlu disyukuri dari capain saat mempersiapkan diri sebelum menikah atau setelah memiliki anak.
Untuk kita bisa menjadi mahasiswa berprestasi, tentunya kita patut mempersiapkan banyak hal dengan belajar yang giat, hal yang sama juga bisa kita lakukan sebelum dan setelah menjadi seorang ibu. Menikah dan memiliki anak setelah berhasil menempuh Pendidikan Magister dengan nilai sempurna, bekerja sebagai Jurnalis Televisi Nasional, serta menjadi aktivis Muslimah, melatih kepekaan sosial saya dan membentuk kematangan emosi, setelah menjadi seorang ibu. Ibu yang berkualitas adalah sebuah keharusan, bukan pilihan. Anak akan menjadi generasi penerus yang berkualitas, jika lahir dari seorang ibu yang berkualitas.

Ibu yang berkualitas bukan hanya dilihat dari IQ seperti pencapaian akademik saja, namun lebih kepada keseimbangan EQ (Emosional) dan SQ (Spiritual). Ketika ibu hanya memiliki IQ tinggi namun, emosi mereka labil dan kedekatan dengan agama kurang maka anak juga akan tumbuh dengan kesulitan memahami emosi diri dan sukar memaknai nilai kehidupan. Wanita yang menyandang gelar sebagai “ibu”, sejatinya memiliki tanggung jawab besar dan kompleks untuk membesarkan anak. Sehingga berbagai perisiapan harus dilakukan sebelum memutuskan memiliki seorang anak.
Setelah berhasil menjadi calon istri yang memiliki prestasi khusus di jenjang pendidikan perguruan tinggi, dirinya membagikan kriteria calon suami yang diprioritaskan sebelum memilihnya.
“Ketika seorang wanita berpendidikan tinggi memahami bahwa menikah adalah bukan hanya menyatukan dua insan yang saling mencintai, namun lebih pada membangun keluarga harmonis, sakinah dan saling mengisi, maka wanita akan lebih selektif dalam memilih calon suami. Pertama, pria yang mengenal Tuhannya dan menjalankan perintah agama. Ke-dua memiliki kesamaan dalam visi misi dalam membina rumah tangga. Ke-tiga memiliki tanggung jawab penuh sebagai seorang kepala rumah tangga. Ke-empat adalah pria yang memiliki kasih sayang penuh untuk keluarganya. Ke-lima adalah sekufu yaitu memiliki latar belakang pendidikan dan keluarga yang tak jauh berbeda dan ke-enam setia dengan satu wanita,”ucapnya
Sebagai lulusan magister ilmu komunikasi dan praktisi public relations, ada prinsip-prinsip komunikasi yang selama ini dijalankan untuk membangun keluarga yang harmonis.
“Sebagai lulusan Magister Ilmu Komunikasi saya memahami proses komunikasi sejatinya adalah proses penyampaian pesan, gagasan, baik verbal maupun/nonverbal dari komunikan (pengirim pesan) ke komunikator (penerima pesan) untuk memperoleh pemahaman bersama atau mengubah perilaku. Secara teori proses komunikasi mungkin terdengar mudah, namun mempraktikan hal tersebut cukup menguras tenaga, otak dan emosi ketika masing-masing individu mengedepankan ego masing-masing. Saat kita menikah bukan hanya soal saya atau kamu, namun kita sebagai suami istri atau ayah dan ibu. Sehingga keselarasan dalam menciptakan komunikasi yang efektif sangat diperlukan untuk membina rumah tangga yang harmonis” jelasnya

Menurut saya, komunikasi yang efektif adalah satu kunci kelancaran dalam membina rumah tangga. Teori komunikasi yang cenderung cocok diaplikasikan Adalah “Teori Komunikasi Interaksional” yang di populerkan oleh Wilbur Schram. Dalam teorinya, komunikasi dipandang sebagai komunikasi dua arah, pengirim dan penerima pesan bergantian peran untuk menciptakan makna bersama, serta memberi umpan balik dalam konteks prikologis maupun fisik. Teori ini terlihat ketika suami istri berbicara dengan saling memberikan pendapat satu sama lain, bukan hanya satu arah saja. Mereka juga harus tau kapan waktu yang tepat ketika harus menyampaikan pesan, untuk menciptakan komunikasi yang efektif.
Sebagai akademisi dan seorang wanita yang memiliki keilmuan jurnalistik yang sering membahas dan mencari solusi dari berbagai masalah sosial, dirinya berpesan kepada generasi muda tentang persiapan menuju membangun rumah tangga.
Sebagai seorang wanita yang berpendidikan dan aktif didunia sosial, saya melihat banyak anak muda yang menikah hanya ingin merasakan sebagai raja dan ratu sehari, memikirkan bagaimana membuat pesta pernikahan mewah dan menarik, tanpa memikirkan hal apa yang dialami setelah menikah. Padahal setelah melalui proses pernikahan, itulah kehidupan pernikahan yang sebenarnya.
“Kalian akan hidup bersama dengan orang baru dengan berbagai karakter yang tidak jarang baru kalian ketahui setelah menikah. Banyak kasus perceraian hanya dalam hitungan bulan, bahkan hari, karena mereka tidak mempersiapkan diri secara “matang” sebelum memutuskan menikah” ungkapnya
Hal penting yang harus dipersiapkan bagi para pasangan muda yang ingin menikah adalah “ilmu dasar dalam membina rumah tangga”. Berbagai lembaga sudah menyediakan pendidikan “pra-nikah” yang memberikan ilmu terkait agama, psikologis, finansial dan kesehatan yang patut dipelajari sebelum menikah. Sehingga ketika ada masalah, kita tau apa yang harus kita lakukan. Ketika kita menikah dengan pasangan kita, bukan hanya memiliki kekasih dengan berbagai kelebihannya, namun juga kekurangan dan trauma yang Dia miliki, sehingga sangat penting untuk memahami satu sama lain.
Kesimpulannya, kehidupan pernikahan tidak sesederhana yang kita fikirkan, sehingga persiapan maksimal secara keilmuan dan kematangan emosi wajib dimiliki bagi para pasangan yang ingin menikah dan membina keluarga yang harmonis dan bahagia hingga akhir hayat.








Komentar