Pewarta: Dwi Arifin
(Koran SINAR PAGI)-, Belajar bahasa Inggris sejak dini sangat dibutuhkan untuk generasi siswa Sekolah Dasar saat ini, selain karena otak anak-anak lebih mudah menyerap bahasa baru (fleksibel), meningkatkan kemampuan kognitif dan menumbuhkan kecerdasan linguistik. Bahasa tersebut dapat menjadi modal tambahan untuk meraih karier di era globalisasi.
Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) resmi meluncurkan Program Pengembangan Kompetensi Guru Sekolah Dasar Mengajar Bahasa Inggris (PKGSD-MBI). Program ini menjadi langkah awal pemerintah dalam menyiapkan penerapan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di jenjang Sekolah Dasar (SD) mulai tahun pelajaran 2027/2028.
Peluncuran program berlangsung di Balai Besar Guru dan Tenaga Kependidikan Provinsi Jawa Barat atau BBGTK Provinsi Jawa Barat, Kota Bandung, Jumat 8 Mei 2026. Melalui program yang berlangsung, Kemendikdasmen menargetkan sebanyak 5.777 guru SD dari 34 provinsi dan 177 kabupaten/kota mendapatkan pelatihan khusus agar memiliki kompetensi mengajar Bahasa Inggris kepada siswa SD.
Direktur Jenderal Guru dan Tenaga Kependidikan (Dirjen GTK) Kemendikdasmen, Prof. Dr. Nunuk Suryani, M.Pd., menyampaikan pelatihan yang dilaksanakan menjadi program perdana dalam rangkaian PKGSD-MBI yang akan dilaksanakan selama tiga tahun ke depan. Para peserta pelatihan akan belajar dari tahap dasar agar mampu mengajarkan Bahasa Inggris kepada siswa SD, khususnya untuk kelas 3 yang menjadi tahap awal implementasi program.

“Pelatihan ini dirancang secara bertahap, praktis, dan aplikatif dengan pendekatan pembelajaran yang mudah dipahami, sehingga guru bisa langsung menerapkannya di kelas. Nanti diterapkan sejak di kelas 3 SD, harapannya untuk piloting ini, Bapak-Ibu nanti akan kami petakan dengan Dinas Pendidikan untuk mengajar di kelas 3,” kata Nunuk.
Pada tahap pertama penerapan tahun ajaran 2027/2028, pemerintah menargetkan sebanyak 58.896 sekolah mulai menerapkan Bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di kelas 3 SD. Jumlah tersebut setara sekitar 30 persen sekolah dasar di Indonesia.
Wakil Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Wamendikdasmen) RI, Prof. Dr. H. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., dihadapan para peserta menegaskan kebijakan ini diambil untuk meningkatkan kemampuan komunikasi Bahasa Inggris siswa Indonesia yang dinilai masih tertinggal dibandingkan negara lain, termasuk di kawasan ASEAN.
“Ini salah satu jawaban dari keadaan, sampai saat ini ranking kemahiran berbahasa Inggris anak didik kita dibandingkan dengan negara-negara lain bahkan khusus di ASEAN masih belum menggembirakan,” ujar Atip.
Menurut Wamen Prof. Dr. H. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., pembelajaran Bahasa Inggris nantinya tidak hanya berfokus pada teori semata, tetapi diarahkan menjadi alat komunikasi aktif bagi siswa sejak usia dini.
“Jangan berhenti hanya sebagai mata pelajaran tapi harus betul-betul sebagai alat untuk berkomunikasi bahasa ini. All beginning is difficult pada awalnya, tapi lama-kelamaan karena sudah dibiasakan, maka akan menjadi sesuatu yang melekat,” kata Atip.
Wamendikdasmen, Prof. Dr. H. Atip Latipulhayat, S.H., LL.M., Ph.D., juga mengarahkan agar para guru menjadi pelopor untuk berbahasa Inggris di lingkungan sesama satu profesi di sekolahnya, lalu di keluarga hingga masyarakat setempat.
Pemerintah juga mendorong para guru mulai menggunakan Bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar mengajar, meski dilakukan secara bertahap dan sederhana. Saat ini, pelatihan difokuskan kepada guru kelas SD yang mayoritas tidak memiliki latar belakang pendidikan Bahasa Inggris.
Menurut Atip, target tahap awal pelatihan belum mengarah pada standar kemampuan tinggi, melainkan memastikan guru mampu mengajarkan percakapan dasar, mendengar, membaca, dan menulis sederhana kepada siswa kelas 3 SD.
“Pelatihan yang kita berikan sekarang adalah mereka mampu mengajar bahasa ini secara sederhana. Mulai dari berbicara, mendengar dan menulis bahasa Inggris secara sederhana untuk anak-anak kelas 3 SD,” ujarnya.
Pemerintah menargetkan kemampuan dasar Bahasa Inggris siswa SD nantinya mencapai level A2 sesuai standar Common European Framework of Reference for Languages pada 2029. Selain guru SD, pemerintah juga akan memperluas program peningkatan kompetensi Bahasa Inggris bagi guru SMP hingga SMA setelah program di tingkat SD berjalan optimal.
Informasi yang dihimpun koransinarpagionline.com di ruang pelatihan pelatihan tersebut, perwakilan peserta terlihat langsung mempraktekan proses belajar mengajar berbahasa Inggris bagi siswanya.
Terlihat saat berbagi pengalamannya dari Nurul Aida, guru SDN 2 Cidadas Purwakarta, mempraktekan mengajar berbahasa Inggris di hadapan para peserta. Dan Setiadi, guru SDN 19 Pabaki Kota Bandung, menceritakan program di Sekolahnya untuk menumbuhkan kemampuan bahasa Inggris anak didiknya melalui English club setiap sabtu, membaca berita dan berdialog berbahasa Inggris dengan teman-temannya.








Komentar