Oleh : N. Kurniasari (Aktivis Muslimah)
Alhamdulillah kita berada di Tahun Baru 1448 Hijriah. Penetapan 1 Muharram pada tanggal 16 Juni 2026 kemarin menjadi renungan bersama. Ditengah gempita perayaannya, sebuah pertanyaan besar tersirat. Peristiwa yang mengingatkan akan Hijrah Rasulullah saw. dari Makkah ke Madinah, peristiwa yang bukan sekedar Hijrah. Tapi, titik balik sejarah umat manusia, sebuah perubahan besar yang bukan hanya bersifat personal, sosial, bahkan sistemik. Tapi, Hijrah yang mampu membangkitkan umat Islam dan menjadi umat yang disegani.
Akan tetapi di bulan Muharram ini, mari kita jujur: Sudahkah kondisi umat Islam saat ini disegani? Apakah mencerminkan predikatnya sebagai umat khairu ummah (umat terbaik)?
Realitasnya, sepanjang tahun, kita dihadapkan berbagai persoalan berat yang terus membelit kehidupan rakyat di dalam negeri. Kita melihat bagaimana kemiskinan struktural kian mencengkeram, fenomena sosial makin rusak seperti maraknya prostitusi anak, bullying, eksploitasi seksual, kekerasan yang kian merajalela juga judi online yang tak kunjung hilang. Kerusakan moral dan kesejahteraan secara masif di hampir seluruh lini kehidupan.
Sementara di tingkat internasional, luka menganga umat Islam belum juga terobati. Genosida di Palestina terus berlangsung di depan mata. Saudara-saudara kita di Gaza tidak hanya menghadapi desingan peluru, tetapi juga dibuat mati kelaparan. Ironisnya, para penguasa negeri Muslim seolah lumpuh, tidak bergerak mengirim pasukan guna menghentikan kebiadaban Zion*s.
1 Muharram 1448 H telah kita lewati, namun kondisi umat Islam masih jauh dari predikat khairu ummah. Seluruh kenestapaan dalam negeri bukanlah tanpa sebab. Ini adalah buah dari penerapan sistem Sekularisme-Kapitalisme. Ketika agama dipisahkan dari kehidupan, standar kebahagiaan pun bergeser. Standar manfaat materi menggantikan halal-haram, sehingga kerusakan merata di seluruh lini kehidupan.
Di sisi lain, lemahnya umat Islam di panggung internasional, termasuk tidak mampunya membela Palestina dikarenakan tidak adanya institusi Khilafah—sebuah perisai tunggal yang seharusnya menyatukan dan melindungi umat di seluruh dunia. Umat Islam hari ini yang berjumlah miliaran terpecah-belah oleh sekat-sekat nasionalisme, membuat mereka lemah di hadapan kekuatan asing juga tak berdaya menolong saudaranya sendiri.
Muharram adalah momentum refleksi yang mampu menyadarkan kita bahwa semua kenestapaan ini akibat jauhnya umat dari aturan Allah, bukan takdir yang harus diterima dengan pasrah. Ini realitas saat umat jauh dari hukum-hukum Allah SWT.
Maka, makna Hijrah hakiki adalah berpindah sistem yakni berjuang untuk hijrah dari sistem kufur Sekularisme-Kapitalisme menuju sistem Islam di bawah naungan Daulah Khilafah.
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa perubahan hakiki tidak diraih dengan instan, tapi membutuhkan perjuangan panjang, konsisten dan berjamaah (terorganisir) sebagaimana yang beliau dan para sahabat lakukan di makkah hingga berhasil menegakkan institusi Islam di Madinah.
Mari jadikan momentum Muharram ini sebagai langkah awal Umat Islam untuk berjuang bersama jamaah dakwah Islam ideologis. Sudah saatnya umat Islam menyatukan visi dan langkah serta mengambil metode dakwah Rasulullah ﷺ untuk berjuang mengembalikan kehidupan Islam secara Kaffah. Karena menegakkan kembali kehidupan Islam dalam naungan Khilafah adalah sebuah kewajiban syar’i sekaligus solusi tuntas atas seluruh problem kemanusiaan saat ini.
WalLaahu’alam bish-showwab








Komentar