oleh

Berbekal Literasi, Putra Daerah Tasikmalaya Ripki Albabila Ukir Prestasi Internasional dan Nasional

Pewarta: Dwi Arifin

(Koran SINAR PAGI)-, Prestasi membanggakan kembali ditorehkan putra daerah asal Desa Singasari, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya. Ripki Albabila, mahasiswa Jurusan Fisika UIN Sunan Gunung Djati Bandung sekaligus Duta Baca Jawa Barat, berhasil meraih Best Speaker dalam 4th International Conference on Magnetism and Its Applications (ICMIA) 2026 di Malang serta menjadi Finalis Genera Z Berbakti 2026 yang diselenggarakan oleh BCA di Jakarta.

Pencapaian tersebut menjadi bukti bahwa literasi tidak berhenti pada aktivitas membaca, tetapi dapat menjadi fondasi untuk membangun kemampuan berpikir, berkomunikasi, berkolaborasi, dan berani mengambil kesempatan. Bagi Ripki, perjalanan sebagai Duta Baca Jawa Barat menjadi bagian penting dalam membentuk kapasitas dirinya hingga mampu bersaing di ruang akademik maupun kompetisi tingkat nasional.

Dari Literasi Menuju Panggung Internasional

Prestasi internasional Ripki diraih melalui keikutsertaannya dalam 4th International Conference on Magnetism and Its Applications (ICMIA) 2026 yang diselenggarakan di Malang. Dalam konferensi tersebut, Ripki mempresentasikan hasil penelitian di bidang fisika material dan magnetisme di hadapan akademisi dan peserta dari berbagai latar belakang. Kemampuan dalam menyampaikan gagasan ilmiah secara komunikatif dan meyakinkan mengantarkannya meraih penghargaan Best Speaker.

Bagi Ripki, kemampuan tersebut tidak terbentuk secara instan. Pengalaman sebagai Duta Baca Jawa Barat membuatnya semakin memahami bahwa literasi memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar membaca buku.

Literasi, menurutnya, merupakan kemampuan untuk menyerap informasi, mengolah pengetahuan, membangun gagasan, kemudian menyampaikannya kembali kepada orang lain secara bermakna. Kemampuan itulah yang kemudian menjadi bekal ketika ia harus menyampaikan gagasan penelitian dalam forum internasional.

“Bagi saya, literasi bukan hanya tentang seberapa banyak buku yang kita baca, tetapi tentang bagaimana informasi yang kita dapatkan mampu membentuk cara berpikir dan keberanian kita untuk menyampaikan gagasan. ICMIA menjadi salah satu ruang bagi saya untuk mengaplikasikan kemampuan tersebut dalam forum internasional,” ujar Ripki Albabila.

Ia menilai pengalaman di dunia literasi dan pengalaman akademik saling melengkapi. Membaca membangun wawasan, penelitian melatih kedalaman berpikir, sedangkan forum ilmiah melatih kemampuan untuk mengomunikasikan gagasan.

“Ketika akhirnya mendapatkan Best Speaker, tentu saya sangat bersyukur. Namun, bagi saya, penghargaan itu bukan sekadar tentang kemampuan berbicara di depan orang lain. Ada proses panjang dalam membaca, belajar, berdiskusi, menulis, melakukan penelitian, dan terus melatih diri untuk berkomunikasi,” lanjutnya.

Dari Budaya Literasi Menuju Kompetisi Nasional

Perjalanan Ripki tidak berhenti di panggung internasional. Ia kembali menunjukkan kapasitasnya dalam ajang Genera Z Berbakti 2026 yang diselenggarakan oleh BCA di Jakarta.

Dalam kompetisi tersebut, Ripki berhasil melaju hingga babak final setelah bersaing dengan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. Pada tahap final, ia juga berhadapan dengan peserta dari Universitas Gadjah Mada (UGM) dalam kompetisi yang mempertemukan mahasiswa dari berbagai kampus nasional.

Bagi Ripki, pengalaman tersebut kembali menunjukkan bahwa kemampuan yang dibangun melalui literasi dapat diterapkan dalam berbagai ruang. Kemampuan membaca situasi, memahami persoalan, mengolah informasi, menyusun gagasan, serta menyampaikannya secara persuasif menjadi bagian penting dalam menghadapi kompetisi.

Ia juga membawa semangat literasi ke dalam gagasan yang dikembangkan dalam kompetisi tersebut. Baginya, menjadi generasi muda bukan hanya tentang memiliki prestasi akademik, tetapi juga tentang kemampuan memahami persoalan di sekitar dan menghadirkan gagasan yang dapat memberikan manfaat bagi masyarakat.

“Literasi membuat kita tidak hanya menjadi orang yang tahu, tetapi juga belajar memahami. Dari memahami, kita bisa berpikir, kemudian bergerak dan memberikan solusi. Saya kira itulah yang membuat literasi memiliki hubungan yang sangat erat dengan kepemudaan dan pengembangan diri,” ungkap Ripki.

Menjadi Duta Baca Jawa Barat dan Membawa Semangat Literasi

Sebagai Duta Baca Jawa Barat, Ripki memiliki ruang yang lebih luas untuk berinteraksi dengan masyarakat, khususnya generasi muda. Pengalaman tersebut membuatnya melihat secara langsung bahwa setiap anak muda memiliki potensi yang dapat berkembang ketika diberikan akses, kesempatan, dan lingkungan yang mendukung. Peran tersebut juga menjadi pengingat bagi dirinya bahwa prestasi personal seharusnya dapat memiliki dampak yang lebih luas.

“Ketika saya dipercaya menjadi Duta Baca Jawa Barat, saya belajar bahwa literasi bukan hanya tentang diri sendiri. Ada tanggung jawab untuk mengajak orang lain agar memiliki keberanian untuk membaca, belajar, dan berkembang. Karena itu, setiap pencapaian yang saya raih sebisa mungkin ingin saya jadikan sebagai contoh bahwa proses belajar bisa membawa kita ke banyak tempat,” tuturnya.

Menurut Ripki, budaya membaca dan belajar seharusnya tidak dipandang sebagai kegiatan yang hanya berkaitan dengan dunia akademik. Literasi dapat menjadi modal bagi anak muda untuk mengenali potensi diri, memahami dunia, membangun jejaring, serta mengambil keputusan mengenai masa depan.

Dari Desa Singasari Membawa Nama Tasikmalaya

Di balik berbagai pencapaian tersebut, terdapat identitas yang selalu dibawa Ripki dalam setiap langkahnya, yakni sebagai putra daerah Kabupaten Tasikmalaya. Lahir dan tumbuh dari Desa Singasari, Kecamatan Taraju, Ripki menjadikan daerah asalnya sebagai bagian penting dari perjalanan. Baginya, keberhasilan yang diraih bukan hanya tentang pencapaian pribadi, tetapi juga menjadi kebanggaan bagi keluarga, kampus, dan daerah yang membesarkannya.

“Saya selalu merasa bahwa ketika mengikuti kompetisi atau forum, saya tidak hanya membawa nama pribadi. Ada keluarga, kampus, dan daerah asal yang ikut saya bawa. Apalagi saya berasal dari desa. Saya ingin menunjukkan bahwa anak muda dari Kabupaten Tasikmalaya juga memiliki kesempatan untuk belajar, berkembang, dan bersaing di tingkat nasional maupun internasional,” ujar Ripki.

Perjalanan tersebut sekaligus memperlihatkan bahwa keterbatasan geografis tidak seharusnya menjadi batas bagi anak muda untuk bermimpi. Justru dari daerah, seseorang dapat membangun perjalanan panjang melalui pendidikan, literasi, organisasi, dan berbagai ruang pengembangan diri.

Bagi Ripki, literasi menjadi salah satu pintu yang membawanya keluar dari batas-batas tersebut.

“Buku dan pengetahuan membuka cara pandang kita terhadap dunia. Dari sana kita belajar bahwa ada begitu banyak hal yang bisa kita lakukan. Mungkin kita berasal dari desa, tetapi pikiran dan mimpi kita tidak harus berhenti di desa,” katanya.

Prestasi Bukan Akhir, tetapi Bagian dari Perjalanan

Ripki menyimpulkan penghargaan Best Speaker ICMIA 2026 dan keberhasilannya menjadi Finalis Genera Z Berbakti 2026 bukanlah tujuan akhir. Keduanya merupakan bagian dari perjalanan panjang untuk terus belajar, membaca, mencoba, dan meningkatkan kapasitas diri.

Ia berharap pengalamannya sebagai Duta Baca Jawa Barat sekaligus mahasiswa yang berasal dari daerah dapat menjadi motivasi bagi generasi muda, khususnya di Kabupaten Tasikmalaya, untuk tidak merasa minder karena berasal dari daerah.

“Jangan pernah berpikir bahwa karena kita berasal dari daerah, kita tidak bisa bersaing dengan mereka yang berasal dari kota atau kampus besar. Start from where you are, use what you have, and give your absolute best. Karena ketika kita mau membaca, mau belajar, berani mencoba, dan terus berproses, kita akan selalu menemukan jalan untuk berkembang,” kata Ripki.

Dari Desa Singasari, Kecamatan Taraju, Kabupaten Tasikmalaya, Ripki Albabila terus melangkah menuju berbagai ruang pengembangan diri. Perjalanan sebagai Duta Baca Jawa Barat menjadi bagian dari proses tersebut, menghubungkan semangat literasi dengan pendidikan, penelitian, kepemudaan, hingga prestasi. Prestasi di panggung internasional melalui ICMIA 2026 dan keberhasilannya menembus final Genera Z Berbakti 2026 menjadi jejak pengalaman baru dari proses panjang tersebut.

Pada akhirnya, perjalanan Ripki membawa satu pesan sederhana: literasi bukan sekadar tentang membaca halaman demi halaman, tetapi tentang membuka kemungkinan demi kemungkinan. Dari membaca, lahir pengetahuan. Dari pengetahuan, tumbuh keberanian. Dan dari keberanian untuk berproses, seseorang dapat membawa nama daerahnya melangkah lebih jauh.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *